Menjadi Manusia Seutuhnya melalui Maulid Nabi ﷺ


ADA suatu hari pas tiap pengajian bulanan atau pas lagi ada kelas sejarah Islam atau pelajaran Kalam di mesjid, saya duduk menyimak narasumber yang membacakan sirah Nabi. Ya. Rata-rata mereka memelankan suaranya, penuh rasa, seolah sedang bercengkerama dengan sahabat yang sudah lama tiada. Tidak ada terompet, tidak ada pawai, tidak ada kue berlapis emas. Hanya kisah tentang seorang yatim piatu yang menjadi rahmat bagi semesta. Saat itu saya berpikir: inilah Maulid yang sesungguhnya.

Dan, heran sih, jika ada penceramah sirah Nabi menceramahnya dengan suara lantang pakai loudspeaker. Padahal loudspeaker itu kan untuk mengeraskan suara yah.

Kita sering ribut soal tanggal dan bentuk. Ada yang bersemangat merayakan 12 Rabiul Awal dengan segala kemeriahan. Ada pula yang dengan tegas menolak, bilang itu bid‘ah karena tidak pernah dilakukan Nabi, para Sahabi, maupun generasi awal Tabi’iin dan Taba’ Tabi’iin.

Hal-hal tersebut, pada titik tertentu ada benarnya, sejarah memang mencatat bahwa perayaan formal Maulid baru muncul berabad-abad kemudian, jauh setelah tiga generasi terbaik berlalu. Nabi sendiri tidak pernah menggelar pesta ulang tahun. Sahabat-sahabat yang sangat mencintai beliau pun tidak pernah membuat acara khusus setiap tahun.

Namun, apakah berarti mengingat kelahiran beliau tidak penting? Di sinilah kita sering terjebak pada kulit, lupa pada isi. Cinta kita kepada Nabi tidak lahir dari keramaian. Ia lahir dari kerinduan yang tenang. Ketika beliau berpuasa setiap Senin karena “itu hari aku dilahirkan”, itu adalah cara beliau sendiri mengingat rahmat yang dititipkan Allāh. Ketika para Sahabat menceritakan akhlaknya, meneladani kesabarannya, atau mengucapkan shalawat di setiap langkah, itu juga Maulid—ya Maulid yang hidup, yang tidak memerlukan panggung.

Nah, agama itu bukan sekadar aturan, ia adalah masalah rasa. Rasa yang membuat orang kecil berani berdiri, yang membuat yang kaya mau berbagi, yang membuat yang berbeda bisa duduk bersama. Maulid, kalau hanya menjadi ajang pamer kemegahan atau perdebatan hukum yang kering, maka ia kehilangan ruhnya. Tapi jika ia menjadi ruang untuk mengingat bagaimana Nabi memperlakukan anak yatim, bagaimana beliau memaafkan musuh, bagaimana beliau menempatkan manusia di atas segala formalitas, maka Maulid itu menjadi nur serta hidayah.

Seandainya di abad pertama Hijriah sudah ada kumpulan sederhana untuk mengkaji kisah kelahiran beliau, tanpa syirik, tanpa berlebih-lebihan. Tentu bagus. Tapi sejarah tidak berjalan seperti itu. Yang ada justru adalah cinta yang diam-diam mengalir: dalam setiap salat yang kita dirikan, dalam sedekah yang kita tunaikan, dalam menjaga lisan di dalam merangkai kalimat, dalam membela yang lemah. Cinta itu tidak butuh izin tanggal. Ia butuh kejujuran.

Maka, ketika kita merayakan atau tidak merayakan, yang lebih penting adalah: apakah kita semakin dekat dengan akhlak beliau, atau semakin jauh karena sibuk membela bentuk? Ḥaḍrat Nabi Muhammad ﷺ datang bukan untuk menjadikan umatnya ahli perdebatan tanggal, melainkan ahli kasih sayang. Kalau Maulid membuat kita lebih lembut, lebih adil, lebih manusiawi, maka ia telah menunaikan tugasnya. Kalau tidak, biarlah ia berlalu begitu saja, seperti angin yang tidak meninggalkan jejak.

Yang abadi bukan perayaannya, melainkan dirayakannya sesosok manusia panutan yang mengajarkan kita bahwa rahmat terbesar adalah menjadi manusia yang utuh.

IMHO CMIIW. MuḥabbiKum wad-dā'ī laKum.•
_
SUMBER: Buku Fatāwā Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd ‘alaihiṣ-Ṣalātu was-Salām, halaman 121—123; dikutip oleh Al-Ḥakam №.14 & 15, Jilid 8, edisi 30 April—10 Mei 1904, halaman 3.

Gambar: copas dari Review Of Religions.

Comments

5 Popular Posts 30 Hari Terakhir