Meneladani Kedermawanan Hadrat Rasulullah ﷺ di Tengah Zaman yang Pelit
Oleh A. Eleanoor ANDAI kita tengok kembali catatan sejarah yang disampaikan oleh Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad atba. lewat kutipan kotbah beliau pada tanggal 18 Maret 2005, kita disuguhkan pada serangkaian ḥadīts ṣaḥīḥ tentang sosok Ḥaḍrat Nabi Muhammad (Rasūlullāh) ﷺ. Di situ disebutkan riwayat dari sahabat Ḥaḍrat Anas bin Malik, Ibnu Umar, hingga Ibnu Abbas – raḍiyal-Lāhu ‘anhum (r.a.) yang sepakat menggambarkan satu hal: Nabi adalah manusia paling rupawan budi pekertinya, paling berani, dan paling royal dalam hal memberi (ajwadan-nās). Nah, asbabul-wurud atau konteks kesejarahan dari lahirnya riwayat-riwayat kedermawanan tersebut, sebetulnya lahir dari realita sosiologis masyarakat Arab kala itu yang cukup unik. Lingkungan gurun yang serba terbatas secara alamiah membentuk watak manusia yang cenderung protektif terhadap kepemilikan material. Siapa yang punya air dan harta, dialah yang bertahan. Dalam kultur materialistis dan suku yang kompetitif seperti i...