Tentang Jiwa dan Pendampingnya
DAN seorang bijak berdiri di tengah kerumunan, lalu berkata: Bicaralah kepada kami tentang Jiwa dan Pasangannya. Maka beliau menjawab dengan suara yang teduh bagai gemericik air di padang gersang:
Lima belas abad yang lalu, tatkala dunia masih menggenggam rantai kegelapan dan memandang wanita bagai bayang-bayang tanpa sukma, Cahaya Kebenaran menyapa bumi. Langit berbisik kepada hati manusia, “Takutlah kamu kepada Tuhanmu, yang menciptakanmu dari satu jiwa yang tunggal, dan darinya Dia menciptakan pasangannya.”
Bila dua insan melangkah bersama dalam ikatan suci, janganlah salah satu di antara mereka berdiri di atas puncak bukit, sementara yang lain berbaring di lembah kehinaan. Karena cinta tidak menuntut kepatuhan yang buta, melainkan penyingkiran tabir yang menyekat dua jiwa. Perasaan mereka adalah sungai dari mata air yang sama; akal dan hak-hak mereka adalah dua sayap pada seekor burung yang tak kan sanggup terbang bila salah satunya dipatahkan.
Lihatlah Sang Al-Muṣṭafā! Di zaman tatkala suara perempuan ditiup angin tanpa bekas, Beliau justru menundukkan kepala dan meminta nasihat dari mereka. Beliau memetik kebijaksanaan dari kedalaman hati perempuan, dan dari sentuhan kasih itu, terlahir keberanian baru. Perempuan yang dulunya bungkam kini memiliki suara untuk berdiri tegak, bersuara manis namun teguh di hadapan ketidakadilan.
Sebab lelaki dan perempuan adalah dua belahan dari satu lagu keabadian. Hanya ketika keduanya saling memandang dengan mata penghormatan dan kasih sayang, ikatan itu akan menjelma menjadi bait-bait doa yang didengar oleh Sang Pencipta Jagat Raya.•
_
Disadur dari Al-Fazl International edisi 15 Agustus 2026, https://alfazl.com/2026/08/15/151831/. Penyunting: Rahmat Ali Daeng Mattiro.

Comments