Risalah Berserah-diri: Saat Sabar Melahirkan Syukur yang Sejati

﷽ 
Assalāmu ‘alaiKum waraḥmatul-Lāhi wabarakātuh. Dengan hormat Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudari di mana pun berada.


Berikut ini, merujuk 🔗 Review Of Religions, adalah saduran dari Khotbah Jumat tanggal 17 Juli 2026 yang disampaikan Imam Jemaat Muslim Ahmadiyyah Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad (Huzur) atba. di Masjid Mubarak Islamabad, Tilford, Inggris, Britania Raya.

DURASI BACA NORMAL ±12 MENIT.

BUMI ini, dengan segala kebaikan yang memancar dari rahimnya, telah dipersiapkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih jauh sebelum manusia pertama menjejakkan kakinya yang fana di atas tanah. Tidakkah itu sebuah kebenaran yang menggetarkan dada? Segala karunia yang tak terhitung jumlahnya dihamparkan hanya demi menyambut kedatangan makhluk bernama manusia.

Maka, adalah suatu kewajiban kodrati, suatu utang kemanusiaan yang paling mulia, bagi manusia untuk tahu diri dan bersyukur kepada Sang Pencipta-Nya. Setiap nabi dan utusan-Nya yang berjalan di muka bumi ini, dari zaman ke zaman, senantiasa membawa obor yang sama: menuntun jiwa-jiwa yang bebal agar sudi menjadi hamba yang tahu bersyukur serta berterima kasih.

Dan, jika sejarah manusia mencari puncak dari segala keagungan budi dalam bersyukur, pandangan kita takkan bisa beralih dari sosok Ḥaḍrat Nabi Muḥammad (Rasūlullāh) ﷺ. Beliau adalah teladan yang bergeming, yang setiap tarikan napas maupun langkah kakinya adalah pengejawantahan dari rasa syukur yang sejati.

Syahdan, dalam sebuah riwayat, ketika beliau ditanya sang isteri, Ḥaḍrat Sayyidah ‘Āisyah r.a. mengapa beliau masih saja bermunajat, bersujud hingga kakinya bengkak, dan berdoa sedemikian rupa, padahal Tuhan telah menjamin baginya segala kemenangan dan kejayaan di dunia maupun akhirat. Dengan keteguhan seorang kesatria rohani beliau menjawab,

“Tidakkah patut saya menjadi hamba yang bersyukur?” —Ḥadīts Riwayat (HR) Bukhāri, “Kitab al-Tahajjud”, ḥadīts №. 1130; HR Muslim, “Kitab Sifat al-Qiyamah”, №. 2819.

Rasa syukur bagi beliau adalah sebuah amalan yang hidup. Beliau tidak hanya menghidupinya sendiri, tetapi juga menitahkannya kepada segenap Sahabat beliau agar selamat dari kekufuran batin.


DALAM bentangan hidup yang penuh cobaan dan air mata ini, Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ pernah bersabda bahwa iman manusia itu sejatinya terbelah menjadi dua paruhan yang tak terpisahkan: kesabaran dan rasa syukur. Maka jelaslah sudah bagi kita yang mau berpikir, bahwa kesabaran yang tak bertepi adalah ibu kandung yang melahirkan rasa syukur. Tanpa ketabahan menahan derita, syukur takkan pernah mewujud dalam jiwa. Iman, dengan demikian, adalah sebuah keutuhan yang dibangun dari keteguhan menanggung beban dan keikhlasan menerima berkah.

Seorang mu’min, dalam pandangan Sang Rasūlullāh ﷺ, adalah makhluk yang paling beruntung nasibnya di kolong Langit ini. Mengapa? Karena, jalan hidup sang mu’min selalu berujung pada kebaikan. Bila angin segar keberuntungan berhembus padanya, dia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya.

Sebaliknya, bila badai kesulitan datang menghantam, sang mu’min tegak berdiri dalam kesabaran, dan itu pun menjelma menjadi kebaikan yang tiada ternilai. Sebab, Allāh yang menguasai alam semesta telah berfirman dalam Kitab-Nya yang Suci,

“Sesungguhnya, Allāh beserta orang-orang yang sabar.” —QS 2–Al-Baqarah: 154.

Dan, Dia menegaskan lagi dalam ayat lain, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” —QS 2:156.

Nah, adakah keberuntungan yang lebih besar di atas dunia ini selain menerima kabar gembira langsung dari Tuhan kita? Segala kemuliaan itu hanya dapat direngkuk oleh mereka yang jiwanya telah ditempa oleh rasa syukur yang tulus.


NAMUN, ketahuilah, hubungan manusia dengan Tuhannya tidak berdiri di ruang hampa. Sang Rasūlullāh ﷺ mengajarkan suatu hukum sosial yang tajam: Siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia, dia takkan pernah bisa bersyukur kepada Allāh.

Ini adalah tarbiyyat yang luar biasa. Ketika rasa syukur telah merasuk dan mengepung seluruh sendi kehidupan, ia akan melahirkan sebuah masyarakat yang indah—sebuah tatanan sosial yang adil dan beradab, yang justru menjadi cita-cita luhur Islām yang dibawa oleh beliau.

Manusia yang kerdil adalah mereka yang tidak mampu bersyukur atas perkara-perkara sederhana. Siapa yang gagal menghargai yang kecil, mustahil dia bisa menghargai perkara yang besar. Di samping itu, merenungkan dan mengingat-ingat limpahan karunia Allāh dalam kesunyian adalah bagian dari bentuk syukur itu sendiri. Sebaliknya, menutup mulut dan menyembunyikan kebaikan-Nya adalah wujud nyata dari kebebalan nikmat.

Berada di dalam rengkuhan Jemaat, bersatu dalam barisan kemanusiaan, adalah sebuah berkah; sementara perpecahan dan permusuhan tak lain adalah azab yang mengerikan.

Pernah dalam suatu masa, Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ kerap menyapa seorang lelaki jelata dan menanyakan kabarnya. Lelaki itu selalu menjawab dengan riang bahwa dirinya baik-baik saja seraya bersyukur kepada Allāh, dan Nabi pun mendoakannya. Namun, pada suatu hari, ketika pertanyaan yang sama diajukan, si lelaki menjawab dengan nada yang mengandung sangsi: dia berkata bahwa dia baik-baik saja sepanjang dia bersyukur.

Mendengar itu, Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ terdiam. Ketika para Sahabat r.a. bertanya mengapa beliau bungkam, beliau menjawab bahwa lelaki itu telah melontarkan keraguan terhadap Tuhannya sendiri. Seolah-olah ada waktu di mana Tuhan alpa dan tidak memberi apa pun untuk disyukuri. Sang Nabi, dengan kelembutan jiwanya yang murni, tak sanggup mendengarkan ucapan yang—meski tanpa sengaja—mengarah pada kekufuran nikmat. —HR Ḥaḍrat Imam Ibnu Abi Dunya r.h., dalam “Asy-Syukru”, hadits №. 38; HR Ḥaḍrat Imam Al-Baihaqi r.h. dalam “Syu‘abul-Īmān”.

Syukur juga menuntut tata krama yang lurus. Jika seseorang menerima kebaikan dari sesamanya, lalu ia mengucapkan terima kasih dan berdoa, “Jazā Kumul-Lāhu aḥsanal-Jazā’ (Allāh membalas Anda dengan balasan yang terbaik)”—maka, ia telah menunaikan hak syukur dengan adil.

Begitupun dalam skala bangsa: Jika Allāh menghendaki sebuah kaum menjadi unggul, Dia akan menganugerahi mereka umur yang efektif dan kemampuan untuk terus bersyukur. Tanpa rasa syukur, suatu bangsa akan membusuk dari dalam dan runtuh ke tanah.

ADA sebuah pelajaran batin yang disampaikan Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ kepada istrinya, Hazrat ‘Āisyah–raḍiyal-Lāhu ‘anhā (r.a.), tentang apa yang akan terjadi di Hari Pembalasan kelak.

Malaikat Jibril telah mengabarkan kepada beliau bahwa Allāh menginterogasi hamba-Nya, “Apakah engkau telah bersyukur kepada orang yang berbuat baik kepadamu?”

Sang hamba, dengan keluguan yang polos, menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tahu kebaikan itu yang sejatinya bersumber dari-Mu, maka aku hanya bersyukur kepada-Mu saja.”

Namun, Allāh Tuhan Yang Maha Adil akan berfirman, “Jika engkau tidak bersyukur kepada hamba-Ku yang menjadi perantara, maka engkau belum bersyukur kepada-Ku.” —HR Aṭ-Ṭabarani dalam kitab Al-Mu‘jam al-Awsāṭ, Jilid IV, №. 3584, oleh Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin ‘Abbas r.a;, HR Ḥaḍrat Imam Al-Baihaqi, dalam Syu'abul Iman, oleh Ḥaḍrat Imam Ali bin Husain (Zainal Abidin).

Inilah ajaran Islām yang membumi, yang mengikat manusia dalam solidaritas sosial yang kokoh.
Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ pun mengajarkan seuntai doa untuk dibaca di kala fajar menyingsing:

اَللّٰهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
[Allāhumma mā aṣbaḥa bī min-ni‘matin aw bi-aḥadim-min khalqiKa faminKa waḥdaKa lā syarīka laKa, falaKal-ḥamdu walaKasysy-syukru]—artinya,

“Ya Allāh, nikmat apa pun yang kuterima di pagi ini adalah dari-Mu semata. Engkau Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, dan bagi-Mu segala puji serta syukur.” —HR Abu Dawud, “Kitābul-Adab”, №. 5073.

Barangsiapa yang mengucapkannya di pagi hari, ia dianggap telah menghabiskan seluruh siangnya dalam bersyukur. Dan, barangsiapa yang melantunkannya di kala malam menjemput sebelum matanya terpejam, ia dinilai telah merengkuh malamnya dalam pelukan bersyukur.

Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ juga membimbing kita untuk terus berdoa agar dijadikan hamba yang banyak berzikir, patuh pada petunjuk, dan dijauhkan dari pikiran-pikiran nista:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِيْ وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِني وَيَسِّرِ الهُدٰى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلٰى مَنْ بَغٰى عَلَيَّ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْنِيْ لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيْبًا، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِيْ، وَأَجِبْ دَعْوَتِيْ، وَثَبِّتْ حُجَّتِيْ، وَاهْدِ قَلْبِيْ، وَسَدِّدْ لِسَانِيْ، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صَدْرِيْ

[Rabbi a’innī wa lā tu‘in ‘alayya, wan-ṣurnī wa lā tanṣur ‘alayya, wamkur lī wa lā tamkur ‘alayya, wahdinī wa yassiril-hudā ilayya, wan-ṣurnī ‘alā man baghā ‘alayya. Allāhummaj-‘alnī syakkārā, laKa dzakkārā, laKa rahhābā, laka miṭwā‘ā, ilaiKa mukhbitan aw munībā. Rabbi taqabbal taubatī, waghsil ḥaubatī, wa ajib da‘watī, wa tsabbit ḥujjatī, wahdi qalbī, wa saddid lisānī, waslul sakhīmata ṣadrī]—artinya,

“Wahai Tuhanku, tolonglah aku dan jangan tolong [pezalim] untuk mencelakai aku; menangkanlah aku dan jangan menangkan [pezalim] atas diriku; buatlah strategi bagiku dan jangan buat makar yang mencelakai diriku; berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; dan menangkanlah aku atas orang yang berbuat zalim kepadaku.

“Ya Allāh, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, banyak takut kepada-Mu, banyak patuh/taat kepada-Mu, serta tunduk pasrah dan kembali hanya kepada-Mu.

“Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, luruskanlah lidahku, dan cabutlah/jauhkanlah kedengkian serta pikiran-pikiran nista dari dadaku.” —HR Imam Abu Dawud, hadits №. 1510; Imam At-Tirmidzi, #3551; Imam Ibnu Majah, #3830; dari Ḥaḍrat Abdullah bin Abbas r.a..

Bahkan dalam urusan sekecil apa pun, seperti selepas menuntaskan hajat jasmani atau buang air, Ḥaḍrat Rasūlullāh berdoa kepada Allāh yang telah menyingkirkan penyakit dan memelihara kesehatannya.

Saat menatap cermin melihat wajahnya sendiri, beliau bersyukur atas rupa dan akhlak yang baik. Syukur adalah pakaiannya sehari-hari.

Nabi juga melarang keras manusia berlagak miskin dan nista dengan memakai pakaian compang-camping jika sebenarnya mereka mampu. “Jika Tuhan telah memberimu kekayaan, biarlah tanda karunia-Nya itu terlihat pada dirimu,” sabda beliau. —HR Abu Dawud, #4063; An-Nasa'i, #5224; dari Ḥaḍrat Malik bin Nadhilah r.a..

Kenakanlah pakaian yang pantas dan bersih sebagai maklumat syukur, bukan untuk kesombongan. Sebab, keangkuhan—yaitu merasa diri lebih tinggi lalu merampas hak-hak orang lain dan merendahkan sesama—adalah tiket pasti menuju kebinasaan. Menjadi elok dan rapi adalah hal yang dicintai Tuhan, karena “Allah itu Indah dan mencintai keindahan” (HR Muslim, #91), asalkan hati tetap tunduk dan menunaikan hak-hak manusia di sekelilingnya.

Rasa syukur ini tidak goyah bahkan di tengah kecamuk perang yang berdarah. Di ladang Badar yang terik, saat kabar tewasnya Abu Jahal—simbol keangkuhan Quraisy—sampai ke telinganya, Sang Nabi memastikannya tiga kali sebelum akhirnya tersungkur bersujud ke tanah, menangis dalam syukur kepada Sang Khalik. Begitu pula saat penaklukan kota Mekah, atau kala berarak di antara bukit Shafa dan Marwah pada Haji Perpisahan, serta saat seluruh suku berbondong-bondong memeluk Islām; sujud syukur adalah reaksi pertamanya atas setiap kabar gembira.

BAGAIMANA manusia piawai merawat rasa syukur ini agar tidak layu dalam dadanya? Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ memberikan dua kunci emas untuk menatap dunia:

Pertama, dalam urusan agama dan ketakwaan, pandanglah mereka yang berada di atasmu, agar engkau terpacu untuk mendaki lebih tinggi.

Kedua, dalam urusan duniawi dan materi, pandanglah mereka yang berada di bawahmu, yang nasibnya lebih malang dan tertatih, agar engkau tahu diri dan memuji Tuhan atas apa yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. —HR Ḥaḍrat Imam At-Tirmidzi r.h., #2512, dari Ḥaḍrat Abu Hurairah r.a..

Akhirul kalam, Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ menyebutkan empat perkara yang jika dihimpun dalam diri seorang manusia, maka dia telah menggenggam seluruh kebaikan dunia dan akhirat:

¹Hati yang tahu bersyukur, ²lidah yang basah karena mengingat Tuhan, ³tubuh yang tabah menanggung penderitaan, dan ⁴seorang istri yang salehah lagi jujur. —HR Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu‘jam al-Kabīr; Al-Baihaqi dalam Syu‘abul-Īmān.

Jelang berakhirnya Khotbah Jumat, Huzur berdoa agar kita semua diberi kekuatan atau taufiq guna meneladani jejak-jejak langkah Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ, berdoa khusus untuk keselamatan serta kelancaran pertemuan tahunan Jalsa Salana Jemaat Muslim Ahmadiyyah Britania Raya yang akan digelar minggu depan, sehingga para sukarelawan-sukarelawati dilindungi dari sengatan cuaca panas ekstrem. Āmīn.✨🙏🏻🤲🏻

Hapunteun, CMIIW. Hatur nuhun, jazā Kumul-Lāhu aḥsanal-Jazā'. Was-salāmu 'alaiKum waraḥmatul-Lāhi wabarakātuh. MuḥabbiKum wad-dā'ī laKum:

Rahmat Ali Daeng Mattiro 📍 Kampung Cisalada, Desa Ciampea Udik, BOGOR 16625, JABAR 🇮🇩; 🗓️ Ahad, 19-JUL-2026; 📱+6285810678106.


Comments

Popular Posts