Menatap Langit Lewat Sepiring Nasi dan Penari Malam
Kebijaksanaan Syukur, Akhlak Kanjeng Masīḥ, dan Jalan Menuju Qurub serta Liqa’
Disadur dari Khotbah Jumat Imam Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad atba. 🗓️ 21 Agustus 2026, 📍 Mesjid Mubarak Islamabad, Tilford, Inggris, Britania Raya
DURASI BACA ±11 MENIT.
ADAKALANYA, kita sering kali aneh dan paling jago bikin hal-hal yang sederhana jadi ruwet setengah mati. Padahal, kalau mau jujur dan agak sedikit melonggarkan kopyah di kepala, ajaran agama yang dibawa para Nabi ‘alaihimus-salām dan para kekasih Allāh itu, urusannya tidaklah muluk-muluk amat. Intinya cuma satu: Bagaimana caranya kita menyadari bahwa diri ini tidak punya apa-apa, dan Gusti Allāh itu Mahasumber dari segala kenikmatan. Dari kesadaran itulah, mesti lahir apa yang dinamakan syukur.
Namun, perkara syukur ini juga bukan sekadar mengucap “Alḥamdu lil-Lāh!” di bibir sambil lalu, lantas setelah itu sibuk lagi memamerkan kebanggaan diri. Tidak begitu ternyata. Kanjeng Pangeran Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masīḥ Al-Mau'ūd) a.s. menghadiahi kita cermin yang amat bening tentang bagaimana syukur itu mewujud dalam setiap tarikan desah napas, tingkah laku, bahkan dalam hal-hal bersahaja yang kerap kita anggap sepele.
Khotbah Jumat yang disampaikan oleh Kanjeng Khalifah kita, Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad ayyadahul-Lāhu Ta'ālā binaṣrihil-azīz (atba.), baru-baru ini mengurai kembali benang-benang emas akhlaq Sang Al-Masīḥ dalam hal bersyukur. Petunjuk serta nasihat beliau ini bukan sekadar risalah sejarah, melainkan sarana dan dan pedoman rohani bagi kita yang sedang meraba-raba di tengah kegelapan dunia.
Akal Sehat, Debat Kusir, dan Tenggang Rasa
Suatu hari, Kanjeng Masīḥ Mau'ūd melihat seorang sahabatnya habis bertengkar hebat dengan seseorang. Beliau lantas bertanya, "Kenapa Anda mesti repot-repot adu mulut?"
Ketika dijelaskan perkaranya, Sang Masīḥ justru tersenyum arif dan memberikan wejangan yang sangat menohok. Orang yang diajak bertengkar itu, kata beliau, memang tidak dikaruniai akal yang cukup matang. Pengetahuannya pendek, pandangannya sempit.
Lalu buat apa melayani orang yang tidak paham? Orang awam atau mereka yang terbatas daya nalarnya itu mestinya dikasihani, dilindungi, dan dimaafkan, bukan malah dilayani dengan emosi. Yang jauh lebih penting, Sang Masīḥ mengingatkan agar sahabat tadi bersyukur kepada Allāh SWT karena telah dikaruniai akal yang sehat, pikiran yang jernih, serta kemampuan untuk mengenali sifat-sifat keagungan Ilahi.
Ini pelajaran penting buat kita hari ini. Di zaman medsos di mana semua orang merasa paling pintar dan hobi ngotot di kolom komentar, kita sering lupa bersyukur atas akal sehat. Kalau kita dikasih agak pinteran dikit sama Gusti Allāh, ya jangan dipakai buat menindas atau mengejek yang kurang paham. Bersyukur atas nikmat akal itu wujudnya adalah tenggang rasa, bersikap lembut, dan tidak menghabiskan energi untuk debat kusir yang sia-sia.
Penari Malam Senilai Dua Puluh Rupee
Cerita lain yang tidak kalah menarik adalah sewaktu Kanjeng Masīḥ Mau'ūd pada pagi hari setelah salat Subuh. Beliau mendengar samar-samar suara musik dari arah kejauhan. Ketika bertanya ada keramaian apa gerangan, seorang sahabat melapor bahwa tetangga mereka, Mian Nizamuddin, baru saja menyewa seorang penari perempuan untuk menari semalaman suntuk. Bayarannya? Cuma dua puluh rupee!
Mendengar hal itu, Sang Masīḥ prihatin. Mungkin bukan sekadar marah karena ada hura-hura, tetapi beliau menatapnya dari sudut pandang hakikat kehidupan. Coba bayangkan, kata beliau, seorang perempuan rela tidak tidur semalaman, menguras tenaga, dan menanggalkan rasa malunya hanya demi uang dua puluh rupee yang tidak seberapa itu. Sementara itu, Gusti Allāh yang setiap detik melimpahkan ribuan nikmat tanpa henti—mulai dari udara yang kita hirup, jantung yang berdetak, hingga makanan di meja—sering kali tidak mendapat ucapan terima kasih yang layak dari kita. Manusia begitu berat untuk bangun di sepertiga akhir malam, menggelar sajadah, dan bersujud mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta.
Ibaratnya, untuk urusan duniawi yang receh nih, kita sanggup bergadang mati-matian, tapi untuk urusan menghadap Tuhan yang menggenggam nyawa kita, kita mendadak jadi orang paling malas sejagad raya. Inilah ironi kemanusiaan yang disentil dengan sangat halus namun menohok oleh Sang Masīḥ kita.
Khidmat pada Sepiring Nasi dan Ikhtiar di Kala Wabah
Urusan bersyukur ini ternyata masuk sampai ke piring makan. Kanjeng Masīḥ Al-Mau'ūd kalau makan itu sangat tenang, mengambil suapan demi suapan kecil, dan di setiap gigitan beliau tidak pernah putus memanjatkan doa serta rasa syukur kepada Allāh. Beliau menghormati makanan bukan karena rasa lezatnya semata, melainkan karena melihat jejak kasih sayang Tuhan di dalam sebutir beras dan setetes air.
Tidak hanya itu, ajaran syukur beliau juga sangat rasional dan ilmiah. Ketika wabah pes merebak dahsyat, Sang Masih tidak lantas cuma pasrah sambil menepuk dada merasa paling beriman. Beliau justru memerintahkan agar rumah beliau dan lingkungan sekitarnya dibersihkan secara total, disemprot dengan zat-zat disinfektan pembunuh kuman.
Bagi Sang Masih, memanfaatkan sarana dan ilmu pengetahuan yang telah diciptakan Allāh—seperti obat-obatan dan kebersihan—adalah bagian dari bentuk syukur itu sendiri. Gusti Allāh menciptakan bahan kimia penghancur bakteri, ya harus dipakai! Kalau ada obat tapi tidak mau berobat dengan alasan “beriman kepada Tuhan”, itu namanya bukan tawakal, melainkan konyol. Tawakal yang sejati adalah menggunakan seluruh ikhtiar dan sarana yang ada secara maksimal, lalu menyerahkan hasil akhirnya bulat-bulat kepada kehendak Allāh SWT.
Kesadaran rohani yang begitu dalam ini pulalah yang membentengi jiwa beliau. Ketika sedang menyusun kitab Tadzkiratusy-Syahadatain, Sang Masīḥ sempat jatuh sakit yang amat parah. Namun dalam kepasrahan dan doa yang membumbung tinggi bersama keluarga, Allāh menganugerahkan kesembuhan dan menyapa jiwa beliau dengan wahyu yang amat indah: “Salāmun ‘alaiKa – kata selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”
Penghargaan Bagi yang Kecil dan Sapaan Kepada Orang Beda Agama
Satu hal yang membuat kita selalu mengagumi akhlak para wali Allāh adalah ketawadukan mereka kepada sesama manusia. Nah, Kanjeng Masīḥ Al-Mau'ūd itu tidak pernah memandang rendah siapa pun. Ketika beliau menulis buku monumental Barāhīn-e-Aḥmadiyyah dan atau Minānur Raḥmān, beliau mencantumkan daftar nama seluruh dermawan yang ikut menyumbang untuk penerbitan buku tersebut. Beliau tidak cuma mencatat orang kaya yang menyumbang ribuan rupee, tapi juga mencantumkan nama orang-orang kecil yang cuma mampu menyumbang beberapa ana (satuan mata uang terkecil di India berjumlah seperenambelas rupee). Beliau mendoakan mereka satu per satu dan meminta para pembaca bukunya untuk turut mendoakan para dermawan tersebut.
Suatu hari, ketika Sang Masīḥ sedang berjalan-jalan di kebun buah sambil membawa tongkat kayu, tongkat tersebut tersangkut di dahan pohon yang tinggi. Seorang pemuda yang kebetulan berada di dekat situ dengan sigap dan lincah memanjat pohon untuk mengambilkan tongkat tersebut. Menerima kembali tongkatnya, Sang Masīḥ tidak hanya bilang “terima kasih” lalu ngeluyur pergi. Beliau memuji kelincahan pemuda itu dengan penuh kehangatan, menghormatinya, dan memperlakukannya dengan rasa takzim yang luar biasa. Anak muda itu merasa sangat dihargai.
Bahkan, tengoklah bagaimana beliau bersikap kepada orang yang berbeda iman. Suatu kali Sang Masīḥ diundang minum teh di sebuah rumah. Setelah usai, beliau diberi tahu bahwa makanan dan minuman tersebut dimasak oleh para perempuan yang merupakan istri-istri dari para dai/misionaris Kristen. Apakah beliau gusar? Sama sekali tidak! Sang Masīḥ justru menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada perempuan-perempuan tersebut, bahkan mempublikasikan rasa terima kasihnya secara terbuka di surat kabar. Inilah akhlak Islām yang sejati: Kedermawanan jiwa yang melintasi batas-batas sekat keagamaan.
Rahasia Pengorbanan dari Ḥaḍrat Doktor Khalifah hingga Gerakan Waṣiyyat
Keteladanan dalam bersyukur ini juga melahirkan keberanian untuk berkorban tanpa batas. Ketika Sang Masīḥ menghadapi ujian berat dalam persidangan di pengadilan dan keuangan sedang krisis, beliau mengimbau pengorbanan harta. Seorang pengikut setia, Ḥaḍrat Doktor Khalifah Rasyiduddin r.a., tanpa ragu menyerahkan seluruh harta simpanannya dan berjanji akan terus mengirimkan sebagian penghasilannya. Melihat pengorbanan yang begitu dahsyat, Sang Masīḥ menulis surat yang menyentuh hati, menyatakan rasa terima kasih yang begitu besar dan membebaskan Ḥaḍrat Doktor Khalifah dari kewajiban berdonasi lagi. Tapi dasar orang sudah mabuk cinta kepada Allāh ya, mā syā' Allāh—Doktor Khalifah r.a. tetap saja terus menyumbang dengan penuh ketulusan.
Prinsip yang sama diteruskan oleh putera beliau, Ḥaḍrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad raḍiyal-Lāhu 'anhū (Muṣlīḥ Mau'ūd dan Khalīfah Almasīḥ II). Meskipun Sang Masīḥ sempat membebaskan kelima putranya dari kewajiban iuran dalam gerakan Waṣiyyat, Kanjeng Khalifah II justru memilih untuk tetap ikut berdonasi dan berkorban habis-habisan. Beliau mengingat teladan Kanjeng Nabi Muḥammad Rasūlullāh ﷺ yang kaki beliau sampai bengkak-bengkak karena Ṣalāt malam, dan ketika ditanya beliau menjawab, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?”
Kanjeng Khalifah kita saat ini, mempertegas kembali hal ini agar tidak ada salah kaprah di antara warga Jemaat. Pengecualian itu hanya berlaku bagi kelima putra Sang Masīḥ secara pribadi pada zamannya, bukan untuk anak cucu, menantu, apalagi Khalifah-khalifah setelahnya. Semua orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk melatih dan menempa jiwanya dalam pengorbanan Waṣiyyat sebagai bentuk syukur yang nyata.
Pintu Qurub dan Liqa’: Meniti Petunjuk Ḥaḍrat Khalīfah kita
Mencermati seluruh uraian dan nasihat yang disampaikan oleh Kanjeng Khalifah kita, hati ini serasa disiram oleh embun kesejukan di tengah teriknya panggung dunia. Beliau tidak sedang menyodorkan teori-teori filsafat yang rumit, melainkan menuntun tangan-tangan kita untuk melangkah perlahan namun pasti pada titian-titian tangga menuju puncak tujuan penciptaan manusia.
Petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihat Kanjeng Khalifah ini sejatinya adalah tangga-tangga rohani ma'araj guna meraih dua maqam tertinggi dalam perjalanan rohani seorang hamba, yakni Qurub (kedekatan yang karib dengan Allāh SWT) dan Liqa’ (perjumpaan serta persatuan rasa dengan Sang Khaliq).
Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih Qurub jika hatinya masih dipenuhi prasangka, kesombongan akal, dan keengganan untuk bersyukur atas hal-hal kecil? Kanjeng Khalifah mengingatkan kita bahwa kedekatan dengan Allāh tidak dibangun di atas fondasi kesombongan rohani, melainkan di atas hamparan ketawadukan: bersyukur saat makan, bersyukur saat diberi akal sehat, menghargai sesama manusia tanpa memandang pangkat dan agama, serta menggunakan seluruh ikhtiar lahiriah sebagai bentuk ketundukan.
Ketika rasa syukur itu telah meresap ke dalam sumsum tulang dan menjadi detak jantung kehidupan kita, maka tembok penghalang antara hamba dan Tuhan akan runtuh dengan sendirinya. Di sinilah pintu Liqa’—perjumpaan yang manis dengan Allāh SWT—terbuka lebar-lebar. Kita tidak lagi menyembah Tuhan yang jauh di atas awan, melainkan merasakan kehadiran-Nya yang begitu dekat, lebih dekat daripada urat nadi pada leher kita sendiri.
Nasihat-nasihat Kanjeng Khalifah kita adalah pelita yang menerangi jalan senyap ini. Di saat dunia menyeret kita untuk menjadi manusia yang serakah, egois, dan gampang mengeluh, bimbingan beliau memanggil kita kembali ke rumah asal kita: menjadi ‘Abdan Syakura—hamba yang senantiasa bersyukur. Semoga Allāh SWT menguatkan langkah kita, mengaitkan hati kita dengan tali kekhalifahan, dan mengaruniakan kepada kita kelezatan Qurub serta indahnya Liqa’ bersama-sama dengan Sang Kekasih Abadi, Allāh Rabbal-'ālamīn. Āmīn.
Comments