Aplikasikan Rasa Syukur kita di Hari Proklamasi Kemerdekaan NKRI
DURASI BACA ±8 MENIT.
Beberapa petunjuk yang Huzur sampaikan dalam khotbah tersebut, mengutip Review Of Religions, antara lain yaitu,
Pertama, Prinsip Tambahan Nikmat dan Hukum Alam. Mengutip Al-Qur'ān Sūrat (QS) 14–Ibrāhīm ayat 7, “La’in syakartum la-azīdannakum…”—dijelaskan, bahwa ketika seseorang naik derajat atau mendapat limpahan karunia, godaan utamanya adalah kesombongan. Padahal, maqam atau kedudukan itu sejatinya arena untuk makin giat melayani kemanusiaan. Jika kufur nikmat, karunia itu bisa dicabut kembali.
Kedua, Hanya Allāh yang Berhak atas Pujian Mutlak. Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menegaskan bahwa puji-pujian sejati hanya milik Allāh. Mengapa? Karena, Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (min al-'adam), menyediakan sarana hidup tanpa meminta imbalan, serta menepati janji-Nya untuk mengutus sang pembaharu (mujaddid) di setiap awal abad guna merawat cahaya Islām.
Ketiga, Kisah Nyata Perjuangan Batin Ḥaḍrat Miya Abdul-Haqq r.a.. Kendati dihalangi, ditakut-takuti, bahkan disumpahi oleh kerabat dan lingkungannya agar tidak berkunjung ke Qadian, hidayah dan pertolongan Allāh melampaui segala rintangan tersebut sehingga ia tetap teguh memegang kebenaran.
Keempat, Penghargaan kepada Sahabat dan Dokter. Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. memberikan keteladanan dengan mengucapkan terima kasih secara terbuka kepada sang sahabat beliau, Ḥaḍrat Maulana Hakim Nooruddin r.a.. Beliau tidak hanya memuji ketulusan Nooruddin yang menginfakan hartanya untuk syiar Islam, tetapi juga bersyukur kepada Allāh atas keahlian Nooruddin sebagai seorang tabib/dokter yang menyembuhkan rasa sakit banyak orang.
Kelima, Pedagogi Dongeng untuk Anak-anak. Untuk mendidik anak-anak di rumahnya, Al-Masih Al-Mau'ud (as) menceritakan kisah klasik tentang si gundul dan si buta yang diuji oleh malaikat. Si gundul minta rambut dan kekayaan, si buta minta penglihatan dan harta. Ketika malaikat menyamar menjadi pengemis, si gundul yang kikir menolak berbagi hingga akhirnya kembali gundul dan miskin. Sementara si buta dengan tulus berkata, “Semua ini dari Allāh, ambil saja apa yang kau butuhkan.” Allāh pun melipatgandakan berkahnya.
Keenam, Kefakiman dalam Melihat Berkah: Ada catatan menarik soal sudut pandang: ketika bulan Ramaḍān jatuh di musim dingin, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menyikapinya sebagai bentuk kasih sayang Allāh. Sebab, siang hari lebih pendek, rasa lapar tidak terlalu menyiksa, dan energi bisa dipakai untuk bekerja serta beribadah secara optimal.
SEKARANG, apa sih hikmah yang dapat kita petik?
Masyarakat kita ini sering kali mengartikan syukur secara sangat kaku dan formalistis: cukup mengucap “Alḥamdu lil-Lāh” sambil manggut-manggut, tapi sejurus kemudian sibuk mengeluhkan tetangga atau menyalahkan keadaan. Dalam kacamata kearifan, syukur itu bukan sekadar urusan lidah, melainkan kesadaran eksistensial dan kebersihan jiwa.
Coba kita perhatikan, kenapa sih manusia sulit bersyukur? Jawabannya sederhana: Ego dan ketamakan. Begitu seseorang merasa bahwa kepintarannya, kekayaannya, atau kedudukannya adalah hasil jerih payahnya sendiri tanpa campur tangan Tuhan dan bantuan sesama, runtuhlah rasa syukurnya. Dia menjadi sombong. Padahal, kalau kita mau jernih melihat, jangankan harta benda, kedipan mata dan udara yang kita hirup gratis tiap detik ini saja tak akan sanggup kita bayar kalau dihitung pakai tarif rumah sakit!
Hikmah mendalam dari khotbah ini mengajarkan kita tiga standar syukur yang mutakhir:
Pertama, Syukur atas Mata Batin (Basirah): Mampu melihat kebenaran di tengah riuhnya prasangka sosial adalah nikmat rohani yang amat mahal. Ḥaḍrat Miya Abdul-Haqq r.a. bisa saja memilih hidup nyaman menuruti tekanan sosial, tapi mata batinnya memilih kebenaran. Banyak orang cerdas secara akademis, tapi buta hatinya terhadap keadilan dan kebenaran.
Kedua, Syukur kepada Sesama Manusia: Islām yang melangit tidak boleh mencabut kita dari bumi kemanusiaan. Mengaku bersyukur kepada Allāh tapi menepuk dada dan menafikan jasa kawan, sahabat, dokter, atau pelayan masyarakat adalah bentuk kemunafikan terselubung. Ucapan terima kasih Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. kepada Ḥaḍrat Maulana Hakim Nooruddin r.a. menunjukkan bahwa menghargai kontribusi manusia adalah bagian tak terpisahkan dari mengagungkan Tuhan.
Ketiga, Menghadapi Ujian dengan Kelapangan Dadanya Orang Merdeka: Orang yang bersyukur tidak gampang panik. Puasa di musim dingin pun dilihat sisi positifnya. Lah, kalau kita sedikit-sedikit mengeluh—musim penghujan mengeluh, musim Kemarau memaki—ya repot sendiri. Padahal rumus kehidupan itu simpel: Gitu aja kok repot! Terima nikmatnya, gunakan untuk kebaikan sesama, beres perkara.
PADA bagian akhir khotbah, Huzur atba. mengimami Ṣalāt Jenazah Gaib untuk beberapa Anggota Jemaat yang wafat dengan keteladanan hidup yang menggetarkan jiwa.
Coba kita renungkan deretan nama ini:
Yang pertama adalah Yaringana Momini, dari negara Burkina Faso 🇧🇫. Seorang petani sederhana yang tulus. Saat sedang mengolah tanah di ladang, disyahidkan, ditembak secara kejam oleh kelompok teroris. Beliau semasa hidupnya menjadi teladan sebagai sosok yang paling awal tiba di masjid, lantunan Al-Qur'ān-nya kerap terdengar oleh tetangga yang melintas di depan rumahnya, dan tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan atau pertemuan-pertemuan Jemaat meski dalam keadaan kurang sehat.
Yang kedua, Yahya Sumare, dari Mali. Beliau adalah seorang prajurit militer yang syahid, gugur ditembak teroris saat keluar memeriksa keadaan rekan-rekannya. Beliau baiat ke dalam Jemaat Ahmadiyah pada tahun 2022 setelah menghadiri Jalsah Salanah. Akhlaknya yang begitu indah dan curahan duka atas kewafatannya membuat sang ayah tercinta akhirnya ikut mengikrarkan diri masuk dan baiat ke dalam Jemaat Ahmadiyah.
Yang ketiga, Hafiz Shahbaz Ahmad: Mubalig di Pantai Gading yang gigih, ramah, dan pantang menjadi beban bagi orang lain, serta tekun mengajar Al-Qur'an kepada anak-anak.
Keempat, Nawal Tayyab, seorang mubaligh muda di Nigeria yang syahid akibat cedera parah setelah jatuh dari tangga saat menginstalasi antena parabola supaya warga Jemaat bisa menyaksikan dan nobar tayangan langsung Jalsah Salanah Britania Raya 2026.
Kelima, Sirajul Haq Qureshi: Tokoh pengkhidmat dan pendidik senior di Rabwah (Naib Afsar Jalsah Salanah).
Keenam, Master Ghafoor Ahmad: Tokoh dermawan di Kanada yang diam-diam menyantuni orang yang membutuhkan, di mana putranya (Naeem Iqbal) tetap bertahan menjalankan pengkhidmatan Jemaat sebagai Amir Jemaat di Fiji tanpa bisa menghadiri pemakaman sang ayah.
Melihat daftar para syahid dan abdi kemanusiaan tersebut, pikiran kita melayang pada momentum yang sangat bersejarah bagi bangsa kita. Senin, 17 Agustus 2026, Republik Indonesia memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan NKRI yang ke-81.
Apa hubungannya pengorbanan para martir di Afrika dan dedikasi para muballigh itu dengan tasyakuran Kemerdekaan Indonesia?
Sangat erat! Para syahid di Burkina Faso dan Mali adalah korban dari kejahatan fanatisme dan terorisme—sebuah monster radikalisme yang juga menjadi musuh utama kemerdekaan bangsa kita. Para pendiri bangsa kita, Bung Karno, Bung Hatta, Mbah Hasyim Asy'ari, hingga Jenderal Soedirman, merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia bukan untuk mendirikan negara kekerasan yang menindas sesama, melainkan untuk membangun Rumah Bersama yang menaungi seluruh anak bangsa tanpa memandang suku, ras, maupun mazhab keagamaan.
Kemerdekaan NKRI yang kita nikmati hari ini adalah nikmat luhur dari Allāh SWT. Cara bertasyakuran atas kemerdekaan ini bukanlah dengan parade hura-hura yang kosong, melainkan dengan dua hal:
i. Merawat Kemanusiaan dan Kebhinekaan: Menjunjung tinggi kebebasan berkeyakinan dan melindungi hak-hak setiap warga negara dari ancaman kezaliman, kedengkian, dan intoleransi.
ii. Mengisi Kemerdekaan dengan Pengabdian Tulus: Sebagaimana Nawal Tayyab yang rela memanjat atap demi membagikan ilmu, atau Yaringana Momini yang jujur mengolah tanah, tugas kita mengisi kemerdekaan Indonesia adalah bekerja keras melayani rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menebarkan kedamaian (Islām).
Bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai bersyukur atas jasa para pahlawannya dan tidak kufur atas nikmat kedamaian. Mari kita jadikan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026 ini sebagai momentum tasyakuran nasional: memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah).
Sebab pada akhirnya, di hadapan Allāh, bukan label atau atribut lahiriah kita yang dinilai, melainkan seberapa besar rasa syukur, ketulusan, dan manfaat yang telah kita salurkan bagi sesama ciptaan-Nya.•

Comments