Jadikan Syukur sebagai Karakter Utama Pribadi Muslim
Berikut adalah saduran khotbah jumat Imam Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Khalīfah Almasīḥ V Mirza Masroor Ahmad (Huzur) – ayyadahul-Lāhu Ta‘ālā binaṣrihil-azīz (atba.), Jumat, 28 Agustus 2026/15 Rabī’ul-Awwal 1448 H, bertempat di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, Surrey, UK.
Tema utamanya adalah standar tinggi rasa terima kasih Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. terhadap para khaddim dan sahabat, dan juga terhadap karunia-karunia Allāh SWT.
Khotbah Jumat yang Huzur sampaikan ini merupakan kelanjutan langsung dari rangkaian pembahasan mengenai teladan atau keluhuran akhlak dan standar tinggi rasa syukur sang pendiri Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian.
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat serta menilawatkan ta’awwuz dan Al-Qur'ān Sūrat (QS) Al-Fātiḥah, Huzur atba. menegaskan bahwa Allāh SWT mengutus Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. ke dunia pada zaman akhir ini dengan tugas agung untuk menghidupkan kembali kesucian ajaran Islam, mengibarkan kembali panji-panji kebenaran Ḥaḍrat Nabi Muḥammad ﷺ, serta mempersatukan umat manusia di bawah naungan Tauhid.
Dalam mengemban amanah Ilahi yang amat berat tersebut, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. senantiasa memperlihatkan kerendahan hati (tawadhu'), ketulusan jiwa, dan rasa syukur yang tiada tara. Rasa syukur beliau tidak hanya tercurah dalam hubungan pribadi beliau dengan Allāh SWT melalui ibadah dan sujud malam, tetapi juga terpancar nyata dalam interaksi beliau sehari-hari dengan para sahabat, penolong dakwah, bahkan kepada masyarakat awam yang memberikan kebaikan sekecil apa pun.
Huzur menguraikan secara terperinci berbagai peristiwa bersejarah, surat-surat pribadi, catatan harian, serta kutipan-kutipan sabda maupun tulisan Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. yang menggambarkan betapa tingginya standar rasa syukur yang wajib kita teladani.
I. PENGORBANAN HARTA: PENGHARGAAN DAN RASA SYUKUR KEPADA PARA PENOLONG SYIAR
Salah satu aspek utama yang disoroti oleh Huzur atba. dalam khotbah ini adalah sikap Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. terhadap para sahabat yang mengorbankan harta dan jiwa demi menyokong kelancaran dakwah Islam.
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tidak pernah memandang bantuan harta dari para jama'ah sebagai kewajiban yang wajar begitu saja, melainkan sebagai bentuk pengorbanan suci yang layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya dan doa-doa yang tulus.
I.1. Pengorbanan untuk Syiar Islam dan Langar Khanah
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menyatakan bahwa dana dan bantuan yang diserahkan oleh para jamaah beliau dipergunakan secara amanah untuk membiayai penerbitan buku-buku dakwah, penyiaran risalah Islam, dan Langgar Khānah atau pengelolaan dapur umum bagi para tamu yang berkunjung ke Qadian.
Beliau a.s. mendoakan agar dengan tercukupinya sarana-sarana tersebut, perhatian dan fokus pikiran beliau dapat tercurah sepenuhnya untuk menuntaskan misi dakwah tanpa terkendala logistik. Beliau a.s. menegaskan janji Allāh bahwa
“Sesungguhnya, orang-orang yang membantu perjuangan agama Allāh ini dengan tulus ikhlas, pasti akan mendapatkan pertolongan dan perlindungan langsung dari Allāh Yang Mahakuasa.”
I.2. Penghormatan Khusus untuk Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn r.a.
Huzur atba. mengutip bagaimana Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. memberikan pujian dan ucapan terima kasih yang amat mendalam kepada sahabat karib dan pendamping utama beliau, Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn r.a. yang kelak terpilih sebagai Khalīfatul Masīḥ yang pertama.
I.2.i. Pengorbanan Harta Tanpa Batas
Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn r.a. adalah sosok yang senantiasa berada di garis depan dalam pengorbanan harta. Kapan pun dibutuhkan dana untuk keperluan penerbitan buku atau keadaan darurat dakwah, Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn siap menyerahkan harta berapa pun yang dimilikinya tanpa ragu dan tanpa menyisakan kekhawatiran untuk dirinya sendiri.
I.2.ii. Ta'lim dan Ma’rifat Al-Qur'ān
Selain pengorbanan materi, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. sangat menghargai keahlian dan kepakaran mendalam Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn r.a. dalam ilmu kitab suci Al-Qur'ān. Beliau senantiasa meluangkan waktu mengajarkan Al-Qur'ān kepada jamaah dan masyarakat umum.
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menilai bahwa khidmat ta'lim Al-Qur'ān yang diprakarsai Ḥaḍrat Maulānā Hakīm Nūruddīn r.a. ini bukan sekadar tugas ta'lim biasa, melainkan sebuah pengabdian langsung dan bentuk pengkhidmatan agung kepada Allāh SWT yang amat layak disyukuri.
I.3. Penghargaan Khusus untuk Ḥaḍrat Maulvi Abdul Karim Sialkoti r.a.
Tokoh sahabat lain yang dipuji secara khusus oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. adalah Ḥaḍrat Maulānā ‘Abdul-Karīm Sialkōti r.a.. Beliau dikenal sebagai seorang orator ulung, penulis berbakat, dan mujahid yang sangat setia.
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. mencatat pengorbanan tenaga, ketulusan hati, serta kesiapan Ḥaḍrat Maulānā ‘Abdul-Karīm Sialkōti r.a. dalam mendampingi beliau baik suka maupun duka.
I.4. Apresiasi kepada seluruh sahabat dan keterbatasan menuliskan nama-namanya
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menjelaskan bahwa selain nama-nama besar tersebut, terdapat banyak sekali nama sahabat atau anggota Jama’ah yang memberikan infaq, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Beliau a.s. menyatakan bahwa dalam hatinya ada kerinduan yang mendalam untuk menuliskan dan mengumumkan nama setiap orang yang telah menyumbang, sebagai wujud ucapan terima kasih beliau secara pribadi.
Namun, beliau a.s. menambahkan bahwa apabila beliau menuliskan seluruh nama mukminin yang berkorban tersebut satu per satu maka tulisan tersebut akan membengkak menjadi sebuah risalah atau buku yang sangat tebal. Ungkapan ini menjadi bukti betapa sensitifnya jiwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. yang tidak ingin melewatkan satu pun jasa atau pengorbanan para jama'ah beliau tanpa menghaturkan rasa terima kasih.
II. TELADAN RASA SYUKUR ATAS PERTOLONGAN DAN KEBAIKAN SEDERHANA SEHARI-HARI
Huzur atba. menggarisbawahi bahwa keagungan akhlak Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tidak hanya terlihat dalam merespons bantuan besar atau pengorbanan harta berskala tinggi. Justru keindahan budi pekerti beliau terpancar paling kuat ketika beliau berhadapan dengan pertolongan atau pemberian-pemberian kecil dan sederhana yang datang dari masyarakat.
II.1. Kisah kesederhanaan dari mangkuk susu, gula, dan roti
Dalam khotbahnya, Huzur atba. menceritakan sebuah riwayat mengenai seorang masyarakat yang sederhana. Orang tersebut datang menghadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. dengan membawa sebuah mangkuk sederhana yang berisi campuran susu, gula, dan potongan-potongan roti.
Orang tersebut merasa amat cemas, takut, dan bersalah. Dia khawatir bahwa hidangan yang sangat sederhana dan jauh dari kesan kemewahan itu tidak pantas disajikan kepada seorang utusan Allāh dan akan membuat Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. merasa tidak berkenan atau kecewa.
Namun, bagaimana reaksi Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s.? Beliau a.s. sama sekali tidak menunjukkan raut wajah keberatan atau ketidaksukaan. Sebaliknya, beliau menyambut mangkuk tersebut dengan wajah berseri-seri, menerimanya dengan penuh kehangatan, dan menyantap hidangan sederhana itu sampai habis dengan rasa syukur yang mendalam. Beliau memuji ketulusan niat orang tersebut dan mendoakannya agar Allāh SWT melimpahkan keberkahan atas kehidupannya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa di mata Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s., ketulusan hati jauh lebih berharga daripada kemewahan fisik.
II.2. Kisah Pembuat Faluda dan Pembagian ke Rumah
Peristiwa lain yang disampaikan oleh Huzur atba. adalah ketika seorang pembuat faluda (hidangan minuman manis tradisional) menyajikan buatannya kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s..
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. meminumnya, menikmati hidangan tersebut, dan memberikan pujian yang hangat atas kelezatannya.
Tidak hanya meminumnya sendiri, beliau a.s. juga menyisihkan sebagian dari minuman faluda tersebut untuk dikirimkan ke dalam rumah agar dapat dinikmati pula oleh keluarga beliau.
Setelah selesai, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. mengambil uang sebesar dua rupee dan hendak menyerahkannya kepada pembuat faluda tersebut sebagai imbalan jasa dan pembayaran.
Penjual faluda tersebut menolak uang pembayaran itu dengan sopan dan penuh rasa hormat. Dia berkata bahwa hidangan tersebut dibuat dan disajikan khusus sebagai hadiah dan tanda cinta tulusnya kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s..
Mendengar jawaban tulus tersebut, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tidak memaksakan uangnya, melainkan membalasnya dengan melantunkan doa-doa agar Allāh membalas kebaikan pembuat faluda tersebut di dunia dan akhirat.
III. UNGKAPAN SYUKUR DAN KERENDAHAN HATI ATAS KASIH SAYANG PARA SAHABAT
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tidak pernah merasa bahwa rasa cinta, penghormatan, dan kepatuhan yang diberikan oleh para sahabat adalah hasil dari kehebatan atau keunggulan pribadi beliau semata. Beliau senantiasa mengembalikan segala pujian dan karunia tersebut kepada Allāh SWT.
III.1. Surat kepada Ḥaḍrat Munsyī Aḥmad Jān r.a.
Huzur atba. membacakan sebuah petikan surat yang yang ditulis oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. kepada sahabat beliau, Ḥaḍrat Munsyī Aḥmad Jān r.a.. Dalam surat tersebut, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. mengungkapkan kepasrahan dan kerendahan hati yang amat sangat:
Beliau a.s. bersyukur kepada Allāh SWT yang telah menjaga diri beliau dari keadaan yang tidak dikenal hingga dijadikan sosok yang dikenal dunia, mengurniakan ma'rifat rohani, kekuatan fisik dan jiwa, serta berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Namun, salah satu karunia terbesar yang paling digarisbawahi dan disyukuri oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. dalam surat tersebut adalah:
Allāh SWT telah menanamkan rasa cinta, kasih sayang, dan keikhlasan yang begitu mendalam di dalam hati para penolong dan sahabat terhadap diri beliau.
Beliau memandang keberadaan para sahabat yang penuh cinta dan kesetiaan sebagai bukti pertolongan Ilahi yang sangat berharga dalam membantunya menanggung beban berat misi dakwah pembaharuan Islam.
III.2. Surat kepada Ḥaḍrat Doktor Khalīfah Rasyīduddīn r.a.
Dalam surat lain yang ditujukan kepada Ḥaḍrat Doktor Khalīfah Rasyīduddīn r.a.. Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menghaturkan rasa terima kasih atas bantuan dana yang dikirimkan untuk menyokong operasional penerbitan dan dakwah. Ḥaḍrat Doktor Rasyīduddīn adalah besan Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s., anak perempuannya menikah dengan Ḥaḍrat Mirzā Basyīruddīn Mahmūd Aḥmad (Muṣlīḥ Mau'ūd) r.a..
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menuliskan bahwa sumbangan tersebut datang pada saat yang sangat tepat, ketika kebutuhan dana sedang sangat mendesak. Sebagai wujud rasa syukur yang nyata, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menyatakan bahwa beliau mengkhususkan waktu-waktu tertentu dalam Ṣalāt-ṣalāt farḍu dan Tahajjud beliau secara pribadi untuk mendoakan Ḥaḍrat Doktor Khalīfah Rasyīduddīn r.a. agar Allāh SWT memberkahi harta, keluarga, dan kehidupannya berlipat ganda.
III.3. Pemberian Minyak Wangi
Huzur atba. juga menceritakan bagaimana seorang sahabat mengirimkan sekotak minyak wangi kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s.. Meskipun pemberian tersebut tergolong hadiah kecil, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. tidak pernah menganggap remeh. Beliau mencatat rasa terima kasihnya dengan penuh ketulusan dan membalas pengirimnya dengan doa-doa keberkahan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kebaikan manusia yang terlalu kecil untuk diapresiasi oleh seorang hamba pilihan Allāh.
IV. SUASANA SYUKUR TIADA HENTI DALAM PENULISAN KARYA-KARYA MONUMENTAL
Huzur mengungkap sisi rohani mengenai suasana keseharian Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. saat beliau sedang menyusun karya-karya tulis keagamaan beliau yang monumental. Bagi Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s., menulis buku bukan sekadar aktivitas ilmiah, melainkan sebuah proses ibadah dan komunikasi rohani yang intensif dengan Sang Khāliq.
IV.1. Kebiasaan Menulis di Atap Rumah dan Empat Tempat Tinta
Diriwayatkan dalam sejarah bahwa ketika sedang menulis buku di atap rumah beliau di Qadian, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. memiliki kebiasaan unik:
i. Beliau berjalan bolak-balik di sepanjang atap rumah sambil merenung, berpikir mendalam, dan merangkai kata-kata hikmah.
ii. Di keempat sudut dinding atap tersebut, beliau meletakkan tempat tinta.
iii. Tujuannya adalah agar ke mana pun beliau melangkah dan di sudut mana pun inspirasi atau ilham Ilahi turun, beliau dapat langsung mencelupkan penanya dan menuliskan tulisan tersebut tanpa ada jeda atau kebingungan mencari tempat tinta.
IV.2. Sujud Syukur di Tengah-Tengah Menulis
Huzur atba. memaparkan bahwa proses penulisan buku-buku beliau selalu diwarnai oleh sujud-sujud kesyukuran. Setiap kali Allāh SWT membuka pemahaman baru yang mendalam dalam pikiran beliau, atau menguraikan rahasia tersembunyi dari suatu ayat Al-Qur'ān, atau mengurniakan jawaban atas tuduhan para penentang Islam, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. serta-merta menghentikan langkah menulisnya, lalu menjatuhkan diri ke lantai dalam keadaan sujud syukur yang panjang kepada Allāh SWT.
Beliau menangis haru dan berdoa, mengungkapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya karena Allāh SWT telah membimbing pena beliau untuk membela kesucian agama Islām. Seluruh karya tulisan beliau dipenuhi oleh helaan napas doa dan kepasrahan rohani.
V. PEMENUHAN NUBUATAN SPESIFIK 21 RUPEE DAN PEMBAGIAN MANISAN
Salah satu peristiwa bersejarah yang disampaikan oleh Ḥaḍrat Khalīfatul Masīḥ V atba. dalam khotbah ini adalah nubuatan mengenai penerimaan uang sebesar 21 rupee dan bagaimana Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. merayakan terbuktinya nubuatan tersebut dengan mensyukuri dan kasih sayang kepada sesama.
V.1. Turunnya Wahyu Mengenai Uang 21 Rupee
Pada suatu masa, ketika Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. sedang mengkhawatirkan kebutuhan keuangan untuk kelangsungan penerbitan buku dan pelayanan tamu, beliau menerima wahyu dari Allāh SWT. Wahyu tersebut menjanjikan bahwa beliau akan segera mendapatkan bantuan dana sebesar 21 rupee untuk meringankan beban kekhawatiran beliau.
Nubuatan ini sangat luar biasa karena menyebutkan nominal angka yang sangat spesifik (21 rupee), sesuatu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya dan berada di luar jangkauan kalkulasi manusia.
V.2. Tiba Wesel 20 Rupee
Hanya selang beberapa hari setelah wahyu tersebut diterima dan diberitahukan kepada orang-orang, tiba sebuah surat wesel yang membawa uang sejumlah 20 rupee (yang bersama tambahan nominal lainnya melengkapi jumlah menjadi 21 rupee).
Ketika dilakukan pemeriksaan terhadap tanggal pengiriman wesel tersebut di kantor pos, terungkap kenyataan yang sangat mengagumkan: Pengirim wesel tersebut telah menyerahkan dan mengirimkan uangnya di kantor pos pada hari dan jam yang persis sama dengan saat Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menerima wahyu di Qadian! Nubuatan Ilahi ini terbukti secara sempurna, presisi, dan tidak terbantahkan.
V.3. Ungkapan rasa syukur: Membeli dan membagi-bagikan manisan kepada warga Hindu Arya Samaj
Hati Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. diliputi oleh kegembiraan dan rasa syukur yang luar biasa atas pertolongan Allāh SWT yang begitu nyata. Sebagai wujud syukur kepada Allāh SWT dan ekspresi kebahagiaan atas terbuktinya nubuatan tersebut:
Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menggunakan uang hasil pengiriman wesel tersebut untuk membeli manisan (sweets). Manisan tersebut tidak disimpan untuk diri sendiri, melainkan dibagikan kepada tetangga dan masyarakat dari kalangan Hindu Arya Samaj yang tinggal di sekitar Qadian.
Mengapa dibagikan kepada kaum Arya Samaj? Karena, sebelum wesel itu tiba, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. telah menceritakan nubuatan mengenai uang 21 rupee tersebut kepada mereka sebagai bukti bahwa Allāh SWT mendengar doa dan bercakap-cakap dengan manusia pada zaman ini.
Tindakan ini menunjukkan betapa Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. memanfaatkan setiap tanda-tanda kebenaran Ilahi bukan untuk kesombongan atau kejumawaan diri, melainkan sebagai sarana untuk menyebarkan kebahagiaan, mempererat persaudaraan, dan membuktikan kebenaran Islam kepada masyarakat luar.
V.4. Kutipan Kitab Ḥaqīqatul-Waḥiyy dan 100 Juta Saksi
Huzur atba. kemudian mengutip pernyataan agung Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. yang tertulis dalam kitab beliau, Ḥaqīqat-ul-Waḥiyy,
“Tidak ada satu bangsa pun di antara bangsa-bangsa di dunia ini yang di dalamnya Tanda-tanda kebenaran saya tidak tampak, dan tidak ada satu sekte pun yang tidak menjadi saksi atas Tanda-tanda saya. Bukanlah suatu hal yang berlebihan untuk menyatakan bahwa jumlah saksi yang telah menyaksikan Tanda-tanda ini telah mencapai satu kror (seratus juta) jiwa.
“Namun, sungguh menyedihkan kondisi para penentang itu bahwa mereka tidak mengambil manfaat sedikit pun dari Tanda-tanda ini.
“Seandainya Tanda-tanda yang diperlihatkan kepada mereka ini ditunjukkan kepada kaum Yahudi pada zaman Hadrat 'Isa ibnu Maryam a.s. [Nabi Isa putra Maryam], niscaya mereka tidak akan dicap sebagai 'orang-orang yang ditimpa kehinaan'. Seandainya kaum Nabi Lūṭ a.s. menyaksikan Tanda-tanda ini, niscaya mereka tidak akan ditimbun di dalam bumi akibat gempa bumi yang dahsyat itu. Namun, aduhai malangnya hati-hati yang ternyata lebih keras daripada batu ini! Kegelapan yang telah menyelubungi hati mereka melebihi segala jenis kegelapan.
“Hakikat yang sebenarnya adalah, sebagaimana dunia telah mengalami kemajuan pesat dalam hal sarana-sarana material, demikian pula dunia telah melangkah sangat jauh dalam kekufuran dan ketiadaan iman. Oleh karenanya, kekufuran yang 'maju' ini menuntut agar ia tidak ditimpa oleh hukuman yang biasa-biasa saja, melainkan harus ditimpa oleh azab yang tolok ukurnya belum pernah turun sejak awal penciptaan dunia. Bagaimanapun juga, ribuan ucapan syukur kita persembahkan ke hadirat Allah Ta'ala, bahwa cahaya yang ditolak oleh para penentang kita sehingga mereka tetap berada dalam kebutaan, cahaya yang sama itulah yang menjadi sebab bertambah tajamnya penglihatan dan mata batin rohani kita.”
Namun, ya, Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s. menumpahkan rasa prihatin dan kesedihan hatinya karena meskipun Tanda-tanda Ilahi telah tampak begitu terang bagaikan matahari di siang bolong, banyak dari kalangan penentang yang tetap memejamkan mata dan tidak mau mengambil manfaat rohani darinya.
VI. MENGAKHIRI khotbah jumatnya, Ḥaḍrat Khalīfatul Masīḥ V atba. merangkum seluruh pembahasan dan memberikan petunjuk praktis serta arahan rohani bagi seluruh Jemaat Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia:
VI.1. Menjadikan Syukur sebagai Karakter Utama Pribadi Muslim
Huzur atba. menegaskan bahwa setiap pribadi Muslim Ahmadi hendaknya meneladani standar rasa syukur Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s.. Kita harus menjadi hamba yang senantiasa bersyukur, baik kepada Allāh SWT atas segala nikmat-Nya, maupun kepada sesama manusia atas kebaikan sekecil apa pun yang mereka berikan. Jangan pernah ada sikap meremehkan atau tidak menghargai pemberian orang lain.
VI.2. Menghindarkan Diri dari Sifat Kesombongan dan Angkuh
Kenaikan jabatan, peningkatan derajat ekonomi, maupun keberhasilan dalam pekerjaan Jemaat tidak boleh memunculkan benih-benih kesombongan dalam diri. Rasa syukur yang sejati akan selalu melahirkan kerendahan hati (tawadhu'), ketundukan jiwa, dan sujud sukur yang semakin mendalam di hadapan Allāh SWT.
VI.3. Menghargai dan Mendoakan Para Mujahid atau Pejuang Agama
Huzur atba. mengimbau seluruh Anggota Jama'ah untuk senantiasa menghargai, mendoakan, dan mengapresiasi orang-orang yang berkhidmat untuk kepentingan agama—baik para mubaligh, pengurus jemaat, sukarelawan, maupun hingga para penderma yang mengorbankan harta mereka.
VI.4. Menyandarkan seluruh Keberhasilan hanya kepada Allāh SWT
Perkembangan pesat Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah yang kini telah tersebar di lebih dari 210 negara di seluruh dunia bukanlah hasil dari kehebatan, strategi, atau kekuatan materi manusia. Seluruh kemajuan tersebut adalah bukti nyata dari bantuan Allāh SWT dan penunaian janji-janji-Nya yang disampaikan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau'ūd a.s., yang terus berlanjut melalui naungan Khilāfat ‘Alā Manhājin Nubuwwah.
Huzur atba. menutup khotbah Jumat ini dengan memanjatkan doa agar Allāh SWT melimpahkan taufiq kepada seluruh Anggota Jama'ah Muslim Aḥmadiyyah untuk dapat mengamalkan akhlaq rasa syukur ini secara ikhlas, menguatkan ikatan persaudaraan rohani, serta senantiasa berada dalam lindungan dan karunia Allāh SWT.
Siaran lengkap dan rekaman video Khotbah Jumat dapat disaksikan melalui saluran MTA Indonesia di https://youtu.be/Fiw2dW1O5ks?si=lcevJ_-fkhCqnFGw.•
Comments