KETAKWAAN Merupakan Manifestasi Sifat Al-Ĥakîm Allah swt. Guna Mewujudkan Kemenangan Islam Kedua
SARIPATI/PETIKAN Khotbah Jumat Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba.—Mesjid Baitul Futuh Morden, Inggris, 7 Desember 2007
KETAKWAAN Merupakan Manifestasi Sifat Al-Ĥakîm Allah swt. Guna Mewujudkan Kemenangan Islam Kedua
SEPANJANG kita berpegang kepada sifat Allah swt. yang Al-Ĥakîm, kita tidak perlu menyembah-nyembah kepada orang-orang atau wujud-wujud lain. Walaupun, situasi politik, melalui perangkat badan-badan pemerintah atau pun pihak legislatif, menakut-nakuti dan menzalimi kita. Cukup Allah swt.-lah yang menentukan! Bukan pihak lain!
KHOTBAH Jumat yang Hudhur (Hadhrat Khalifatul Masih V) atba. minggu lalu (7/12) sampaikan dan disiarkan langsung Muslim Television Ahmadiyya (MTA), memasuki bahasan Sifat Ilahi Al-Ĥakîm atau Yang Maha Bijaksana. Pada awal khotbah, Hudhur atba. menguraikan bahwa sebagian besar ayat-ayat suci Alquran, menyantumkan Sifat Al-Ĥakîm berdampingan dengan Al-‘Âzîz (Yang Maha Perkasa). Sifat Al-Ĥakîm dikenakan untuk pencapaian tingkat pemikiran, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan maupun status tertinggi dan sempurna dalam wujud Allah swt.. Kitab Alquran Karim sendiri telah memenuhi hal tersebut sebagaimana yang difirmankan dalam QS [At-Tîn] 95:9 dan QS [Al-Baqarah] 2:31-33.
Dan sebagai manifestasinya, takwa merupakan manifestasi sifat Ilahi tersebut. Dan hanya manusia yang bisa mengamalkannya, bukan malaikat. Hal ini telah Hadhrat Nabi Adam a.s. manifestasikan dalam bentuk amal-amal saleh. Hudhur atba. bersabda, lebih baik menjadi manusia daripada malaikat. Namun, ini membutuhkan jihad atau upaya yang gigih. Dan puncaknya adalah anugerah kenabian yang Allah swt. sendiri telah mengutus dan mengangkatnya, meski pada kenyataannya, dari zaman ke zaman, senantiasa mendapat penentangan-penentangan.
Hikmah tersebut demikian mendalam. Dan lebih mendalam lagi, terkait sifat Al-Ĥakîm, ketika melalui firman Allah swt. dalam QS 2 :261 menerangkan tentang kasyaf empat ekor burung yang diterima Hadhrat Nabi Ibrahim a.s. tentang jatuh bangunnya para keturunan beliau, yakni kemunduran dan kebangkitan Bani Israil dan Bani Ismail sebagai pemeluk agama-agama samawi.
Di Bani Israil, garis keturunan Nabi Ishak a.s. mengalami kemunduran sesudah era Hadhrat Nabi Musa a.s., dan mengalami kebangkitannya sesudah era Hadhrat Nabi Isa a.s.. Demikian halnya Bani Ismail, ini kita alami pada era Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. dan kebangkitan Islam kedua kali yang pondasinya dibangun kembali oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Hal ini pulalah, yang membawa kita dalam suatu bentuk tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban dan memanifestasikan Sifat Al-Ĥakîm Allah swt., yaitu penerapan takwa.
Penjelasan Sifat Al-Ĥakîm ini, melanjut pada pijakan firman yang tercantum pada QS [Al-An’âm] 6:115. Di dalamnya, Hudhur atba. menerangkan dengan melihat situasi dunia yang tengah kita alami sekarang ini. Dikemukakannya bahwa ayat ini merupakan pegangan bagi setiap orang-orang beriman ketika berhadapan dengan pihak-pihak tertentu yang memusuhi kita dan jemaat Ilahi. Sepanjang kita berpegang kepada sifat Allah swt. yang Al- Ĥakîm, kita tidak perlu menyembah-nyembah kepada orang-orang atau wujud-wujud lain. Walaupun, situasi politik, melalui perangkat badan-badan pemerintah atau pun pihak legislatif, menakut-nakuti dan menzalimi kita. Cukup Allah swt.-lah yang menentukan! Bukan pihak lain!
Hudhur atba. mewanti-wanti kita, bahwa hari ini, keyakinan kita tentang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., tetap kepada wujud beliau sebagai Imam Mahdi; dan pula, sebagai wujud Almasih Yang Dijanjikan (Masih Mau’ud) yangmana Allah swt. telah bangkitkan di antara umat Islam ini. Lantas kini, pemerintah duniawi memiliki hak otoritas apa jika dihadapkan dengan apa-apa yang telah Allah swt. putuskan? Padahal, Allah swt. adalah wujud Yang Maha Bijaksana. Tentunya, pihak-pihak yang memusuhi Jemaat Ilahi inilah yang akan sirna. Dan kitalah yang akan berjaya. Kita jangan mempedulikan apa yang telah mereka putuskan dalam usaha makar-makar mereka yang sedikitpun tidak ada ketakwaan di dalamnya melainkan kedunguan mereka. Tentunya, Allah swt.-lah Yang Maha Bijaksana. Dan dengan keputusan-Nya, kita terikat pada keimanan kita sesuai yang telah Hadhrat Rasulullah saw. teladankan dan amanatkan kepada kita hingga akhir hayat.
Dan, terkait juga dengan situasi Jemaat akhir-akhir ini di beberapa jemaat nasional di seluruh dunia, khususnya Pakistan, Bangladesh dan tanah air kita Indonesia, Hudhur atba. menginformasikan bahwa MTA telah menayangkan secara berseri sebuah program yang diasuh langsung oleh Ketua dan Ahli Sejarah Jemaat Ahmadiyah Maulana Dost Muhammad Sahib Shaheed di Markas Besar Jemaat Ahmadiyah Kota Rabwah, Pakistan. Dalam acara itu, Maulana Dost Sahib membeberkan serangkaian fakta-fakta yang terjadi pada tahun 1974 ketika berbagai institusi politik dan pemerintah Pakistan berusaha keras memberangus misi Islam yang Jemaat Ahmadiyah dakwahkan ke seluruh dunia. Tayangan ini, cukup membuat bungkam para pihak yang memusuhi Jemaat hingga sekarang.
Insya Allah, Jemaat Ahmadiyah akan senantiasa menapak pada alur-alur kebenaran, demi tercapainya manifestasi Al-Ĥakîm Allah swt. dan menyebarkannya kembali ke seluruh dunia. Amin.[] (ALISLAM.ORG/A.SHAHEEN ALI/LB)
Summary selengkapnya di sini oleh Abu Naweed.

Comments