Dimana Kejujuran?


IMHO, batasan tradisional antara yang "dalam" (privat) dan yang "luar" (publik) telah hancur. Dulu, masa lalu seseorang adalah memori yang tersimpan di dalam pikiran atau laci terkunci. Namun, di era ini, masa lalu dikonversi menjadi data digital yang *memorable dan "siap panggil"*.

Perangkat penyimpanan Google Photos adalah *"Arsip Panoptikon"*. Maksudnya, meskipun sang calon istri mungkin sudah melupakan masa lalunya secara emosional, teknologi tetap menyimpannya sebagai realitas objektif yang bisa meledak kapan saja, menghancurkan narasi masa depan yang sedang dibangun.

Mungkin kita akan melihat video 30 detik tersebut sebagai *Simulakra*. Video itu bukanlah "masa lalu" itu sendiri, melainkan *representasi digital* yang bagi si calon suami jauh lebih nyata daripada sosok calon istrinya yang berdiri di depan mata saat itu.

Kita lebih mempercayai *citra (image)* daripada *realitas fisik*. Bagi si lelaki, kebenaran tentang perempuan di hadapannya langsung digantikan oleh kebenaran yang diproduksi oleh layar ponsel. Eksistensi digital sang istri mengalahkan eksistensi fisiknya.

Pernikahan adalah salah satu "Narasi Besar" (Meta-narasi) tradisional yang melambangkan kesetiaan, kesucian, dan masa depan yang linier. Tapi, tatanan Zaman bisa saja menolak kemapanan narasi ini.

Fenomena itu menunjukkan betapa rapuhnya institusi tradisional tersebut ketika berhadapan dengan fragmentasi informasi. Hanya dengan satu fragmen video berdurasi 30 detik, narasi besar "pernikahan suci" yang disusun berbulan-bulan langsung runtuh. Ini mencerminkan kondisi era di mana kebenaran bersifat tidak stabil, fragmentaris, dan sangat bergantung pada informasi yang muncul di permukaan.

Dalam masyarakat sekarang, segala sesuatu memungkinkan dikomodifikasi, termasuk kenangan. Masa lalu yang seharusnya menjadi bagian dari pendewasaan diri berubah menjadi "jejak digital" yang memiliki nilai politis dalam sebuah hubungan. Ketidakmampuan kita sebagai subyek untuk menghapus masa lalu secara total dari sistem algoritma, ia menciptakan kecemasan konstan—sebuah ciri khas masyarakat kini yang hidup dalam ketidakpastian. Na‘ūdzu bil-Lāhi min dzālik.

Tragedi. Kejadian ini adalah tragedi zaman yang ironis: teknologi yang diciptakan untuk “mengabadikan” momen, malah justru menjadi instrumen yang “menghancurkan” masa depan. Ya. Kita tidak lagi dinilai dari siapa kita saat ini, melainkan dari data apa yang tersisa tentang kita di awan (cloud). Di sini, "Data" telah menjadi hakim moral baru yang lebih menentukan daripada janji di depan penghulu.

Dan, jika kita menyelami lebih dalam ke dalam fragmen yang tersisa dari peristiwa tersebut, kita akan menemukan bahwa yang hilang sebenarnya lebih kompleks daripada sekadar kata "jujur" atau "integritas" dalam pengertian konvensional.

Dalam peristiwa itu, yang pertama kali gugur bukanlah sekadar kejujuran, melainkan *hak seseorang untuk menjadi "baru"*. Di era pra-digital, manusia memiliki kemewahan untuk tumbuh, berbuat salah, dan kemudian meninggalkan kesalahan itu di belakang sebagai kulit lama yang berganti. Namun, dalam prosa sekarang ini, masa lalu tidak pernah benar-benar menjadi "lalu". Ia adalah hantu yang bersemayam dalam algoritma, siap menerkam di saat-saat paling sakral.

Kejujuran yang kita kenal dulu adalah sebuah pengakuan sukarela antara dua jiwa. Namun, ketika teknologi mengambil alih peran sebagai "saksi bisu", kejujuran berubah menjadi *transparansi paksaan*. Si calon istri mungkin merasa masa lalunya sudah selesai, namun bagi sistem penyimpanan awan, waktu bersifat statis. Di sana, integritas tidak lagi diukur dari bagaimana seseorang memperbaiki hidupnya hari ini, melainkan dari bersih atau tidaknya jejak data yang dia tinggalkan.

Kini, kayak ada semacam keintiman yang tercerabut di sana. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai sosok yang utuh dan berproses. Sang lelaki tidak lagi melihat si perempuan yang dia cintai sebagai pribadi yang memilihnya di masa kini, melainkan sebagai obyek dari sebuah video berdurasi 30 detik. Pada titik ini, integritas pribadi dikalahkan oleh *integritas data*.

Kesetiaan di masa kini seolah-olah kehilangan nilainya jika dibandingkan dengan pengkhianatan visual dari masa lalu. Yang hilang adalah *ruang bagi pengampunan*. Dalam dunia yang serba digital, kita kehilangan kemampuan untuk memberi dan membuka ruang maaf, karena bukti fatal keburukan itu tersedia dalam resolusi tinggi, ia dapat diputar ulang, dan selalu terasa "baru" setiap kali ditekan tombol *play*-nya. Iya kan?

Ranah Privasi sebagai Ruang Kedewasaan kian terkikis, mati. Akhirnya, yang hilang adalah *kerahasiaan yang manusiawi*. Zaman telah menyeret dan memaksa kita untuk hidup di bawah lampu sorot yang tak pernah padam. Integritas kini dimaknai sebagai “enggak boleh punya rahasia sedikit pun”, sebuah standar yang nyaris mustahil bagi manusia yang penuh cacat. Gimana ya?

Kita kehilangan *kepercayaan dasar*—bukan karena pasangan kita berbohong, tapi karena kita merasa lebih percaya pada apa yang dikatakan oleh layar daripada apa yang dikatakan oleh mata pasangan kita. Kita akan lebih memilih “kebenaran digital” yang dingin daripada “kebenaran emosional” yang hangat namun penuh celah.

Ya. Pada akhirnya, di lantai gedung pernikahan yang sunyi itu, yang tertinggal hanyalah puing-puing dari sebuah janji yang kalah oleh memori elektronik—sebuah pengingat pahit bahwa pada zaman ini, kita tidak hanya hidup bersama orang yang kita cintai, tetapi juga bersama hantu-hantu digital yang tak pernah tahu cara untuk pamit.

IMHO CMIIW.