Tentang Jiwa dan Pendampingnya
DAN seorang bijak berdiri di tengah kerumunan, lalu berkata: Bicaralah kepada kami tentang Jiwa dan Pasangannya. Maka beliau menjawab dengan suara yang teduh bagai gemericik air di padang gersang: Lima belas abad yang lalu, tatkala dunia masih menggenggam rantai kegelapan dan memandang wanita bagai bayang-bayang tanpa sukma, Cahaya Kebenaran menyapa bumi. Langit berbisik kepada hati manusia, “Takutlah kamu kepada Tuhanmu, yang menciptakanmu dari satu jiwa yang tunggal, dan darinya Dia menciptakan pasangannya.” Bila dua insan melangkah bersama dalam ikatan suci, janganlah salah satu di antara mereka berdiri di atas puncak bukit, sementara yang lain berbaring di lembah kehinaan. Karena cinta tidak menuntut kepatuhan yang buta, melainkan penyingkiran tabir yang menyekat dua jiwa. Perasaan mereka adalah sungai dari mata air yang sama; akal dan hak-hak mereka adalah dua sayap pada seekor burung yang tak kan sanggup terbang bila salah satunya dipatahkan. Lihatlah Sang Al-Muṣṭafā!...