Jangan Takut pada Kata ‘Sosialis’


Saudara-saudara, mari kita duduk sebentar sambil ngopi, saya mau sharing soal grafik dari Financial Times tersebut, yang bersumber dari jajak pendapat The Economist bersama YouGov, dilakukan akhir Juni kemarin di Amerika Serikat. Isinya sederhana saja: berapa banyak orang Amerika yang mau memilih calon pemimpin yang terang-terangan bilang dirinya “democratic socialist”.

Kelihatannya biasa, tapi kalau ditelisik, grafik itu seperti cermin yang memantulkan wajah masyarakat yang sedang berubah. Di kalangan pemilih Demokrat, kira-kira enam dari sepuluh orang bilang “Iya, saya mau”. Sementara di kalangan Republikan, yang bilang “Iya” cuma sekitar lima persen, sisanya hampir semua menggelengkan kepala. Yang independen berada di tengah-tengah, agak ragu-ragu. Secara keseluruhan, orang Amerika yang siap mendukung calon sosialis demokratik masih minoritas, tapi di kubu Demokrat justru sudah menjadi arus utama.

Saya teringat dulu, ketika masih SMP di Kebayoran Lama, saya pernah dengar bahwa komunisme atau “sosialisme” itu adalah kata yang menakutkan, seolah-olah akan datang orang berbaju merah-merah pegang palu-arit yang merampas harta atau aset kita buat negara. Padahal, seperti kata guru-guru, muallim atau muballigh lama, segala sesuatu itu tergantung niat dan cara. Democratic socialism yang dibicarakan orang Amerika sekarang bukan soal merampas, melainkan soal keadilan: jaminan kesehatan, upah yang layak, pendidikan yang terjangkau, dan negara yang tidak membiarkan orang miskin mati di pinggir jalan sementara orang kaya berpesta di langit-langit gedung pencakar langit.

Grafik itu seolah-olah berkata: “Wahai orang-orang yang takut pada kata ‘sosialis’, lihatlah, di negeri yang paling kapitalis sekalipun, sebagian besar pemilih dari partai besar sudah tidak alergi lagi.” Ini menarik, karena Amerika selama puluhan tahun mengajarkan dunia bahwa pasar bebas adalah satu-satunya jalan keselamatan. Tapi ternyata rakyatnya sendiri mulai bertanya: “Kalau pasar bebas, kenapa masih banyak yang lapar? Kenapa biaya berobat lebih mahal daripada mobil?”

Saya tidak sedang mengajak Saudara untuk menjadi sosialis. Saya hanya ingin mengajak berpikir. Sejarah selalu bergerak seperti air sungai: kadang tenang, kadang menggerus tepi. Ketika orang banyak merasa sistem yang ada tidak lagi adil, mereka mencari nama baru untuk harapan. Di Amerika nama itu sekarang “democratic socialist”. Di tempat lain bisa berbeda. Yang penting bukan namanya, melainkan isinya: apakah ia menghormati martabat manusia atau tidak.

Gus Dur dulu kan sering bilang, “Islam itu agama yang ramah, bukan yang marah.” Begitu pula ideologi. Ideologi yang marah hanya akan menghasilkan permusuhan. Tapi ideologi yang ramah, yang mau berdialog dengan kenyataan, bisa menjadi jembatan. Grafik itu, buat saya, adalah tanda bahwa di Amerika pun orang mulai lelah dengan kemarahan, dan mulai mencari jalan tengah yang lebih manusiawi.

Tentu saja angka-angka itu bisa berubah. Politik seperti cuaca Bogor: hari ini halodo, besok bisa dimungkinkan hujan. Tapi yang tidak berubah adalah kerinduan manusia akan keadilan. Selama ada orang yang lapar di samping orang yang kenyang berlebih, selama itu pula ide-ide tentang keadilan sosial akan terus hidup, apa pun namanya.

Jadi, Saudara-saudara, janganlah takut pada grafik. Baca saja dengan tenang, seperti membaca kitab kuning di pesantren. Kita ambil yang baik, abaikan atau buang yang tidak perlu, dan teruslah kita berpikir. Karena berpikir itu ibadah, dan ibadah yang paling utama adalah menjaga agar sesama manusia tidak tertindas.

Wal-Lāhu a‘lam.

Comments

Popular Posts