Memuliakan Tamu: Pohon Keimanan dan Adab Para Pencari Keridaan

Pesan Huzur di Jalsah Salanah UK 2026: Keutamaan Melayani dan Memuliakan Tamu
_

BERIKUT ini merupakan sinopsis Khotbah Jumat Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad (Huzur)–ayyadahullāhu Ta’ālā binaṣrihil ‘azīz (atba.) yang disampaikan pada tanggal 24 Juli 2026 di Hadiqatul Mahdi Alton, Hampshire, Inggris, Britania Raya.

DURASI BACA ±7 MENIT.

KHOTBAH ini bertajuk tema dan berisi nasihat serta petunjuk buat para tamu maupun para sukarelawan-sukarelawati atau panitia dari pertemun tahunan Jemaat Muslim Ahmadiyyah atau Jalsah Salanah bahwa memuliakan tamu adalah salah satu ciri-ciri orang yang beriman.

Dengan karunia Allāh SWT, bersamaan dengan penyampaian khotbah, Jalsah Salanah tahun 2026 ini resmi dimulai. Dalam khotbah jumat ini, Huzur menekankan pentingnya pengkhidmatan para panitia kepada para tamu Jalsah Salanah serta memaparkan panduan rohani dan amalan bagi mereka khususnya yang hadir dan buat kita yang menyaksikannya.

HUZUR atba. menyampaikan bahwa para tamu dari berbagai pelosok negeri dan seluruh penjuru dunia telah dan sedang berdatangan untuk menghadiri Jalsah ini. Mereka semua adalah tamu-tamu Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd – ‘alaihissalām (a.s.) yang datang demi tujuan keagamaan yang mulia. Oleh karena itu, melayani para tamu tersebut merupakan sebuah kehormatan dan keutamaan yang sangat istimewa.

Di saat prioritas masyarakat dunia secara umum telah bergeser, para anggota Jamaat yang ikhlas—mulai dari anak-anak, pemuda, pria dewasa, perempuan, hingga para lansia—sangat memahami pentingnya perintah Allāh SWT dan Ḥaḍrat Nabi Muḥammad (Rasūlullāh) – ṣallal-Lāhu ‘alaihi wasallam (ﷺ) untuk memuliakan tamu. Mereka bersedia mengambil cuti tanpa bayaran dari pekerjaan sehari-hari dan mendaftarkan diri secara sukarela.

Secara khusus di Inggris, berkat keberadaan Khilafat, mobilitas orang-orang sangat tinggi sehingga langgar khānah (dapur umum) Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s. beroperasi sepanjang tahun. Banyak anggota yang memiliki bisnis, restoran, atau usaha katering menyisihkan waktu mereka untuk melayani tamu. Namun pada hari-hari Jalsah, skala pelayanan ini berkembang secara masif di mana para tamu yang menempuh perjalanan jauh diurus dan dilayani hingga tiga sampai empat minggu.

Huzur menggarisbawahi bahwa menunaikan hak pengkhidmatannya terhadap para tamu dengan penuh rasa hormat, keramahan, kelembutan, serta menjaga perasaan mereka adalah bagian integral dari keimanan seorang mukmin.

Huzur mengingatkan bahwa perasaan seorang tamu sangat halus dan sensitif, sehingga seluruh sukarelawan-sukarelawati di berbagai divisi—seperti keamanan, dapur, parkir, lalu lintas, kebersihan, hingga pasokan air—harus selalu menunjukkan akhlak yang mulia dan senantiasa memohon pertolongan Allah agar dapat meraih keridaan-Nya. Keindahan dan kedisiplinan sistem kerja sukarela ini juga kerap memukau para tamu non-Ahmadi maupun non-Muslim dan menjadi sarana tablig tersendiri.

UNTUK memberikan gambaran konkret mengenai standar pelayanan tamu, Huzur menyampaikan beberapa riwayat teladan Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s..

Pertama (1/4), perhatian terhadap kenyamanan tamu. Pada tahun 1902, ketika ada tamu yang tiba di Qadian dari kota Batala setelah menembus hujan deras, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. memastikan akomodasi mereka disiapkan dengan baik dan secara pribadi terus-menerus menanyakan apakah mereka membutuhkan sesuatu saat menyantap sarapan yang lezat.

Kedua (2/4), yaitu sikap inklusif dan pengorbanan. Beliau a.s. biasa memindahkan potongan daging dari piringnya ke piring para tamu. Selain itu, beliau menolak usulan untuk membedakan makanan antara tamu kaya dan miskin, seperti menyajikan daging hanya untuk orang kaya dan sup miju-miju/lentil untuk yang miskin. Beliau menegaskan bahwa beliau memiliki ikatan hubungan yang sama dengan seluruh pengikutnya, sehingga semua tamu harus disajikan jenis makanan yang sama agar tidak ada hati yang terluka.

Ketiga (3/4), adalah mengabulkan keinginan tamu. Ketika seorang tamu berkeinginan makan mangga, tak lama kemudian sebuah paket berisi 8 buah mangga tiba. Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. membagikan mangga-mangga tersebut kepada para tamu, bahkan bagian milik beliau pun dipotong-potong untuk dibagikan kembali.

Keempat (4/4), wahyu tentang tamu yang lapar. Suatu malam pada saat Jalsah, seorang tamu yang terlambat, karena ada rapat penting Jamaat, hanya mendapatkan sepotong roti sisa di dapur sekitar pukul 11 malam. Tiba-tiba ada ketukan pintu dan pengumuman agar siapapun yang lapar segera ke dapur untuk makan. Keesokan harinya diketahui bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s. mendapat wahyu dari Allah, “Wahai Nabi, berilah makan orang yang lapar”, sehingga beliau langsung memerintahkan penyediaan makanan malam itu.

Oleh karena itu, Huzur mengingatkan petugas dapur untuk senantiasa siap menyediakan makanan yang layak dan segar bahkan hingga larut malam bagi tamu yang mengalami keterlambatan. Petugas juga harus memastikan kualitas dan aroma makanan agar tidak basi, sebagaimana teladan Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s. yang pernah memerintahkan untuk membuang kuali makanan yang aromanya kurang baik demi menghormati para tamu.

SELAIN kepada para panitia Jalsah Salanah, Huzur memberikan nasihat kepada seluruh tamu yang hadir:

Pertama (1/5), tujuan utama menghadiri Jalsah adalah untuk mendapatkan santapan rohani dan meningkatkan Ketaqwaan. Oleh karenanya, para tamu hendaknya menerima makanan yang disajikan dari Dapur Umum dengan penuh kesabaran, kerelaan hati, dan rasa syukur. Jika terdapat kekurangan atau kelebihan pada makanan, hendaknya ditoleransi dan tidak menuntut hal-hal yang tidak perlu.

Kedua (2/5), tamu diimbau untuk tidak membuang-buang makanan dan hanya mengambil secukupnya. Tamu juga diminta tidak berbondong-bondong pergi ke bazar hingga larut malam yang dapat menyulitkan panitia dan mengganggu keamanan. Selain itu, setiap orang diharapkan menganggap diri mereka sebagai bagian dari tim kebersihan dengan menjaga lingkungan sekitar.

Ketiga (3/5), simaklah acara-acara dengan khidmat. Selama sesi Jalsah berlangsung, seluruh peserta—termasuk para wanita yang berada di tenda anak-anak—hendaknya fokuslah mendengarkan pidato dan persidangan Jalsah dengan penuh perhatian, bukan malah duduk, berkeliaran, mengobrol, atau menimbulkan kebisingan yang mengganggu.

Keempat (4/5), perbanyaklah dzikir dan ibadah. Di waktu-waktu luang, alih-alih melakukan pembicaraan sia-sia, perbanyaklah zikir kepada Allāh, selawat, doa-doa, dan istighfar. Para peserta yang menginap di area Jalsah sangat dianjurkan untuk bangun melaksanakan Ṣalāt Tahajjud serta memanfaatkan waktu untuk mendatangi berbagai pameran keagamaan dan rohani yang diselenggarakan.

Kelima (5/5), jalinlah tali kasih sayang. Kehadiran di Jalsah hendaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan kerukunan, menyebarkan salam, serta menghapuskan segala bentuk permusuhan atau keluhan antar sesama demi meraih keridaan Allāh.

MENGINGAT situasi keamanan terkini di Inggris yang menunjukkan adanya peningkatan sentimen negatif terhadap umat Islām, Huzur mengingatkan seluruh peserta dan sukarelawan untuk tetap waspada dan segera melaporkan hal-hal yang mencurigakan kepada pihak berwenang.

Selain itu, karena cuaca musim panas atau summer yang cenderung kering di Inggris belakangan ini, terdapat risiko kebakaran yang sangat tinggi. Seluruh peserta dilarang keras menyalakan api atau korek api tanpa berkonsultasi dan izin dari pihak berwenang. Pemilik kendaraan tua yang mesinnya cepat panas juga diimbau untuk sangat berhati-hati saat parkir di atas rumput yang kering.

MENGAKHIRI khotbahnya, Huzur berdoa agar seluruh peserta Jalsah Salanah UK 2026 dapat meraih manfaat rohani, keagamaan, dan keilmuan yang sebanyak-banyaknya, memperoleh bagian dari keberkahan Jalsah, serta menjadi sarana untuk memenuhi tujuan utama dari diutusnya Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s..



Comments

Popular Posts