Ratap Kebajikan di Tengah Gemuruh Kekuatan
Refleksi Kerendahan Hati dalam Ketegangan Sosio-Politik dan Geopolitik Global
DURASI BACA ±3 MENIT.
1. “Nabi Muḥammad ﷺ beribadah dan menangis dalam ṣalāt sedemikian rupa hingga kaki beliau bengkak. Ketika para sahabat bertanya, mengapa beliau memikul kepayahan sedemikian rupa padahal Allāh telah mengampuni seluruh dosa beliau, beliau menjawab, ‘Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?’” —Malfūẓāt Jilid VI, halaman 231.
2. “Bukanlah kuasa manusia bumi untuk melahirkan karya-karya raksasa. Apa pun yang terjadi pada masa awal Islām adalah buah dari doa-doa Nabi ﷺ yang beliau panjatkan sembari menangis di lorong-lorong Makkah. Kemenangan agung yang mengubah wajah dunia sejatinya adalah dampak doa beliau. Jika tidak, kekuatan fisik para sahabat sangatlah bersahaja—bahkan pada Perang Badar mereka hanya berbekal tiga pedang kayu.” —Malfūẓāt VIII: 296.
Saya sering tertawa kecil kalau melihat kelakuan para elite politik dan pemangku kebijakan modern ini. Di mana-mana, dari Senayan sampai Gedung Putih, dari majelis sidang ruang rapat ekonomi hingga forum diplomasi global, alih-alih banyak bersyukur, orang-orang malah sibuk menepuk dada. Mereka merasa bahwa pertumbuhan ekonomi lima persen, pamer alutsista canggih, atau deretan gedung pencakar langit adalah murni hasil kecerdasan dan kekuatan fisik mereka sendiri. Padahal, kalau mau jujur sedikit saja—paling tidak jujur dalam hati nurani deh—dunia yang sedang kita huni ini justru meluncur menuju jurang kerusakan karena manusia terlampau takabur mengandalkan pragmatisme kekuasaan.
Dua petikan sabda Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd Mirzā Ghulām Aḥmad a.s. melalui Malfūẓāt, menyentil telinga batin kita yang kerap pekak oleh bisingnya kontestasi kekuasaan. Beliau mengingatkan betapa Rasūlullāh ﷺ berdiri dan berderai air mata dalam ṣalāt hingga kakinya membengkak. Bukan karena ambisi menundukkan jazirah Arab, melainkan atas dasar rasa syukur yang teramat dalam. Lebih jauh, beliau menggarisbawahi sebuah kebenaran sejarah bahwa perubahan peradaban yang hakiki di masa awal Islām tidak dibangun atas dasar kesombongan militer. Pada Perang Badar saja, modalnya cuma tiga pedang kayu! Kemenangan yang mengubah warna zaman itu sejatinya lahir dari rintihan air mata seorang hamba yang bersujud di lorong-lorong sempit Makkah.
Pesan mistik-profetik ini rasanya sangat menampar kondisi Indonesia hari ini. Negeri kita sedang diuji oleh kerapuhan sosio-kultural dan ketimpangan ekonomi yang kian melebar. Kebijakan publik kerap kali dihitung semata-mata dengan kalkulator statistik dan kalkulasi elektoral, melupakan dimensi spiritual dan keadilan sosial bagi rakyat cilik. Elite kita sibuk membangun mercusuar kekuasaan, sementara ketimpangan ekonomi dan polarisasi sosial dibiarkan menganga. Kita lupa bahwa kejayaan suatu bangsa tidak pernah ditentukan oleh seberapa megah istana yang dibangun, melainkan oleh kebersihan niat, kerendahan hati para pemimpinnya, serta sejauh mana keadilan dirasakan oleh rakyat bawah yang tak punya apa-apa.
Di panggung global, keadaannya malah lebih lucu sekaligus tragis. Ekonomi dunia terombang-ambing oleh persaingan hegemonik, sanksi ekonomi unilateral, dan perlombaan senjata. Negara-negara adidaya merasa bahwa perdamaian bisa dipaksakan melalui kekuatan militer mutakhir dan diplomasi ancaman. Mereka persis seperti tentara yang bangga dengan persenjataan modern, namun buta bahwa tanpa fondasi akhlaq dan kesadaran Ketuhanan, kekuasaan semacam itu hanyalah ilusi yang merusak. Sejarah membuktikan, imperium-imperium besar runtuh bukan karena kurang pedang, melainkan karena krisis jiwa dan ketakaburan yang membusuk dari dalam.
Sudah saatnya kita mengembalikan tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara pada poros kerohanian yang membumi. Kita dapat memulainya dari diri kita sendiri. Bersyukur dan rendah hati. Kepemimpinan serta ketenaran, bukanlah panggung untuk membusungkan dada, melainkan amanah untuk melayani dan mengayomi masyarakat dengan air mata ketulusan serta kerendahan hati.🔚
Was-salāmu 'alaiKum waraḥmatul-Lāhi wabarakātuh. MuḥabbiKum wad-dā'ī laKum:
Rahmat Ali Daeng Mattiro
Comments