Teladan Kesabaran Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ (Ringkasan Khotbah Jumat Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad atba. 7 Agustus 2026)

DUNIA ini adakalanya sering kali bergerak terlalu cepat, bak kereta malam yang melaju melintasi stasiun-stasiun sepi tanpa berniat berhenti. Dan di tengah pusaran yang bising itu, kita sering lupa pada hal-hal kecil yang mengendap di dasar cangkir kehidupan kita: Rasa syukur.

Khutbah Jumat, 7 Agustus 2026 yang Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad sampaikan adalah sebuah pencerahan mendalam, sebuah permenungan tentang bagaimana Ḥaḍrat Rasūlullāh Muḥammad ﷺ meneladani kita, mengajarkan dan mengamalkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.

DURASI BACA ±5 MENIT.

ADA sesuatu yang sangat tenang dari cara Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ menyikapi makanan. Bagi beliau, setiap suap makanan atau seteguk air bukanlah cuma pemuas lapar serta dahaga, melainkan sebuah dialog kecil antara manusia dan Sang Pencipta-nya.

Suatu hari, Beliau masuk ke dalam rumah dan menemukan sepotong roti tergeletak begitu saja. Beliau mengambilnya, membersihkan debu yang menempel, lalu memakannya dengan khidmat. Kepada sang isteri Ḥaḍrat ‘Aisyah – raḍiyal-Lāhu ‘anhā (r.a.), Rasūlullāh ﷺ berpesan dengan lembut agar kita selalu menghargai rezeki—sebab ketika nikmat itu ditarik dari suatu kaum, ia jarang sekali kembali dengan cara yang sama.

— Hadits riwayat (HR) Ibnu Mājaḥ, “Kitāb at-Ta‘ām (Tentang Makanan), Bāb Ta‘ẓīm al-Khubz (Memuliakan Roti)”, oleh Ḥaḍrat ‘Aisyah r.a., “…Perbaikilah sikapmu terhadap (hormatilah) nikmat-nikmat Allāh; karena sesungguhnya, jika nikmat itu telah lepas dari suatu kaum, jarang sekali ia akan kembali kepada mereka.”

Lalu ada kisah pada hari Fatah Makkah. Beliau bertandang ke rumah sepupunya, Ḥaḍrat Ummi Hani r.a.. Beliau lapar, namun yang tersisa di sana hanyalah roti kering yang sudah mengeras. Umm Hani merasa sungkan, tetapi Beliau hanya tersenyum dan meminta roti itu dibasahi dengan air. Ketika ditanya apakah ada kuah, yang tersisa hanyalah sedikit cuka. Beliau menyiramkan cuka itu ke atas roti basah tadi dan berkata dengan tulus, “Cuka adalah hidangan yang sangat baik, dan rumah yang memiliki cuka tidak akan pernah merasa miskin.”

—HR Imām At-Tirmidzī, “Kitāb al-Syamā’il al-Muḥammadiyyah, Bāb Mā Jā’a fī ‘Īsyi Rasūlillāh Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam (Kehidupan Rasulullah ﷺ), ḥadīts №.74 & 142; dan, HR Imām An-Nasā'i, “Kitāb al-Aimān wan-Nuẕūr”, №.3795; diriwayatkan oleh Ḥaḍrat Ummi Hani r.a..

Di zaman sekarang, ketika orang-orang mengeluh hanya karena pakaian mereka tidak lagi relevan dengan tren mode atau makanan di meja kurang sesuai selera, kita sering lupa bahwa rasa syukur punya keajaiban tersendiri. Rasa syukur mampu mengubah hal paling sederhana menjadi sesuatu yang cukup, bahkan melimpah.


RASŪLULLĀH ﷺ tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah mengulurkan tangan kepadanya. Kebaikan mereka tersimpan dalam ingatan beliau seperti melodi lagu tua yang diputar berulang kali di pemutar piringan hitam.

Beliau terus mengenang mendiang sang isteri Ḥaḍrat Khadijah r.a.—perempuan yang memberinya kehangatan ketika dunia terasa dingin dan memusuhinya, perempuan yang menyumbangkan seluruh harta dan menyerahkan kepercayaannya tanpa ragu. Bahkan, bertahun-tahun setelah Ḥaḍrat Khadijah wafat, Ḥaḍrat Rasūlullāh masih sering membicarakannya hingga Ḥaḍrat ‘Aisyah r.a. merasa cemburu. Namun, Rasūlullāh menjawab dengan jujur bahwa tidak ada yang bisa menggantikan posisi Khadijah di hatinya.

Begitu pula kepada Abu Bakar r.a. yang mengorbankan harta dan jiwanya, atau kepada Raja Najasyi dari Abessinia yang pernah memberi perlindungan bagi kaum Muslimin. Ketika utusan dari Abyssinia datang, Beliau berdiri sendiri untuk menyambut dan melayani mereka dengan tangannya sendiri, demi membalas kebaikan masa lalu yang tidak pernah beliau lupakan.

Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ juga mengajarkan, jika seseorang memberimu kebaikan atau hadiah, usahakanlah untuk membalasnya. Jika engkau tak sanggup membalasnya dengan benda, sebutlah kebaikannya di depan orang lain. Menceritakan kebaikan orang lain adalah wujud terima kasih, sedangkan menyembunyikannya adalah bentuk ketidaktahuan diri.


ADA kelembutan yang unik pada cara Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ berterima kasih atas bantuan-bantuan kecil.

Dalam sebuah perjalanan malam, Beliau terkantuk-kantuk di atas untanya dan hampir terjatuh. Seorang sahabat berjalan di sampingnya sepanjang malam, menopang tubuh beliau tanpa bersuara agar beliau tidak jatuh. Ketika beliau terbangun dan menyadari hal itu, beliau mendoakannya dengan hangat: “Semoga Allāh menjagamu sebagaimana engkau telah menjaga Nabi-Nya.”

—HR Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitāb al-Masājid wa Mawāḍi‘ as-Ṣalāh, Bab I‘ādat as-Ṣalāh al-Maktūbah ma‘a al-Jamā‘ah (Peristiwa Tertidur dan Terlewat Shalat Subuh dalam Perjalanan); HR Sunan Abī Dāwūd, №. 439; 
diriwayatkan oleh Ḥaḍrat Abū Qatādah al-Anṣārī r.a..

Di kesempatan lain, ketika seorang sahabat menyajikan segelas air dan mengambil sehelai rambut yang mengapung di dalamnya sebelum menyerahkannya, Ḥaḍrat Rasūlullāh ﷺ tidak melewatkan gestur kecil itu. Beliau mendoakan agar sahabat itu diberi keindahan. Konon, sahabat tersebut hidup hingga usia lanjut tanpa sehelai pun uban di kepalanya.

—Kisah tersebut diriwayatkan dalam buku Al-Mu‘jam Al-Kabīr karya Ḥaḍrat Imam At-Ṭabarānī r.h., Volume 19, halaman 182, №.408; dan, dicatat oleh Ḥaḍrat Imam Al-Haiṯamī r.h. dalam buku Majma‘ az-Zawā’id wa Manba‘ al-Fawā’id, “Bāb Mā Ẓahara fī Sya‘rihī wa Basyarihī wa Linihī, №.14068. Sahabi yang mengambil sehelai rambut dari minuman Rasulullah ﷺ dan menderita kebaikan/keindahan dari doa beliau tersebut adalah Ḥaḍrat ‘Amr bin Al-Aḥwaṣ al-Jusyamī (r.a.) (dalam beberapa jalur riwayat lain juga dikaitkan dengan sahabi Ḥaḍrat ‘Anbasah bin Al-Aḥwaṣ atau ‘Amr bin Akhtab r.a..


SUATU malam yang sunyi, ketika angin berembus pelan di luar kamar, Ḥaḍrat ‘Aisyah r.a. memperhatikan Rasūlullāh ﷺ berdiri beribadah begitu lama hingga kaki beliau membengkak.

“Mengapa engkau menyiksa dirimu seperti ini,” tanya Aisyah lembut, “padahal Allāh telah mengampuni seluruh dosamu yang lalu dan yang akan datang?”

Beliau hanya menjawab sederhana, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

—HR Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, “Kitāb at-Tahajjud, Bāb Qiyāmun-Nabī ﷺ ḥattā tatawarrayam qadamāh, ḥadīts №.1130; Kitāb at-Tafsīr, Surah Al-Fatḥ, №.4837;
diriwayatkan oleh Ḥaḍrat ‘Āsyah a.s..

—HR Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitāb Ṣifāt al-Munāfiqīn wa Aḥkāmimhim, Bāb Iktithār al-A‘māl wa al-Ijtihād fī al-‘Ibādah”, №.2820, dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyah r.a., juga terdapat riwayat senada dari Ḥaḍrat al-Mughīrah bin Syu‘bah –raḍiyallāhu ‘anhu (r.a.) di No. 2819).

Bagi Rasūlullāh ﷺ, rasa syukur bukanlah sekadar kata-kata manis yang diucapkan di bibir setelah makan malam. Rasa syukur adalah usaha yang terus-menerus, sebuah pencarian sunyi untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Di akhir khotbahnya, Huzur memanjatkan doa agar kita semua diberi kemampuan untuk benar-benar memahami arti rasa syukur—menjadi pribadi yang tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil, senantiasa mengingat kebaikan sesama, dan berjalan di bumi ini dengan hati yang tenang dan penuh terima kasih.

Penyunting: Rahmat Ali Daeng Mattiro (📍 Kampung Cisalada, BOGOR 16625, JABAR 🇮🇩; 🗓️ Sabtu, 8-AGU-2026).

Comments