Khalifah: Tidak pernah ada jalan pintas dalam menempuh jalan kerohanian

MUSIM panas hari Sabtu tanggal 13 bulan Juni tahun 2026 sedang merayap pelan di Islamabad, Tilford. Di tanah Inggris yang tenang itu, sekelompok bapak-bapak Majelis Anṣarullāh Wilayah Barat Daya Amerika Serikat yang datang jauh-jauh dari Los Angeles, kota di pesisir Barat Amerika yang penuh dengan hiruk-pikuk keduniawian, bermulaqat, duduk berhadapan dengan Imam Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Mirza Masroor Ahmad (Huzur) – ayyadahul-Lāhu Ta'ālā binaṣrihil-azīz (atba.).

DURASI BACA ±9 MENIT.

Mereka adalah orang-orang yang telah lama melintasi samudra, membawa tubuh dan ingatan mereka dari benua yang mengagungkan kebebasan individu. Namun, di hadapan Huzur, Sang Khalifah kita, mereka tidak bertindak sebagai pemenang zaman modern. Mereka datang sebagai musafir jiwa yang dahaga akan petunjuk: bagaimana menjaga kobaran iman di tengah gulita egoisme dunia baru?

Satu demi satu dari mereka memperkenalkan diri. Di mata mereka terpancar pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup, tentang bagaimana menyelaraskan kewajiban kepada Pencipta dengan kewajiban kepada sesama manusia di atas bumi yang makin dingin ini.


SEORANG di antara mereka maju bertanya. Ia memohon satu prinsip ringkas, sebuah formula ajaib jika ada, agar seseorang dapat meraih kejayaan sejati di dunia maupun dalam urusan iman.

Sang Khalifah menatapnya dengan pandangan yang bening namun tajam, lalu berujar bahwa tidak pernah ada jalan pintas dalam menempuh jalan kerohanian, sebagaimana tidak ada jalan pintas untuk menjadi seorang ahli dalam urusan duniawi. Beliau menunjuk pada latar belakang sang penanya—seorang dokter gigi yang telah bertahun-tahun menghabiskan usianya dalam tempaan bangku sekolah, ujian yang meletihkan, hingga kualifikasi tinggi di Amerika Serikat.

“Lihatlah diri Anda sendiri,” kira-kira demikian perenungan yang ditegaskan. “Berkat ketekunan dan kerja keras bertahun-tahun, Anda baru bisa menjadi seorang tabib. Lalu, bagaimana mungkin seseorang membayangkan dirinya bisa menjadi seorang wali atau sahabat Allāh hanya dengan rapalan beberapa patah kata tanpa laku dan perjuangan atau tekad yang terus-menerus?”

Disiplin iman diletakkan pada lima waktu Ṣalāt yang didirikan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar gerakan tubuh tanpa jiwa. Ṣalāt adalah keteraturan hidup, tempat manusia bersujud dan memohon pertolongan. Namun Ṣalāt yang sejati, lanjut Huzur, tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus berbuah pada pemenuhan hak-hak Allāh dan hak-hak sesama manusia. Barangsiapa yang Ṣalātnya abai terhadap penderitaan sesamanya, maka Ṣalāt itu justru menjadi kehampaan yang ditolak.


PERCAKAPAN kemudian bergeser pada urusan yang tampaknya sepele namun menyangkut kehalusan budi, yaitu Ḍiyafah, yakni urusan jamuan dan hospitality (keramahtamahan). Penanggung jawab jamuan dari Los Angeles mengadukan dilema antara selera generasi tua yang merindukan masakan berrempah khas anak benua India dan generasi muda yang lebih terbiasa dengan lidah Barat.

Sang Khalifah tersenyum, mengajarkan hikmah kesederhanaan dan tenggang rasa. Jika memasak gulai, hendaknya bumbunya diatur agar tidak terlalu menyengat bagi banyak orang. Makanan harus disajikan dengan mempertimbangkan siapa yang hadir—sebagaimana dalam perhelatan besar Jalsah Salanah, di mana hidangan gulai daging dapat berdampingan dengan pasta untuk mereka yang tak terbiasa dengan rempah tajam.

Namun, di balik perkara masakan itu, ada pelajaran moral yang lebih dalam:

“Yang utama bukan hanya apa yang ada di dalam piring, melainkan bagaimana makanan itu disajikan. Jamuan harus dihadirkan dengan wajah yang berseri dan ketulusan hati. Jangan pernah pelayan merasa bahwa memberi makan orang lain adalah beban yang memberatkan pundaknya.”

Makan bersama adalah ikhtiar merawat persaudaraan, dan keramahtamahan adalah garam dan penggurih yang memberi rasa pada kemanusiaan.


KETIKA pertanyaan beralih pada sistem Waṣiyyat —sebuah pranata pengorbanan harta untuk kepentingan jamaah dan masyarakat—seorang muslim Ahmadi membayangkan bagaimana sistem ini akan bekerja jika kelak banyak bangsa memeluk ajaran ini dan menerapkan prinsip ekonomi Islām.

Huzur atba. mengenang kembali seruan yang pernah dicanangkannya sejak dekade lalu. Sistem Waṣiyyat bukan sekadar pengumpulan dana, melainkan peletakan batu pertama bagi Nizam-e-Nau atau Tatanan Dunia Baru sebagaimana pernah diuraikan oleh Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ II Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muṣlīḥ Mau'ūd) r.a..

Harta yang dikumpulkan melalui Candah Waṣiyyat atau Hissa Amad mengalir kembali untuk menopang hidup orang-orang miskin, anak-anak yatim, para janda, mahasiswa yang kehabisan biaya, serta mereka yang sakit dan terlantar. Ia adalah jembatan yang menghubungkan antara ibadah spiritual dan keadilan sosial. Memenuhi Waṣiyyat berarti menjalankan dua tugas sejarah sekaligus: menegakkan syiar agama dan membebaskan manusia dari kemiskinan.


SEORANG penanya mengangkat keresahan tentang zaman Barat yang kian mengagungkan individualisme—paham yang mengajarkan manusia untuk hanya peduli pada diri sendiri dan mengabaikan kesejahteraan bersama. Bagaimana seorang Ahmadi dapat bertahan dari serbuan watak egois ini?

Huzur atba. menjawab dengan nada filosofis yang membongkar anggapan keliru. Mementingkan diri sendiri, mencari hak sendiri tanpa mau menunaikan kewajiban pada orang lain, bukanlah monopoli masyarakat Barat semata. Watak jahat itu tumbuh di mana-mana—di Timur, di India, di Pakistan—ketika manusia mulai berjalan menjauhi Tuhannya.

“Sifat egois lahir saat jiwa manusia mengering dari rasa takut kepada Allah," Huzur menguraikan.

Beliau mengingatkan bahwa dua tujuan utama diutusnya pendiri Jemaat adalah untuk menarik manusia kembali beribadah kepada Allāh dengan benar, dan kedua, untuk menegakkan hak-hak makhluk-Nya. Penelitian dunia pun menunjukkan bahwa orang-orang yang paling dermawan di Barat tetaplah mereka yang memiliki pegangan agama.

Tetapi, Huzur memperingatkan keras, “Tidak ada gunanya telinga kita kenyang oleh pidato-pidato indah di perhelatan besar, jika tangan kita tetap kuncup dan enggan memberi dalam kenyataan sehari-hari. Jika kita tenggelam dalam perburuan duniawi, kita akan menjadi sama seperti orang-orang yang kehilangan jiwa.”

Pelajaran tentang kedermawanan dan pengorbanan ini harus terus diajarkan dan diturunkan kepada anak-cucu, agar nyala kemanusiaan tidak padam ditelan zaman.


PERBINCANGAN dalam mulaqat kian mengalir pula ke persoalan raga, tentang silang pendapat medis mengenai kolesterol dan penyakit jantung antara kedokteran modern dan pengobatan tradisional seperti Ayurveda atau Yunani.

Huzur menanggapi dengan bijaksana. Meskipun peristilahan berbeda, setiap sistem pengobatan yang berniat menyembuhkan selalu menasihatkan pantangan dan pembatasan makan. Bahkan dalam tradisi pengobatan era Kenabian atau Tibb-e-Nabawi, penanganan masalah jantung dan pernapasan pernah menggunakan buah kurma Ajwa yang ditumbuk bersama bijinya.

Di luar urusan obat-obatan, Huzur menunjuk pada laku hidup yang bersahaja: orang yang kian lanjut usianya harus menahan diri dalam memilih makanan. Jika ingin pembuluh darah tetap sehat, tak ada cara lain selain prihatin dan banyak bergerak—berjalan kaki setidaknya lima mil atau 8 kilometer sehari. Raga adalah amanah yang harus dijaga dengan disiplin.


PADA penghujung mulaqat, seorang Anṣar bertanya tentang makna mendoakan Husn-e-Khatimah—akhir hidup yang baik—bagi seseorang yang sedang berada di ambang maut.

Sang Khalifah mengoreksi pemahaman yang keliru itu. Memohon akhir hidup yang baik bukanlah doa yang baru dipanjatkan saat napas sudah di tenggorokan. Ia adalah permohonan yang harus diucapkannya sepanjang hayat, sejak masa belia hingga lansia, saat sehat maupun sakit.

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi di tengah perjalanan hidupnya. Seseorang bisa saja memulai hidupnya dengan kesalehan, namun di ujung usianya pikirannya terpeleset dan membelakangi kebenaran. Karena itulah, dari Ḥaḍrat Anas bin Malik r.a., Ḥaḍrat Rasūlullāh Muḥammad ﷺ mengajarkan doa perlindungan dari kelemahan jiwa: memohon perlindungan dari sifat kikir, rasa malas, kepikunan di hari tua, azab kubur, serta fitnah kehidupan dan kematian.

Doa Pertama dicuplik dari Ḥadīts riwayat Ḥaḍrat Imām Muslim, Ḥadīts №. 4865, diriwayatkan Ḥaḍrat Sa’ad bin Abi Waqaṣ dan atau juga Anas bin Mālik r.a.,

اَللَّھُمَّ اِنِّیْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْکَسَلِ وَاَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْیَا وَ الْمَمَاتِ

[Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-bukhli wal-kasali wa arżalil-‘umuri wa ‘ażābil-qabri wa fitnatil-maḥyā wal-mamāt]—artinya, “Ya Allāh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, rasa malas, pikun di hari tua, azab kubur, serta fitnah kehidupan dan kematian.”

Doa Kedua dari HR Ḥaḍrat Imām Bukhari, hadits №.6369, diriwayatkan Ḥaḍrat Anas bin Mālik r.a.,

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

[Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-hammi wal-ḥazani wal-‘ajzi wal-kasali wal-jubni wal-bukhli wa ḍala‘id-daini wa ġalabatir-rijāl]—artinya, “Ya Allāh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan (kekhawatiran), kesedihan, kelemahan, rasa malas, sifat penakut, sifat kikir, beban utang, dan tekanan/penguasaan orang lain.”

“Jangan seperti orang yang membunuh seratus jiwa lalu berharap bisa menawar keampunan di detik-detik terakhir tanpa ikhtiar bertobat sepanjang hidupnya,” tutur Huzur menegaskan. Doa Ḥusnul-khātimah adalah benteng yang kita bangun setiap hari agar jiwa kita tidak roboh sebelum sampai ke tujuan.


SESI mulaqat itu pun usai. Para Anṣarullāh dari Los Angeles melangkah keluar dari ruangan dengan dada yang lebih lapang. Mereka tidak membawa pulang jimat atau janji-janji kemudahan instan, melainkan sebuah kebenaran telanjang: bahwa hidup adalah perjuangan tiada henti untuk menundukkan ego, melayani sesama, dan menjaga iman hingga napas akhir.•

_
🔗 alhakam.org; penyunting: Rahmat Ali (📍 Kampung Cisalada, BOGOR 16625, JABAR 🇮🇩; 🗓️ Senin, 10-AGU-2026).

Comments