Seruan Khalifah (🗓️ 4—6-SEP-2026) agar kita menegakkan Tauhid, Tawakal, dan Kemanusiaan di tengah badai Zaman
Durasi baca ±18 menit (≥2200 kata).
PERADABAN umat manusia hari ini sedang melintasi persimpangan sejarah yang amat krusial. Di satu sisi, kita menyaksikan lonjakan eksponensial dalam capaian ilmu pengetahuan alam, teknologi, serta kemakmuran materialistik. Namun di sisi lain, capaian lahiriah tersebut berbanding terbalik dengan penurunan drastis kualitas akhlaq, kerapuhan rohani, keretakan tatanan keluarga, hingga ancaman disintegrasi geopolitik di tingkat global. Dalam situasi kekosongan jiwa dan disorientasi peradaban ini, bimbingan rohani yang memancarkan cahaya kebenaran Ilahi menjadi kebutuhan eksistensial yang tak dapat ditawar lagi.
Perhelatan Pertemuan Tahunan atau Jalsah Salanah yang diorganisir Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah di Jerman, berlangsung pada tanggal 4 hingga 6 September 2026, menjadi episentrum pembaruan rohani yang memancarkan petunjuk-petunjuk penting bagi dunia kini. Dipandu secara langsung oleh Imam Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Sayyidinā Amīrul-Mu'minīn Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad (Huzur) – ayyadahul-Lāhu Ta'ālā binaṣrihil-azīz (atba.), rangkaian tarbiyyat selama tiga hari berturut-turut tersebut menyajikan cetak biru rekonstruksi akhlaq dan rohani yang sangat komprehensif.
Mulai dari ¹Khotbah Jumat pada tanggal 4 September 2026, dilanjutkan dengan ²Amanat Pidato Khusus bagi Kaum Perempuan (Lajna Ima’illah) pada Sabtu, 5 September 2026, hingga dipuncakinya oleh ³Pidato Penutupan pada Ahad, 6 September 2026, Huzur atba. tidak hanya mengurai akar penyakit rohani manusia sekarang, melainkan juga memberikan terapi pemungkas yang berakar pada Al-Qur'ān serta Sunnah Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ.
I
NASIHAT-NASIHAT dan petunjuk-petunjuk mengenai hakikat tawakal, inqiṭā’ atau totalitas beribadah, dan keteguhan prinsip, menjadi tema besar dalam khotbah jumat Huzur pada tanggal 4 September 2026—🔗 https://youtu.be/PuF2ZS-b5HY?si=QoZHaPfTZ97sVOkQ, pula merupakan fondasi keagamaan dan kerohanian bagi kita. Dengan masih berpayung pada tema keagungan akhlaq Ḥaḍrat Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ yang sebagai pulapuncak kesempurnaan insan atau uswatun ḥasanah, Huzur atba. secara khusus mengupas pilar rohani yang amat vital tersebut dalam kehidupan beragama.
Tawakal mengikis Mimpi Buruk dan Kutuk Laknat Dunia
Huzur atba. mengawali khotbahnya dengan menegaskan bahwa Allāh Ta'ālā (SWT) telah menanamkan seluruh cabang kebaikan dan keluhuran budi di dalam diri Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, siapa pun yang berhasrat membangun kualitas akhlaq dan rohani luhur wajiblah meniti jejak-jejak langkah beliau. Mengutip firman Allah dalam kitab suci Al-Qur'ān Sūrat Al-Aḥzāb dan At-Taghābun [QS 64:14], Huzur menjelaskan bahwa tawakal yang sejati adalah perisai rohani yang membebaskan jiwa manusia dari ketakutan terhadap sesama makhluk, ancaman bahaya, maupun himpitan ujian duniawi.
Mengutip karya monumental Pendiri Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad (Masīḥ Mau’ūd) a.s., berjudul Barāhīn-e-Aḥmadiyyah Jilid II, Huzur atba. menggambarkan betapa tidak ada seorang pun di sepanjang sejarah Nabi-nabi yang memperlihatkan derajat ketawakalan setinggi Rasūlullāh ﷺ, berdiri sendirian di tengah badai permusuhan seluruh Jazirah Arab, mendakwahkan Ketauhidan tanpa rasa gentar sedikit pun terhadap kehancuran fisik atau derita yang diancamkan oleh para penentang.
Syarat mutlak Tawakal: Inqiṭā’ Ilal-Lāh
Satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Huzur atba. melalui uraian sabda-sabda Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. pada buku Malfūẓāt Jilid IV adalah hubungan simbiotis antara Inqiṭā’ ilallāh (mendedikasikan dan memutus keterikatan dari selain Allāh) dengan Tawakkal (ketawakalan hakiki). Huzur menegaskan bahwa Inqiṭā' dan Tawakkal diibaratkan dua saudara kembar. Seseorang tidak akan pernah mampu bertawakal secara murni selama hatinya masih menggantungkan harapan, ketakutan, atau kepercayaan kepada sarana-sarana material dan manusia.
Ketika seseorang telah memutus keterikatannya demi Allāh dan memberikan keutamaan mutlak kepada keridaan-Nya, barulah gerbang kepastian atau yaqīn itu terbuka lebar. Orang yang mencapai derajat ini tidak akan silau oleh kekuatan penguasa, tidak takut dimusuhi kerabat, dan rela mengorbankan harta benda karena ia meyakini bahwa Allāh Mahakuasa untuk menggantinya dengan karunia yang jauh lebih agung.
Praktik Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari dan Keseimbangan Ikhtiar
Untuk membawa konsep rohani ini ke dalam alam nyata, Huzur atba. menyampaikan beberapa petunjuk praktis Rasūlullāh ﷺ, sebagai berikut:
Pertama—Perumpamaan Burung: Burung keluar di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di petang hari dalam keadaan kenyang, bukti bahwa Allāh menjamin rezeki hamba yang bertawakal.
Kedua—Hakikat Kelengahan: Kelengahan sejati bukanlah menikmati hal yang halal, melainkan ketika hati lebih meyakini apa yang ada di dalam genggaman tangannya sendiri daripada apa yang ada di dalam genggaman kekuasaan Allāh.
Ketiga—Kapasitas Rohani: Mengutip kisah Ḥaḍrat Bilāl r.a. yang ditegur karena menyimpan kurma untuk esok hari, Huzur mengingatkan bahwa tingkat ketawakalan dituntut sesuai dengan kapasitas dan beban derajat rohani masing-masing individu.
Secara khusus, Huzur menegaskan bahwa tawakal tidak sama dengan kecerobohan atau meninggalkan ikhtiar. Mengacu pada hadis ṣaḥīḥ terkemuka “Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakallah kepada Allāh!”—
«riwayat dari Ḥaḍrat Anas bin Mālik r.a.; pada hadits Sunan At-Tirmiḏīyy, Ṣaḥīḥ Ibn Hibban, Musnad Aṣ-Ṣiḥab karya al-Quda'i»,
seorang mu'min diwajibkan menggunakan seluruh akal, ikhtiar, dan sarana pencegahan secara maksimal. Setelah sarana dijalankan, barulah hasilnya diserahkan bulat-bulat kepada ketetapan Ilahi.
Keteguhan Prinsip Menolak Oportunisme: Kisah Musailimah Al-Kaḏḏāb
Sebagai bukti puncak betapa Rasūlullāh ﷺ tidak pernah bergantung pada kalkulasi politik atau kekuatan material, Huzur menceritakan penolakan tegas beliau terhadap Musailimah Al-Kaḏḏāb. Musailimah membawa pasukan besar dan menawarkan pengakuan Islām jika beliau bersedia menjadikannya penerus kepemimpinan. Secara kacamata politik praktis, menerima tawaran itu akan menambah kekuatan masif bagi umat Islām. Namun Rasūlullāh ﷺ menolak tegas; jangankan kepemimpinan, bahkan sebatang ranting kurma pun tidak akan diberikan. Beliau bersandar sepenuhnya pada janji Allāh bahwa kebatilan pasti dihancurkan, sebagaimana diisyaratkan dalam mimpi beliau tentang dua gelang emas yang terbang ketika ditiup.
PADA hari kedua perhelatan Jalsah Salanah Jerman, Sabtu, 5 September 2026, https://www.alhakam.org/huzoor-addresses-women-jalsa-salana-germany-2026, Huzur atba. menyampaikan ceramah khusus buat kaum perempuan Jema'ah Muslim Aḥmadiyyah. Bertemakan “Mendahulukan Agama di atas Duniawi”, Huzur atba. membedah tantangan moral yang membelit kaum wanita di era sekularisme modern.
Kesuksesan Duniawi dan Perangkap Materialisme Modern
Huzur atba. mengawali amanatnya dengan menyampaikan rasa syukur atas meningkatnya kesadaran menuntut ilmu di kalangan kaum perempuan muslimat Ahmadi. Beliau menegaskan kembali prinsip dasar Islām yang tidak pernah melarang kaum perempuan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya atau mencapai puncak karier profesional. Islām justru mendorong kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi, Huzur memberikan peringatan tajam mengenai perangkap zaman: di negara-negara Barat dan masyarakat hari ini, godaan Syaitan dan Dajjal berembus sangat kencang. Tidak jarang, pendidikan tinggi, status sosial, dan kesuksesan materialisme itu sendiri justru berubah menjadi tirai penghalang yang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta. Ketika pencapaian duniawi dijadikan sebagai tujuan utama (ultimate goal), maka hakikat Janji Bai’at untuk mendahulukan agama telah ternodai.
Menyucikan Hati: Menghapus Dendam dan Menegakkan Sifat Pemaaf
Mengutip sabda Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s., Huzur mengingatkan bahwa sekadar memiliki hubungan lahiriah dengan orang tua Ahmadi atau berbaiat dan mengaku sebagai pengikut beliau, tidaklah akan memberikan manfaat apa pun jika tidak diiringi dengan amalan saleh. Selain menunaikan hak-hak Allāh melalui ibadah, seorang mukmin sejati dituntut menunaikan hak-hak sesama manusia (Ḥuququl-‘Ibād).
Huzur menggarisbawahi salah satu tanda utama zaman kedatangan sosok Imam Mahdi, yaitu diangkat dan dihapuskannya rasa benci, permusuhan, serta dendam dari dalam hati para pengikutnya. akhlaq mulia tidak diukur dari kebaikan yang kita berikan kepada orang yang berbuat baik kepada kita semata, melainkan dari kesediaan kita untuk memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan manakala orang lain berbuat zalim kepada kita.
Peran Sentral Ibu dalam Mengawal Keluarga dari Disrupsi Digital
Di tengah maraknya arus sekularisme, media sosial, internet, tayangan televisi, dan lingkungan pergaulan yang destruktif, kaum perempuan memiliki tanggung jawab geopolitik-spiritual yang sangat besar di dalam rumah tangga. Rumah tangga adalah benteng pertama dan utama peradaban.
Huzur menyerukan agar para ibu menciptakan atmosfer rumah yang bercahayakan Al-Qur'ān, doa, dan keteladanan nyata. Kaum perempuan Ahmadi dihimbau untuk:
Pertama—Mengkaji dan Mengamalkan Al-Qur'ān: Tidak sekadar membaca atau menghafal, melainkan memahami hukum-hukumnya untuk memperbaiki akhlaq pribadi dan menjadi sarana dakwah atau tabligh.
Kedua—Menegakkan Ṣalāt Berjamaah dan penghayatan Doa-doa: Mengajak anak-anak dan suami untuk menjaga Ṣalāt lima waktu yang didirikan dengan penuh kekhusyukan, bukan sekadar menunaikan kewajiban formal.
Ketiga—Menjaga Identitas Islām: Jauhi ikut-ikutan terhadap gaya hidup sekuler/duniawi yang menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban.
HARI Ketiga (Ahad, 6 September 2026), sebagai puncak dari perhelatan rohani selama tiga hari ini, https://www.alhakam.org/concluding-address-of-jalsa-salana-germany-2026, adalah ceramah penutupan Jalsah Salanah yang mengetengahkan tema “Manifestasi dua pilar misi dakwah Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. dan perbaikan amaliah nyata”. Disiarkan secara langsung ke seluruh belahan dunia melalui Muslim TV Ahmadiyya atau MTA, pidato ini merangkum esensi perjuangan rohani umat Islām di era sekarang.
Penegakan dua Pilar Utama Misi dakwah Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s. sebagai landasan filosofis keberadaan Jama'ah Aḥmadiyyah di dunia ini didengungkan kembali oleh Huzur, yaitu:
Pertama—Menegakkan Tauhid dan Hak-Hak Allah (Ḥuqūqullāh). Yaitu, membawa manusia kembali beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh keikhlasan, mengikis segala bentuk syirik modern—termasuk pementingan materi di atas Tuhan—dan mendirikan Ṣalāt dengan penghayatan mendalam. Dan,
Kedua—Menegakkan Hak-Hak Sesama Manusia (Huqūqul-‘Ibad). Yaitu, menumbuhkan persaudaraan universal, kedamaian, dan kasih sayang. Huzur menegaskan bahwa jika rasa benci dan dengki masih bersemayam di dalam hati anggota Jamaah, maka mereka belum menyerap hakikat rohani dari Janji Bai'at.
Perbaikan Amaliah Nyata daripada Retorika Semata
Satu pesan tajam yang digemakan oleh Huzur ke hadapan hadirin adalah bahwa dunia hari ini tidak akan pernah tertarik kepada Islām atau Aḥmadiyyah hanya melalui retorika, ceramah, atau klaim-klaim verbal. Dunia hanya akan tertarik jika melihat bukti nyata perubahan akhlaq dan kerohanian yang terpancar dari perilaku para pengikutnya.
Jika gaya hidup, ambisi, moralitas, dan tindakan anggota Jama'ah tidak ada bedanya dengan masyarakat sekuler yang mengejar kenikmatan duniawi semata, maka klaim sebagai seorang mukmin atau Ahmadi tidak akan memiliki bobot atau nilai apa pun di hadapan Allāh SWT.
Huzur memungkasi ceramah penutupannya dengan memandu doa bersama dalam keheningan. Beliau berdoa, Allāh SWT mengaruniakan taufiq kepada setiap mu'min untuk memahami tanggung jawabnya, memelihara kesucian ikatan Khilafat, serta menjadi duta kedamaian dan kebenaran Islām di tengah-tengah kegelapan zaman.
II
PETUNJUK-PETUNJUK serta nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Huzur atba. selama tiga hari berturut-turut, jika dibedah secara kritis, pemaparan trilogi bimbingan tersebut merupakan pedoman petunjuk penyelesaian krisis multidimensi yang tengah melanda dunia di tingkat global, regional, maupun nasional.
Pada tingkat global, dunia saat ini tengah dicengkeram oleh krisis geopolitik yang amat parah. Ketegangan antar-negara adidaya, perang berkepanjangan di kawasan Jazirah Arab dan Persia, maupun Eropa Timur, dan Asia Tenggara, juga ancaman Perang Dunia Ketiga diwarnai oleh satu tabiat utama: pragmatisme politis dan oportunisme yang mengabaikan keadilan serta moralitas. Negara-negara besar kerap mengorbankan hukum internasional dan hak asasi manusia demi meraih keuntungan geopolitik, wilayah, atau ekonomi jangka pendek.
Dalam konteks inilah, kisah penolakan Rasulullah ﷺ terhadap Musailimah Al-Kazzāb yang diuraikan Huzur pada Khotbah Jumat 4 September 2026, menemukan relevansi geopolitik yang luar biasa. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kebenaran dan kedamaian tidak boleh dikompromikan dengan transaksi politik jahat atau aliansi opportunis. Jika para pemimpin dunia hari ini bersedia membuang oportunisme, menolak standar ganda, dan memegang teguh prinsip keadilan mutlak tanpa takut kehilangan popularitas politik, niscaya anarki global dapat diredam.
DUNIA global hari ini juga didorong oleh kecemasan kolektif—takut akan krisis ekonomi, kelangkaan energi, dan kekalahan militer. Ketakutan ini memicu perlombaan senjata dan hegemoni ekonomi yang rapuh. Bimbingan Huzur mengenai Tawakkul dan Inqiṭā’ Ilallāh menegaskan bahwa ketergantungan mutlak pada kekuatan material atau pangkalan militer adalah bentuk “syirik kekinian” yang pasti memicu kehancuran. Hanya dengan mengembalikan fokus peradaban kepada Sang Pencipta dan menggunakan sarana duniawi secara jujur dan proporsional—“ikatlah untamu”, dunia dapat menemukan kestabilan sejati.
PADA tingkat regional dan nasional—baik di negara-negara Barat maupun di berkembang seperti Indonesia—masyarakat sedang berhadapan dengan badai disrupsi digital dan sekularisme ekstrem. Penetrasi media sosial, kecerdasan buatan atau AI, dan konsumerisme bebas telah menciptakan fenomena kecanduan layar, erosi nilai-nilai agama, serta masuknya paham hedonisme yang merusak tatanan moral generasi muda.
Peringatan Huzur dalam ceramahnya di Jalsah Salanah kepada kaum muslimat Ahmadi pada Sabtu, 5 September 2026, dan ceramah penutupannya, Ahad, 6 September 2026, secara tepat menunjuk bahwa teknologi dan kemajuan pendidikan dapat berubah menjadi fitnah Dajjal jika tidak diimbangi dengan Ketaqwaan. Ketika media sosial dipenuhi oleh narasi kebencian, pornografi implisit, dan pencarian validasi semu, nasihat Huzur agar rumah tangga dibentengi dengan pengkajian Al-Qur'ān, mendirikan Ṣalāt yang khusyu', serta membatasi pengaruh buruk media menjadi benteng pertahanan nasional yang sangat mendasar.
SECARA nasional di berbagai negara, angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan gangguan kesehatan mental di kalangan remaja meningkat drastis. Penyakit sosial ini berakar dari hilangnya rasa saling memaafkan, tumbuhnya egoisme, dan pengutamaan hak pribadi di atas kewajiban.
Amanat Huzur bahwa “Perdamaian dunia berawal dari kerukunan rumah tangga” memberikan solusi mikro yang berdampak makro. Ketika suami-istri mempraktikkan ajaran Islām untuk membalas keburukan dengan kebaikan, menahan amarah, serta membuang rasa dendam—sebagaimana ditegaskan Huzur sebagai syarat baiat—maka rumah tangga akan melahirkan generasi yang stabil secara emosional dan kokoh secara moral. Bangsa yang kuat hanya dibangun oleh keluarga-keluarga yang sehat secara rohani.
SECARA sosio-spiritual, masyarakat kini sangat mudah terpolarisasi oleh isu-isu suku, agama, ras, dan maupun politik. Fenomena cancel culture, ujaran kebencian, dan diskriminasi antarkelompok merajalela di tingkat nasional maupun internasional.
Penekanan Huzur mengenai pilar kedua misi Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s., yaitu menegakkan Ḥuququl-‘Ibād dan mencabut akar dendam, menjadi terapi psikologi-sosial yang sangat ampuh. Huzur mengingatkan bahwa standar tertinggi akhlaq bukanlah berbuat baik kepada kawan, melainkan memaafkan musuh dan berbuat adil kepada orang yang membenci kita. Jika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka gesekan sektarian dan polarisasi politik yang memecah belah masyarakat dapat disembuhkan.
DI TENGAH menjamurnya komodifikasi agama—di mana simbol-simbol keagamaan sering kali dijadikan sekadar alat politik atau pencitraan lahiriah—seruan Huzur mengenai perbaikan amaliah nyata menjadi pencerahan yang sangat krusial. Umat manusia hari ini muak dengan khotbah-khotbah manis yang tidak disertai dengan integritas moral pengkhotbahnya.
Huzur menegaskan bahwa bukti kejujuran iman seorang mukmin terletak pada kejujuran dalam berbisnis, keluhuran akhlaq di jalan raya, keikhlasan dalam berkhidmat kepada fakir miskin, serta kesetiaan kepada negara dan nilai-nilai keadilan. Inilah ikhtiar nyata untuk menampilkan wajah Islām yang raḥmatan-lil-‘ālamīn di hadapan dunia.
Semoga Allāh SWT melimpahkan taufik dan kekuatan kepada seluruh umat manusia untuk mencerna, menghayati, dan mempraktikkan petunjuk-petunjuk Ilahi ini dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn yā Rabbal-'Ālamīn. 🔚
_
Penyunting: Rahmat Ali Daeng Mattiro (📍 Kampung Cisalada, BOGOR 16625 🇮🇩; 🗓️ Senin, 21-SEP-2026)
Comments