🙏🏼🤲🏼✨🤍 Sandarkanlah seluruh harapan dan kepercayaan kita hanya kepada Allah SWT

 
﷽
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهٗ
[Assalāmu 'alaiKum waraḥmatul-Lāhi wabarakātuh].
Dengan hormat.

Berikut ini merupakan saduran khotbah jumat Imam Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Sayyidinā Amīrul-Mu'minīn Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad (Huzur) – ayyadahul-Lāhu Ta'ālā binaṣrihil-azīz (atba.); 📍Mesjid Mubarak Islamabad, Tilford, Surrey, Inggris 🏴󠁧󠁢󠁥󠁮󠁧󠁿; 🗓️ 2 Oktober 2026.

Khotbah Jumat Huzur atba. kali ini menegaskan hakikat tawakal sejati melalui keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan penyandaran mutlak kepada Allāh SWT, serta mengabadikan teladan kejujuran, ketaatan, dan pengorbanan para pengabdi/pengkhidmat Khilafat.

2386 KATA • DURASI BACA NORMAL ±16 MENIT✨⏱️


SETELAH mengucapkan dua kalimat syahadat serta menilawatkan ta’awwudz dan Al-Qur'ān Sūrat (QS) 1–Al-Fātiḥah, Huzur mengawali khotbah dengan mengetengahkan salah satu pondasi keimanan yang paling krusial dalam kehidupan seorang mu'min, yaitu hakikat tawakal kepada Allāh SWT dan bagaimana hubungan sejati antara kepercayaan penuh kepada Sang Maha Pencipta dengan penggunaan sarana-sarana lahiriah.

Melalui penjelasan yang amat mendalam, Huzur atba. membimbing kita untuk memahami bahwa keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak boleh tergelincir ke dalam dua kutub ekstrem: menyembah sebab-sebab lahiriah hingga melupakan Allāh; atau sebaliknya, meninggalkan usaha dan ikhtiar lahiriah dengan dalih tawakal yang keliru.

MENGAWALI uraian beliau, Huzur atba. mengutip tulisan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. mengenai pengalaman rohani dan perlakuan kasih sayang Allāh SWT sejak awal kehidupan beliau.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menceritakan bahwa ketika ayahanda beliau, Mirza Ghulam Murtaza, menderita sakit parah di akhir hayatnya, pada suatu siang di hari kewafatan sang ayah, beliau menerima wahyu dari Allāh SWT, sebagaimana difirmankan pada QS 86–Aṭ-Ṭāriq ayat ke-2,

“والسّمآءِ والطّارق [was-samā’i waṭ-ṭāriq]”—artinya, “Demi langit dan demi bintang fajar.”

Allāh SWT menghujamkan pemahaman ke dalam kalbu beliau bahwa wahyu ini adalah bentuk taziyah atau penghiburan dan belasungkawa dari Allāh SWT atas kewafatan ayahanda beliau yang ditakdirkan terjadi setelah matahari terbenam. Peristiwa ini terjadi persis sebagaimana yang diwahyukan, di mana sang ayah wafat tepat saat matahari terbenam.

Sebagai seorang manusia, terbersit dalam benak Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. adalah kekhawatiran sesaat mengenai masa depan finansial dan penghidupan keluarga. Mengingat pensiun dan tunjangan pemerintah yang diterima ayahanda beliau akan terhenti seiring kewafatannya, timbullah pikiran apakah masa-masa kesempitan akan menimpa keluarga beliau. Namun, belum sampai satu detik kilatan kekhawatiran itu melintas, Allāh SWT meletakkan kantuk ringan dan menganugerahkan wahyu monumental,

”أَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗ“
[alaisal-Lāhu bikāfin ‘abdah]—artinya, “Bukankah Allah itu Maha Mencukupi bagi hamba-Nya?”

Huzur atba. menjelaskan bahwa wahyu ini serta-merta menganugerahkan ketenangan dan kekuatan jiwa yang luar biasa, seolah-olah luka yang amat pedih seketika sembuh total oleh penawar yang dahsyat. Inilah mukjizat wahyu Ilahi, di mana terdapat kepastian murni bahwa Allāh SWT sekali-kali tidak akan menelantarkan hamba-Nya.


SEBAGAI bentuk kenangan tanda kebesaran Allāh SWT ini, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. meminta seorang warga Hindu Khatri di Qadian bernama Mula Mal untuk menuliskan teks wahyu tersebut. Teks itu kemudian dikirimkan ke Amritsar melalui Maulwi Muhammad Syarif Kalanuri untuk diukir pada sebuah batu akik cincin dengan biaya lima rupis.

Langkah ini diambil oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. semata-mata agar Mula Mal dan Maulwi Muhammad Syarif menjadi saksi sejarah atas nubuat yang amat agung tersebut.

Pada masa wahyu itu turun, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. adalah seorang yang sama sekali tidak dikenal, tinggal di desa terpencil Qadian tanpa sumber penghasilan yang pasti. Namun, Allāh SWT memenuhi janji-Nya dengan membukakan pintu-pintu kemudahan finansial dan penerimaan dunia yang tak terhitung jumlahnya:

Dari kondisi tidak berpenghasilan, Allāh SWT mengalirkan bantuan keuangan hingga ratusan ribu rupis untuk menyokong dakwah. Pengeluaran untuk dapur umum atau langgar khānah saja mencapai ribuan rupis setiap bulannya, belum termasuk pembiayaan madrasah dan pencetakan buku-buku.


KEMUDIAN, Huzur atba. memaparkan keteladanan Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. dalam mempertahankan kejujuran murni tanpa sedikit pun goyah demi alasan taktis atau hukum duniawi.

Dalam kasus tuduhan percobaan pembunuhan yang direkayasa oleh Martin Clark, pengacara Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. yang merupakan seorang non-Ahmadi, Maulwi Fazaluddin, menyarankan agar beliau memberikan pernyataan teknis hukum tertentu untuk mengamankan posisi beliau di persidangan.

Namun, ketika membaca draft pernyataan tersebut, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. dengan tegas menolaknya dan bersabda, “Di dalam pernyataan ini terdapat kedustaan. Allāh SWT tidak pernah mengizinkan seorang hamba untuk berbohong. Menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan yang sejati adalah apabila saya demi meraih keuntungan hukum yang tidak sah, justru membuat Tuhan saya murka. Hal itu tidak akan pernah bisa saya lakukan, apa pun yang akan terjadi!”

Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menegaskan kepada sang pengacara bahwa kepercayaan dan ketawakalan beliau sepenuhnya tertuju kepada Allāh SWT Yang Maha Melihat isi hati. Hasil dari kejujuran dan ketawakalan mutlak tersebut, Allāh SWT membebaskan beliau dari segala tuduhan. Pengacara non-Ahmadi itu sendiri akhirnya mengakui dengan rasa takjub bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. adalah seorang ṣiddīq atau benar-benar jujur yang memiliki keagungan moral yang tiada tandingannya.


MENGUTIP catatan Ḥaḍrat Mufti Muhammad Sadiq r.a., Huzur atba. menerangkan perbedaan pandangan antara manusia duniawi dan pandangan Ilahi mengenai peradaban.

Menurut duniawi, peradaban adalah ketika manusia menjadi “ulat dunia”, melupakan Tuhan dan menyembah sarana-sarana lahiriah.

Menurut Allāh SWT, peradaban sejati adalah ketika seseorang memiliki kepercayaan dan tawakal penuh kepada Allāh SWT, mendudukkan keagungan dan wibawa Ilahi di dalam hatinya, serta meraih kesucian jiwa yang hakiki.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. senantiasa menasihatkan kepada siapa saja yang masuk ke dalam ikatan bai'at agar: pertama, mengubah jalan hidup secara nyata; kedua, memiliki iman yang jujur dan benar kepada Allāh SWT yang menjadi pengayom dalam setiap kesukaran; ketiga, tidak memandang remeh satu pun perintah Allāh SWT, melainkan menghormati, dan membuktikannya dalam amalan nyata.


ISLĀM tidak melarang umatnya menggunakan obat, ikhtiar, atau sarana lahiriah. Yang dilarang keras dalam Islam adalah mengandalkan dan menggantungkan nasib sepenuhnya pada sarana-sarana tersebut.

Falsafah hidup seorang mu’min terangkum dalam ungkapan, “Tangan sibuk bekerja dan berikhtiar, sedangkan hati senantiasa tertaut dan mengingat Allāh.”

Dalam hal pengobatan medis, seorang dokter atau tabib hanya mampu berusaha sampai batas tertentu sebelum akhirnya angkat tangan. Namun, batas akhir kemampuan manusia adalah titik awal terbukanya pertolongan Allāh melalui doa. Doa memiliki khasiat dan pengaruh nyata untuk memulihkan penyakit ketika sarana medis manusia telah sirna.


ADA contoh konkrit bagaimana Islām memadupadankan antara ikhtiar lahiriah dan tawakal, yaitu riwayat Ḥaḍrat Sayyid Zainul Abidin Syah r.a. mengenai tindakan Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. ketika wabah pes merebak, yaitu:

¹Beliau tidak hanya memerintahkan kebersihan rumah tangga dan asrama; ²beliau memerintahkan penggunaan desinfektan seperti fenol, pengasapan belerang, dan getah pohon untuk membunuh kuman penyakit; ³beliau sendiri turun tangan menyiramkan cairan fenol ke selokan air dan kamar mandi rumah; dan, ⁴beliau memerintahkan pemanasan ruangan dengan tungku arang dan belerang hingga ruangan menjadi sangat panas demi memusnahkan kuman.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menegaskan bahwa memanfaatkan sebab-sebab lahiriah yang telah diciptakan Allāh merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah dan bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya. Meninggalkan ikhtiar lahiriah secara sengaja adalah perbuatan yang menyalahi syariat Ilahi.


MENGUTIP penuturan Ḥaḍrat Qamarul-Anbiya Mirzā Basyir Ahmad r.a., Huzur atba. menjelaskan kedudukan unik para Nabi Allāh:

Pertama (1/2)—di satu sisi, para Nabi ‘alaihimus-salām sangat memperhatikan dan memanfaatkan ikhtiar lahiriah sedemikian rupa sehingga orang awam menduga bahwa seolah-olah seluruh takdir bergantung pada usaha tersebut. Hal ini mereka lakukan bukan karena menyembah sebab, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap hukum dan ciptaan Allah.

Kedua (2/2)—di sisi lain, hati para Nabi memiliki tawakal yang begitu mutlak kepada Allāh SWT sehingga mereka memandang seluruh ikhtiar lahiriah itu tak ubahnya seperti bangkai serangga yang tidak memiliki daya apa-apa di hadapan Kekuasaan Ilahi.

Inilah inti Tauhid yang murni. Kebanyakan manusia tergelincir pada dua sisi kebinasaan: [i] sebagian meninggalkan ikhtiar sehingga menghina sarana ciptaan Tuhan; [ii] sedangkan sebagian lagi tenggelam dalam ikhtiar lahiriah hingga menganggap Tuhan tidak ada [30:00]. Hanya pengikut Nabi yang mampu berdiri pada jalan lurus atau ṣirāṭal-mustaqīm.


ADA riwayat menarik yang dituturkan oleh Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ II Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muṣlīḥ Mau'ūd) r.a. mengenai peristiwa tahun 1907. Saat itu Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. mengidap batuk yang sangat parah dan berlanjut hingga berbulan-bulan. Penentang beliau, Abdul Hakim, bahkan sesumbar meramalkan bahwa Hazrat Masih Mau meyakini beliau akan wafat karena penyakit paru-paru (TBC).

Di tengah kondisi batuk yang mencekik tersebut, seorang tamu datang membawa buah-buahan sebagai hadiah, salah satunya adalah buah pisang. Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. mengambil buah pisang tersebut untuk dimakan. Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau'ūd r.a. yang kala itu berusia 17 tahun dan bertugas memberikan obat, menyarankan agar beliau tidak memakan pisang karena secara medis pisang dapat memperburuk kondisi batuk.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tersenyum dan tetap mengupas pisang tersebut. Ketika diingatkan kembali, beliau bersabda, “Baru saja saya menerima wahyu dari Allāh SWT bahwa batuk ini telah diangkat/disembuhkan.”

Seketika itu juga batuk parah yang melanda selama sebulan lenyap tanpa bekas, tanpa obat maupun pantangan medis. Peristiwa ini menunjukkan bahwa apabila tawakal hamba telah sempurna, Allāh SWT sendiri yang akan bertindak dan mengintervensi hukum alam demi menolong hamba-Nya.


PADA bagian akhir khutbah, Huzur atba. menyampaikan riwayat hidup dan pengorbanan tiga orang nama Ahmadi yang wafat baru-baru ini, serta bakal mengimami Ṣalāt Jenazah Gaib untuk mereka.

¹ Yang pertama adalah Bapak Muhammad Ataurrahman dari India, wafat pada usia 76 tahun di Benggala Barat dan merupakan seorang musi. Beliau meninggalkan satu orang istri, tiga putra, dan satu putri. Salah satu putranya, Hafizur Rahman, adalah Murabbi Silsilah atau muballigh yang bertugas di Jemaat Bosnia 🇧🇦.

Aḥmadiyyah masuk ke dalam keluarga beliau pada masa Ḥaḍrat Kekhalīfahan Almasīḥ yang pertama melalui kakek beliau, Muhammad Qasid. Saat menerima dan baiat ke dalam Aḥmadiyyah, sang kakek mengorbankan kedudukan sosialnya, menyerahkan pengelolaan masjid jami' lama kepada non-Ahmadi, lalu membangun masjid baru yang dikelola oleh Jemaat untuk kali pertama di Benggala Barat yang dinamai Masjid Baitul Awwal.

Keluarga beliau mengalami pemboikotan sosial yang sangat kejam. Warga Benggala Barat dilarang menjual bahan pokok kepada mereka, sehingga untuk mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari, mereka harus mendayung perahu menyusuri sungai sejauh 40 hingga 50 kilometer.

Almarhum Ataurrahman pernah mondok dan nyantri sambil berkhidmat di Jemaat Qadian, di mana beliau membiasakan diri dengan kecintaan pada Al-Qur'ān, khusyuk, serta Tahajud yang konsisten.

Beliau adalah seorang da'i Ilallah yang sangat berhasil. Melalui gigihnya ikhtiar beliau bertabligh dan ta'lim-tarbiyyat, banyak Jemaat lokal baru terbentuk dan banyak pemuda mewakafkan diri untuk menjadi pengkhidmat Jemaat.

Beliau rela menghemat anggaran perjalanan dakwahnya dengan tidur di bangku stasiun kereta atau terminal bus alih-alih menginap di penginapan, agar uangnya dapat disedekahkan kepada para mubaligh muda atau anggota Jemaat baru yang membutuhkan.

Beliau memiliki keghairahan yang tinggi terhadap kehormatan Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s.. Pernah dalam suatu jamuan makan di rumah seorang tokoh berpengaruh, ketika sang tuan rumah mulai melontarkan nada-nada sindiran terhadap figur Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s., Almarhum seketika meletakkan kembali suapan pertamanya dan langsung meninggalkan rumah tersebut tanpa peduli pada hidangan lezat yang disajikan.

² Yang kedua adalah Ibu Khadijah Siddiqah Pontoh dari Indonesia, wafat pada usia 81 tahun di Indonesia dan merupakan seorang Musiah. Beliau dikaruniai 5 orang anak, 3 putra dan 2 putri. Almarhumah pernah mendapat taufik berkhidmat sebagai Ketua Nasional atau Sadr dari Lajnah Imā'i-Lāh Indonesia selama tiga periode.

Ayahanda beliau, Sadruddin Yahya Pontoh Sahib, adalah seorang diplomat Indonesia yang sangat bertaqwa. Meskipun menduduki jabatan diplomatik duniawi, beliau selalu menempatkan agama di atas dunia dan berkhidmat melayani tamu-tamu Jemaat.

Beliau sangat mencintai Khilafat dan senantiasa menunjukkan ketaatan yang sempurna. Memiliki kepribadian yang rendah hati, ramah, dan santun kepada siapa saja.

Apabila melihat anggota Lajnah mulai sibuk membicarakan hal-hal duniawi atau mengobrol kosong dalam majelis Jemaat, beliau dengan penuh kelembutan mengingatkan mereka untuk membaca Istighfar dan mengingat Allāh.

Setiap kali ada anggota yang mencurahkan kesulitan hidupnya, almarhumah selalu menasihatkan agar mereka segera menulis surat permohonan doa kepada Huzur atba..

Dalam memimpin, beliau sangat menghargai musyawarah dan tidak pernah mengambil keputusan secara otoriter.

Penghormatan terhadap Nizam Jemaat: Suatu ketika seorang kerabat bertanya mengapa almarhumah menyapa kerabatnya sendiri yang merupakan seorang Murabbi, seperti Mansoor Ahmad, dengan sebutan “Maulana” alih-alih panggilan kekeluargaan. Beliau menjawab, “Pertama, adalah kewajiban kita untuk menghormati Penataan Jemaat (Nizam). Kedua, hal itu dilakukan agar sang Murabbi senantiasa teringat akan kedudukan suci serta tanggung jawab besar yang diamanahkan Jemaat di pundaknya.”

³ Mukarram Abdul Jalil Sahib. Wafat pada usia 76 tahun dan merupakan seorang Musi. Salah satu putranya, Danti Sahib, saat ini berkhidmat sebagai Amir di salah satu daerah Jawa Barat.

Almarhum adalah pahlawan perintis Jemaat di daerah Burnai Mulia, Sumatera Selatan. Selama 15 tahun sebelum Jemaat lokal terbentuk, beliau bersama istri dan anaknya yang masih kecil secara istiqamah menyelenggarakan Ṣalāt Jum'at di rumah mereka sendiri.

Penentangan sengit timbul dari tokoh-tokoh agama setempat hingga almarhum dilaporkan kepada pihak berwajib. Beliau ditangkap, diarak secara terbuka di depan umum, lalu dipenjarakan di Kantor Polisi Kero dalam satu sel bersama dua orang penjahat.

Komandan militer setempat yang beragama Kristen melarang beliau melaksanakan Ṣalāt. Namun, seorang prajurit yang memiliki rasa simpati diam-diam menyelundupkan beberapa lembar surat kabar bekas ke dalam sel agar almarhum dapat menggunakannya sebagai alas Ṣalāt.

Almarhum menyumbangkan sebidang tanah milik pribadinya untuk pembangunan masjid dan rumah missi Jemaat di Burnai Mulia.

Ketika pertama kali tinggal di daerah terpencil tanpa akses komunikasi dan tanpa kehadiran anggota Jemaat lain, beliau mengumpulkan pengorbanan harta atau infaq Candah-candahnya ke dalam sebuah kotak khusus secara teratur selama setahun, lalu menyetorkannya langsung saat menghadiri Jalsa Salana di pusat.

Beliau adalah seorang yang sangat menjaga Ṣalāt farḍu berjamaah dan Ṣalāt Tahajud, dermawan kepada tetangga, serta gigih mendidik akhlaq dan kerohanian anak-anaknya. Hingga akhir hayatnya dalam keadaan sakit sakarat, pikiran beliau senantiasa tertuju pada kemajuan Jemaat dan memohon doa.


MELALUI petunjuk dan nasihat dalam khotbah jumat ini, Huzur atba. memberikan rangkuman pedoman hidup yang sangat jelas bagi setiap mu'min Ahmadi:

Pertama, jangan pernah kita menjadikan ikhtiar atau sarana keduniawian, baik gelar, jabatan, hingga harta itu sebagai “sesembahan” atau penentu utama nasib kita. Sandarkanlah seluruh harapan dan kepercayaan kita hanya kepada Allāh SWT.

Kedua, jagalah keseimbangan antara ikhtiar dan doa. Gunakanlah seluruh sarana lahiriah yang halal dengan niat mematuhi perintah dan menghormati hukum-hukum ciptaan Allāh, namun iringilah senantiasa dengan doa yang khusyuk.

Ketiga, pertahankan mutlak Kebenaran dan Kejujuran. Jangan pernah mengorbankan hukum Allāh atau berbohong demi meraih keutungan finansial atau hukum duniawi yang bersifat sementara.

Keempat, hormati Nizam Jemaat dan Khilafat. Teladanilah para Almarhum-almarhumah yang telah mendahului kita dalam menunjukkan kepatuhan murni kepada Khilafat, menghormati para pewaqaf zindegī dari kalangan muballigh, serta prioritaskanlah kepentingan agama di atas segalanya.

Kelima, hidupkan istighfar dan didiklah para calon generasi penerus kita. Hiasilah rumah tangga kita dengan ibadah Tahajud, kajian Al-Qur'ān. Biasakanlah istighfar serta pengorbanan harta maupun diri/jiwa kita untuk kejayaan Islām.

Semoga Allāh SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya yang tak terhingga kepada para almarhum, serta menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk dapat mengamalkan seluruh petunjuk suci ini dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn.

Hatur nuhun,
جَزَاكُمُ اللهُ أَحْسَنَ الْجَزَآءِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهٗ.
مُحَبِّكُمْ وَالدَّاعِيْ لَكُمْ:

Comments