Soekarno - Sejarah yang tak memihak
...
Soekarno - Sejarah yang tak memihak
Posted by iman under: SEJARAH; SOEKARNO .
Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
“ Pak Karno seda “ ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO – pernah berkata ,
“ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.
“ Het is niet meer mijn huis “ – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.
Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
“ Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. “
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
“ Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad “
( Kompas 13 Januari 2008 )
Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !
Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata
( * WS Rendra )
109 Comments so far...
antobilang Says:
13 January 2008 at 8:57 pm.
bangsa kita ini memang suka berlebihan. dan juga, saya kok malah menuduh aksi simpatik para tokoh itu adalah upaya meraih simpati untuk 2009. diakui atau tidak suara pendukung pak harto amat banyak, dan tentunya presiden sekarang tidak mau menghilangkan kesempatan ini.
ya, hitung2 jenguk orang mau mati, siapa tahu berbuah suara ditahun 2009.
saya sudah di jogja nih mas
arya Says:
13 January 2008 at 9:08 pm.
sejarah adalah milik mereka yang berkuasa. ujar2 dari siapa ya mas?
Dony Says:
13 January 2008 at 9:39 pm.
Nasib tragis seorang Founding Father. Cerita sampeyan tentang hari2 terakhir Soekarno komplit sekali, saya baca di biografinya (penyambung lidah rakyat - Cindy Adams), malah nggak ada.
Hidup Soekarno!!!
trian Says:
13 January 2008 at 9:41 pm.
Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran?
apa maksud pernyataan ini, dan postingan sebelumnya, apakah kita justru menjadi bangsa yang arif saat ‘memaafkan’ dan memperlakukan Soeharto lebih baik dibanding Soekarno?
iman Says:
13 January 2008 at 10:24 pm.
trian,
pertanyaan kita kembalikan kepada bangsa ini sendiri..ketika bangsa ini MERASA bisa meniupkan roh roh kebenaran. Yang jelas dalam postingan saya ( atau sebelumnya ) tidak sama sekali menyebutkan sebuah indikasi apa yang disebut arief atau ‘ memaafkan ‘ Soeharto.
Apakah kita bangsa yang arief ? dengan memperlakukan Soekarno berbeda dengan apa yang diterima Soeharto ? Sebuah perspektif lain bisa dibaca disini
lahapasi Says:
13 January 2008 at 11:30 pm.
wah,ceritanya keren mas..
seperti apa sebenarnya sejarah yang benar?
itu pertanyaan yang menghantui kami-kami yang baru lahir kemarin sore.
gempur Says:
13 January 2008 at 11:30 pm.
Sejujurnya, saya sangat terharu dengan prosesi kematian sokearno.. meski orang tua saya bukanlah soekarnois, tapi kebanggaannya menjadi rakyat indonesia hanya didapatkan pada era soekarno..
Saya semakin muak dengan pemberitaan di media masa. Mata dan telinga saya teraniaya.. isinya sama.. MEDIA MASSA TELAH DIBELI UNTUK MEMBENTUK OPINI PUBLIK YANG POSITIF TENTANG SUHARTO DAN KELUARGANYA.. mata dan telinga saya TERANIAYA..
Nico Says:
14 January 2008 at 12:52 am.
Blm bisa komentar secara mendalam. Msh bnyk hal yg harus dipelajari untuk diambil sbh kesimpulan*lg belajar arif:D*
Ninik Says:
14 January 2008 at 12:58 am.
Terus akan kemana di bawah sejarah bangsa Indonesia ini??
Terimakasih atas kunjungan malamnya
ndoro kakung Says:
14 January 2008 at 1:10 am.
menunggu apakah wali kota palembang akan komentar lagi di sini …
Nofie Iman Says:
14 January 2008 at 1:24 am.
Saya pernah menulis beberapa kali tentang Soeharto, termasuk dugaan korupsi yang beliau lakukan dan hal-hal terkait lainnya. Hasilnya? Saya dapat kiriman email protes yang jumlahnya bejibun.
Terlepas dari baik-buruk atau benar-salah, Soeharto memang jenderal besar dengan pengaruh yang luar biasa hebat.
dian Says:
14 January 2008 at 1:43 am.
ternyata antek2x suharto masih buanyak yak.
sebenarnya presiden sukarno memang niatnya mau dibunuh perlahan kok. dewi sukarno malah lebih extreme, presiden sukarno diracun. katanya dg indonesian yg terbata
Dimas Says:
14 January 2008 at 2:09 am.
Miris membaca cerita tentang Bung Karno, bapak bangsa yang diperlakukan tak pantas…
Jadi Soeharto apa kabar ya hari ini?
leksa Says:
14 January 2008 at 5:22 am.
…Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata..
demikian bunyi nya kalau ga salah di Mp3 saya, Mas…
Postingan ini sudah saya tunggu!
mau post karena pernah dengar / baca ceritnya,
tetapi rasanya ga arif kalau bukan sebagai orang ke dua yang mendapat cerita …
Benar kata salah seorang teman saya
…Tidak perlu menjadi seorang Marhen untuk sekedar belajar dari sejarah,
karena sejarah adalah penguasa,
dan marhen bukanlah sejarah..
de Says:
14 January 2008 at 6:53 am.
lha mas terus enake suharto ki diapakno menurut sampeyan? kalo kita memperlakukan suharto sama dengan perlakuannya thd sukarno, lalu apa bedanya kita dengan dia? halah ngomong opo aku iki
jeng endang Says:
14 January 2008 at 7:43 am.
sakit hati kadang membuat orang berpikir tidak jernih kan……..
Goop Says:
14 January 2008 at 7:45 am.
Selalu ada tumbal dalam setiap pergantian kekuasaan, ada sejarah yang ditabiri…
benar sekali mas…. dan keberanian itu menjadi cakrawala memang
ugh… entahlah
datum Says:
14 January 2008 at 7:51 am.
di foto yang atas… Pak Karno tampak lelah…
simple sih… kalo Pak Karno hidup di zaman skrng… di mana banyak media yang meliput.. mungkin nasibnya akan berbeda… Dalam kasus Pak Harto… semua pihak tidak ingin terlihat buruk di mata masyarakat… itu saja tampaknya….
Tia Says:
14 January 2008 at 8:18 am.
jadi terbuka mata hati saya…dan jadi bergetar juga membaca kesaksian ibunya mas…berbeda sekali ya perlakuan antara soekarno dan soeharto di masanya… yah sebagai rakyat kecil,hanya bisa dibathin saja mas…
annots Says:
14 January 2008 at 8:45 am.
jika dulu pak karno terasingkan, bahkan orang mau jenguk saja susah termasuk keluarganya sepertinya berkebalikan dengan mantan presiden suharto, pers ada dimana-mana dan kondisi kritisnya pun dpt diketahui rakyat banyak, bukankah seorang dokter harus menjaga rahasia pasien? Sekalipun seorang Bapak Suharto?
extremusmilitis Says:
14 January 2008 at 9:33 am.
Gila, ampe segitu-nya perlakuan mereka kepada pemimpin besar bangsa ini. Seperti apa yang aku bayang-kan Bung Karno, benar-benar men-jadi tumbal sejarah, demi ber-satu-nya bangsa ini. Seorang pejuang sejati.
Tidak seperti yang akan mati ini setelah ber-kuasa ber-puluh-puluh tahun, aku malah ber-harap dia tidak mati dengan segera, agar dia bisa merasa-kan bagaimana men-jadi pesakitan yang sebenar-nya
Ajie Says:
14 January 2008 at 9:39 am.
Ada yg terlantar di kamar terpencil sampai meninggal, ada yang terbaring menunggu sakaratul maut di kamar mewah, bahkan sejarahpun bisa berbohong, hanya Tuhan yang tahu.
rey Says:
14 January 2008 at 9:59 am.
yaa… pak, liat aja suharto skrg gimana, justru karena peralatan canggih dia blm lolos juga dari Izrail, dan itu kan pasti menyakitkan. Nahh trus lepas dari Izrail babak selanjutnya adalah Munkar - Nakir, hiiii seyeemmm. Hmm kalo Sukarno tau Suharto skrg kayak gini, mgkn gak ya dia komen “1 sama…!” hehehe
Btw di rumah eyang saya di Solo, presidennya masih Sukarno, ndak pernah ganti…
GuM Says:
14 January 2008 at 10:17 am.
bangsa yang arif adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.
tapi sejarah sudah diputarbalikkan.
tidak heran kalau bangsa in belum juga bisa arif.
ronggur Says:
14 January 2008 at 10:54 am.
Jujur saya baru tau cerita tentang bung karno yang seperti ini :(.. dan saya baru sadar kalo buku2 sejarah di jaman saya sd-smp-sma ‘rasa-rasanya’ gak ada yang memaparkan sejarah yang seperti ini, dan lebih banyak bercerita tentang ’suksesnya’ pak harto ‘bapak pembangunan’ ‘membangun’ negri Indonesia…
iman Says:
14 January 2008 at 11:23 am.
dian,..
seingat saya dulu saya nyoblos PKS sih he he…
Leksa,
Benar..saya koreksi,
Rey,
Pecah gesang ndrerek Bung Karno…
aad Says:
14 January 2008 at 11:33 am.
emang rsanya nggak adil banget liat suharto dan sukarno diperlakukan beda….
GuM Says:
14 January 2008 at 11:59 am.
btw, pak. potongan puisi di atas kalo nggak salah pernah ditampilkan di salah satu lagunya iwan fals yang judulnya ‘paman doblang’, yang juga bercerita tentang penderitaan bung karno selama diasingkan.
funkshit Says:
14 January 2008 at 12:03 pm.
kenapa ya suharto tidak mau menghadiri pemakaman soekarno ???
Iwan Awaludin Says:
14 January 2008 at 1:32 pm.
Saya mencintai semua orang yang pernah menjadi presiden Indonesia, mulai dari Sukarno, Suharto, Habibi, Gus Dur, Mega, SBY, dan entah siapa lagi yang akan jadi presiden selama saya hidup.
Kadang kita lupa apa yang pernah kita nikmati di Indonesia ini, ya hasil pekerjaan mereka juga. Dari mulai kemerdekaannya, pembangunannya, krisisnya, dan mungkin suatu saat nanti kebangkitannya.
Semoga Tuhan menganugerahkan pemimpin yang baik buat Indonesia, Aamiiin.
kombor Says:
14 January 2008 at 1:42 pm.
Pak Harto tidak menghadiri pemakaman Soekarno?
Presiden apa yang tidak mau menghadiri pemakaman proklamatornya? Sungguh benar-benar mengecewakan. Dia berprinsip mikul dhuwur mendhem jero bukan untuk menghormati orang tua namun karena takut kebenaran akan terkuak apabila Soekarno diadili secara adil. Sama halnya hari ini, kroni Soeharto tidak berani mengadili Soeharto secara benar karena kroni Soeharto itu takut kebenaran akan terkuak.
Apa Mas Iman akan mengiring jenazah Soeharto nanti ke Giribangun apabila ajalnya tiba?
Rystiono Says:
14 January 2008 at 1:58 pm.
Kalo menurut sayah sih Soeharto itu sudah dihukum sekarang dan lebih menderita dari bung Karno….Mau mati aja susah…dulu mau bunuh perlahan bung Karno, sekarang dia mau mati banyak yang “ngganduli”. Apa ndak sengsara???
** Jangan2 dia udah ditunjukin tempatnya di akhirat, jadi takut buat pulang kesana…makanya nggak mati2… **
Nanti, kalo dia mati, pasti R.I.P (Rest in Pain)…
Semoga aja dia sakit gitu 3-4 tahun gitu…biar harta keluarga cendana abis… (bisa gak ya kira???)
** Tapi saya pribadi udah memaafkan loh…ndak tau bangsa Indonesia **
dewi Says:
14 January 2008 at 2:34 pm.
dan sejarah adalah milik sang pemenang.
btw, abis baca tulisan ini saya baru tau knapa ada gambar sukarno besar2 di rumah saya. mungkin kecintaan ibu saya pada bung karno ditularkan bapak saya yah, yang mantan anggota KKO. bapak tidak pernah bercerita. nanti jika pulang kampung saya akan tanyakan. jadi kangen rumah. *curhat*
sluman slumun slamet Says:
14 January 2008 at 2:35 pm.
Hidup Bung Karno….
Merdeka…..!!!!
Mas Harto dah tobat belum ya? Mungkin hablum minallah-nya sudah beres, tapi jangan lupakan hablum minannaas-nya………….
TJAMKAN ITOE JENDERAL BESAR…
-may- Says:
14 January 2008 at 2:39 pm.
Soal perlakuan nggak sepantasnya terhadap mantan Presiden RI itu, memang berapa kali pernah dengar juga. Tapi.. baru tahu saya bahwa “pengganti”-nya Bung Karno bahkan tidak bersedia meluangkan waktu untuk melawat. Sebuah tindakan yang menurut unggah-ungguhnya orang Jawa “sangat tidak pantas”.
Jadi bisa lebih mengerti kenapa kok kayaknya sekarang susah sekali “check out”. Mungkin ada faktor kuwalat sama Bung Karno juga.
mitra w Says:
14 January 2008 at 2:54 pm.
semua dosa besar yg pernah ada di muka bumi ini pasti akan kembali pada manusia juga…
dan entah mengapa saya rasa kiamat tuh sedang terjadi saat ini…. yup, saat ini.
darma Says:
14 January 2008 at 2:56 pm.
Artikel yang menarik, ada sedikit koreksi tentang kata kata Pak Hartono, bukan ” Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO ” tetapi “Putih kata Bung Karno, putih kata KKO, hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO”. Saya jadi teringat cerita ayah saya tentang Jenderal Hartono ketika kami makan malam sewaktu saya masih kecil, ayah saya cerita Jenderal Hartono termasuk orang yang disingkirkan sama dengan pak Ibrahim Adjie, kalau Pak Ibrahim Adjie didubeskan ke Inggris , pak Hartono didubeskan ke Korea Utara, ditengah masa tugasnya Jenderal Hartono dipanggil pulang ke Jakarta diajak ngobrol ngobrol dengan Kopkamtib, esok harinya beliau ditemukan tewas di kamarnya di Tebet, berita resminya bunuh diri, tapi ayah saya dan teman temannya tidak pernah percaya Pak Hartono yang mereka kenal melakukan bunuh diri. Sedikit tambahan dari cerita ayah saya pada tahun itu (1966 ) Pak Harto telah melakukan konsolidasi dengan menempatkan orang orangnya di Kodam di Jawa, Ibrahim Adjie diganti HR Dharsono, Suryosumpeno diganti Surono di Diponegoro, Kodam Brawijaya dipegang Jenderal Soemitro dan Kodam Jaya seperti kita ketahui dipegang Amir Machmud jadi agak susah Jenderal Hartono untuk bergerak, nggak lama kemudian beliau di Dubeskan ke Korea Utara dan personil KKO diciutkan.
Mayjen Moersjid, Mayjen Pranoto, Brigjen Moh Sabur, Kolonel CPM M Saelan, AKBP Mangil semua ditahan, kata ayah saya pak Saelan itu ditahan 4 tahun dan pas Bung Karno meninggal dia masih di tahanan demikian juga dengan pak Sabur dan Mangil. Setelah bebaspun banyak perwira tinggi yang takut berdekatan dengan mereka padahal dulunya begitu akrabnya ketika masih di SUAD hanya Sudirman, ayahanda Basofi yang tetap rajin ketemu dengan mereka.
Rynie Says:
14 January 2008 at 5:08 pm.
Hukum Karma……….akan selalu berlaku…
camkan itu………..
wieda Says:
14 January 2008 at 6:11 pm.
tragis memang…..tapi itulah kenyataannya….
bung karno yg menggebu, yg ingin membuat bangsa ini besar tanpa utang ke LN malah berakhir tragis….Pak Harto yg mewariskan utang untuk generasi muda entah berapa keturunan malah semakin jadi berita……(apa yah istilahnya yg bener???)……..bahkan adik nya bilang…”goblok bangsa Indonesia klo menuduh pak Harto itu korupsi…..lalu utang2 nya itu untuk apa? mbangun Indonesia? untuk siapa? …ih politik….
Gandhi Says:
14 January 2008 at 7:10 pm.
infotainment gossip di tv ternyata bisa menjadi penyelamat saya setelah siaran tv semua “dikuasai” oleh sakitnya bapak pembangunan [maap saya gak mengakuinya, apa arti pembangunan kalo pengangguran masih banyak dan utang luar negeri menumpuk?].
Ah… indonesyahku…
rievees Says:
14 January 2008 at 9:29 pm.
memang masih byk yang harus diperbaiki dari buku sejarah yang beredar saat ini…
Totoks Says:
14 January 2008 at 11:33 pm.
setelah menbaca 2 postingan terakhir entah maksudnya postingan bersambung atau memang sengaja mengangkat current issue, tetapi intinya kita sebagai warga negara yang bermoral memang sudah seharusnya menghormati setiap pepimpinnya. tidak ada manusia yang sempurna termasuk pemimpin-pemimpin kita, semoga semua mendapatkan perlakuan yang terbaik dari bangsa yang disebut besar ini. dan tetap berharap agar sejarah tetaplah berpihak pada kebenaran
BARRY Says:
15 January 2008 at 1:19 am.
Selama Suharto masih hidup, hukuman yang saat ini dia rasakan saat ini adalah melihat keluarganya sendiri. Ironis sekali…
Luigi Says:
15 January 2008 at 1:25 am.
Sejarah akan kembali berbalik, kok.. terlepas dari itu, pengadilan akhirat jauh lebih adil ketimbang (sandiwara) pengadilan di dunia
-=«GoenRock®»=- Says:
15 January 2008 at 2:21 am.
Sendainya saya punyak Golden Compass, saya bisa tau mana sejarah yang bener dan mana yang ndak bener. kalau perlu saya mau bikin sejarah sendiri huahahahaha!!!!
eko magelang Says:
15 January 2008 at 12:18 pm.
pikiran saya jadi benar : inilah saatnya engkau merasakan juga sakitku kawan
max Says:
15 January 2008 at 12:44 pm.
begitulah, sejarah kita benar2 kabur dan sengaja dibikin kabur. Postingan Mas Iman ini, salah satu bentuk pelurusan sejarah ya. Infonya berguna bangets…
ichek Says:
15 January 2008 at 12:55 pm.
siapa ya… yang berani mengungkap sejarah…???
biar otak2 para petinggi di negri ini sadar!!!
zam Says:
15 January 2008 at 5:50 pm.
ada yg bilang, orang jahat matinya susah.. disiksa dulu.. sedangkan orang baik justru dipercepat.. bener ndak ya?
dnk_setiawan Says:
16 January 2008 at 10:46 am.
nda tahu ya, kok sy nda begitu hormat kepada kepada k2 eks presiden kita itu
kebijakan yg masing2 mereka ambil nda cocok di hati nurani sy,
menurut sy pribadi tokoh yg paling pantas di jadikan panutan adl Moh. Hatta
dari cara dia berpolitik, pemikiran2 nya, kharismanya, plus kesalehannya
sayang belum bisa menemukan lagi tokoh yang seperti dia,…..
rozenesia Says:
16 January 2008 at 11:24 am.
Kekuatan media, ya seperti yang dipaparkanmas Gempur.
Ada kekuatan media di balik semua ini. Media yang diam saja tanpa ada kehebohan apa-apa saat Soekarno menjelang ajal dan wafat. Media diam karena tekanan penguasa. Sekarang media dengan gencarnya memberitakan Soeharto… Opini publik bisa diarahkan oleh media.
Itu yang membuat saya ironis.
dewi praz Says:
16 January 2008 at 11:29 am.
Artikelnya menarik..
Apa orang indonesia dulu terlalu takut dgn kebijakan yang baru? sampe2 orang yang memproklamirkan Indonesia menjadi negara yang merdeka tidak diperlakukan dengan selayaknya..
tari Says:
16 January 2008 at 3:11 pm.
saya menganggap bahwa pemerintahan Soeharto selama 32 tahunlah yang harus bertanggung jawab sehingga membuat bangsa indonesia seperti ini sekarang: mementingkan materi, budaya KKN, hedonisme, komsumtif/pemboros, sumber daya alam habis, tidak mandiri, dll. Pembangunan yang dilakukan selama Orde Baru hanya pembangunan semu karena dibangun dengan hutang yang entah kapan bisa terbayar lunas, eksploitasi sumber daya habis-habisan, dan terutama tidak ada pembangunan moral sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat.
#kog jadi berapi-api gini ya..#
CY Says:
16 January 2008 at 5:14 pm.
Ah…, seandainya Bung Karno sejak awal tahu akhirnya bakal seperti itu mungkin dia tetap akan berjuang utk negara ini. Dia seorang jago politik pasti tahu bakal diperlakukan seperti itu, tapi pilihan itu tetap diambilnya.
Kalau ada mesin waktu utk kembali ke saat itu saya ingin sungkem dihadapan beliau sebagai tanda salut dan hormat sebesar2nya.
didats Says:
17 January 2008 at 2:59 am.
2 tulisan terakhir mas iman cerdas!
mengangkat current issue, tapi gag bercerita langsung dengan yg lagi sakit itu.
sebagai bangsa indonesia, bangga pernah punya presiden kaya soekarno, walopun cuma dari buku2 sejarah sd dan smp.
kalo suharto? aku doain biar umurnya masih panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang….
Donny Verdian Says:
17 January 2008 at 4:33 pm.
Tulisan yang bagus, Mas.
Kalau boleh saya berkomentar justru memang dari perbedaan kondisi antara BK dan PakHarto yang bisa membuat kita berkesimpulan, mana yang lebih besar.. AMDG!
dee Says:
17 January 2008 at 8:30 pm.
halo..
salam kenal, biasanya jadi silent reader, sekarang ikutan komen
senang sekali bisa membaca tulisan sejarah yang dialami atau diceritakan sendiri oleh orang tuanya seperti mas iman dan mas darma..secara waktu sd dulu yang disuruh baca buku 30 tahun indonesia merdeka
aufklarung..
ethie Says:
18 January 2008 at 9:29 pm.
Ironis… Kok buku sejarah yang saya baca ndak pernah ngutip seperti yang diposting mas iman ya? **frustasi**
Silent Cyber Says:
19 January 2008 at 12:25 am.
berarti dari dulu buku buku sejarah ini banyak bohong nya dong
DM Says:
19 January 2008 at 1:03 am.
Tulisan yang membuka mata! Sejarah tersipu-sipu malu mencatat fakta ini…
ancilla Says:
19 January 2008 at 2:13 pm.
mampir mas
sejarah tidak bisa berbohong, nanti juga sejarah yang membuktikan
Bung Karno sudah lama meninggal, bahkan meninggal di perasingan. masih banyak kita lihat wujud cinta masyarakat kepada beliau.
saya pribadi tidak setuju kalau kearifan bangsa dianalogkan dengan memaafkan tokoh besar bagi bangsa. mungkin memang tidak ada yang sempurna sehingga harus saling memaafkan. tapi kalau mau dimaafkan, atau diberi grasi-amnesti dan segala jenisnya harus melalui satu tahap dulu bukan? pengadilan yang menyatakan bersalah. apa saya benci padanya? tidak. ngapain cape2.. hehehehe… hanya tidak suka kalau sejarah terus dibiarkan menggantung tanpa kejelasan.
Fadli Reza Says:
21 January 2008 at 7:26 am.
Semoga masyarakat tidak melupakan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan Proklamator kita Bapak Sukarno.
saya sendiri sudah muak dengan pemberitaan media yang berlebih tentang suharto.
Ketika seluruh alat canggih didatangkan untuk si harto, hanya vitamin yang didapat oleh Bapak Sukarno.
Ketika semua mantan pejabat dalam dan luar negeri bisa menjenguk si harto, Bapak Sukarno hanya bisa bertemu 3 kali seminggu dengan keluarga² beliau
sungguh IRONIS dan kejam sekali si harto memperlakukan Pendiri Bangsa kita..
terlepas akan kebaikan dan kesalahan yang dimiliki oleh Bapak Sukarno, beliau adalah founding father Indonesia yang pantas untuk dihormati.
ary kurniawan Says:
21 January 2008 at 8:17 pm.
tapi kalau menurut pendapatku perlakuan bung karno terhadap lawan-lawan politiknya juga sama saja seperti apa yang dilakukan oleh pak harto, bagaimana waktu itu bung karno memenjarakan buya hamka sama kejamnya dengan perlakuan pak harto terhadap dirinya. jadi menurutku itu juga mungkin ‘karma’ yang didapatkan oleh bung karno karena kekejamannya pada saat memimpin dulu. Sehingga mungkin kehidupan bung karno dan pak harto bisa menjadi sebuah catatan bagi para pemimpin negeri ini kelak untuk bisa arif dalam menghadapi musuh-musuh politiknya sehingga tidak ada yang merasa di zalimi dalam perpolitikan di tanah air ini, karena menurutku pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mementingkan kepentingan bangsa dan negara bukan sekedar mementingkan kursi kekuasaannya semata. sudah adakah sosok pemimpin baik di negeri ini??
Ray Says:
23 January 2008 at 12:58 am.
dirumah saya gambar presidennya masih Bung Karno, yg lain tidak bertahan lama, bahkan cenderung tidak pernah terpasang, ya hanya Bung Karno dan burung Garuda Pancasila yg tetap berada di tembok rumah saya
Athailah Says:
26 January 2008 at 11:35 am.
Soekarno begitu karena mendapat karma atas kebohongan dia kepada Rakyat yang setelah menghiba-hiba minta tolong sambil mengeluarkan air mata buaya lalu ditelantarkan.
Malah rakyat yang dulu daerahnya paling gigih melawan penjajah dan memberikan modal buat bangsa ini di lebur ke provisi Sumatra Utara, walaupun kemudian kembalikan kembali seperti semua, namun rakyat daerah tersebut tetap menderita.
Jaman soeharto lebih parah lagi, jaman Megawati apalagi. hanya di jaman Soesilo mereka bisa bernafas dengan lega. Gak tau abis 2009 ini gimana lagi…..
khendy Says:
27 January 2008 at 12:50 pm.
emang bener sih ngga ada manusia yg sempurna pasti punya kesalahan2 dimasa lalu, tapi gw baca dari mantan ajudan soekarno,
“Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang,”
what a man!!!! ini baru ucapan seorang pemimpin
what a bout soeharto?? ada kah komentarnya sebelum ajal menjemputnya???? mungkin wasiatnya cuma “anak2 dan cucu2ku jaga harta kalian jangan sampai habis, karena harta kalian bisa untuk lebih dari 7 turunan”
khendy Says:
27 January 2008 at 1:38 pm.
akhirnya meninggal juga penguasa orde baru, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT
Antonius Says:
27 January 2008 at 2:01 pm.
Mantan presiden soeharto uda meninggal tuh… Semoga diterima aza deh di sisi Bapa
wening Says:
27 January 2008 at 5:05 pm.
baru nemu blog ini nih.
pa’de….aku link boleh ya.
oiya,,bpk Soeharto sudah berpulang ke Sang Kholik ya..
Lamsijan Says:
27 January 2008 at 5:11 pm.
Selamat jalan Soeharto bangsa ini tidak akan pernah melupakan Jasa Baikmu dan Jasa burukmu, semoga ALLAH memberikan tempat yang terbaik, sesuai dengan apa yang kamu perbuat dimasa hidupmu tidak lebih dan tidak kurang.
Sony AK Says:
27 January 2008 at 5:45 pm.
Poor Soekarno, semoga semua yang telah dilakukannya bagi bangsa ini mendapat balasan dari Allah SWT. Hidup Soekarno. Sedih membaca perlakuan penguasa terhadap Soekarno, akibat dari ketatnya sistem pada jaman itu dan arus informasi tidak sekencang saat ini. Oh ya, selamat jalan juga buat Soeharto. (sony-ak@mobitrek.com)
vitrelle Says:
28 January 2008 at 10:09 am.
Negara juga memberikan biaya perawatan penuh kepada Soeharto. Selama 16 kali perawatan di RSSP, seluruh ongkosnya ditanggung pemerintah.
Ini pernah ditegaskan Mensesneg Hatta Radjasa di hari ke-12 dari 23 hari Soeharto dirawat.
Total seluruh biaya yang dipakai Soehaerto selama 24 hari ditaksir sekitar Rp 1 miliar.
vitrelle Says:
28 January 2008 at 10:11 am.
ini link-nya… sorry lupa dikasi footnote yg tadi…. “http://www.tribun-timur.com/viewrss.php?id=61706″
biasa2ajadey Says:
28 January 2008 at 12:51 pm.
pak harto udah meninggal, boleh aja sih maafin beliau, tapi doku negara yg bejibun itu balikin dooongkk!! anak2nya sadar dong kalo bokapnya mau dimaafin ya balikin juga duit negara plus perusahaan yg udah diklaim jadi milik mereka, setuju gak??
phreakazoidz Says:
28 January 2008 at 4:03 pm.
sedih bacanya !!!
Soekarno :
Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang!
semoga kebenaran dapat mulai sedikit demi sedikit terkuak.
meges Says:
28 January 2008 at 4:35 pm.
miris, sedih, haru, kagum sekaligus bangga pernah punya bapak bangsa yang disaat2 terakhir masih membela bangsanya sendiri walaupun bangsanya menelantarkannya..,
semoga ia diberikan tempat terbaik disisi-NYA..,
AMIN…,
Rio Octaviano Says:
28 January 2008 at 4:41 pm.
Saya belum lahir waktu itu, saya belum tahu apa-apa ketika berlangsung kejadian ini, saya hanya mendengar..saya hanya melihat cerita….
Apapun itu..apabila cerita ini benar adanya…sangat miris hati ini….sementara sang proklamator mendapatkan perlakuan sedemikian rupa…
Semangat bangsaku…Masa lalu hanya dapat dijadikan pelajaran, tapi bukan menjadi terhambatnya cita-cita bangsa….apapun kejadiannya….kita adalah pemegang kekuasaan sekarang ini…karena kekuasaan adalah ditangan rakyat….
Maju Bangsaku..maju negeri ku….
http://digitalmbul.com/blogs/2008/01/28/soekarno-sejarah-yang-tak-memihak
oiya..saya dibesarkan oleh keluarga pejuang, dan seperti yang kita tau, para pejuang hampir seluruhnya antipati terhadap beliau…tapi ketika saya menikah, saya berada di kalangan orde baru…
Dan saya mengambil jalan tengah dari semuanya….Hidup Bangsaku…dan Jangan Hidup di masa lalu wahai bangsaku…
Kurnia Says:
28 January 2008 at 4:51 pm.
Saya melihat bagsa ini sudah terkena lupa akan sejarah, apayg dilakukan oleh media masa tidak berimbang, dan cendrung mencitrakan soeharto sbg pahlawan, apapun yg dilakukan soeharto ada jasanya namun akibat yg ditanggungnyapun luar biasa, kondisi ekonomi yg katanya lebih makmur dr sekarang akibat dr subsidi yg sumbernya dr hutang LN, dan kebanyakan hutang itu larinya ke keluarga dan kroni soeharto.
INGAT Membangun Bangsa dengan Mental dan Jati diri lebih sulit dr pada membangun fisik. Soeharto gagal dalam membangun sikap mental, shg melahirkan mental Korup.
dan kesalahan terbesar soeharto adalah membiarkan mesin politik (militer dan birorkarsinya) merampok kekayaan negara. Jadi tinggal tunggu Azhab yang diterima soeharto di alam kubur akhirat beserta keluarga dan kroninya.
quro sidiq Says:
28 January 2008 at 5:02 pm.
Soekarna = > buya hamka, dll..
Soeharto = > amien rais, dll..
ingat bung, setiap pergantian kekuasaan pasti memakan korban, baik soekarno maupun soeharto sama saja, pun begitu dengan penguasa-penguasa Indonesia yang akan datang..t
quro sidiq Says:
28 January 2008 at 5:08 pm.
tapi sejarah berkata, kebenaran harus ditegakkan, soekarna harus dihukum atas semua kejahatan politiknya, begitupun dengan aki soeharto dan pemimpin2 lain yang pernah menguasai Indonesia.
Itulah seadil-adilnya pengadilan dunia. Terlepas dari kesalahan yang mereka buat, kita tetap harus melihat setiap permasalahan seorang pemimpin dengan proporsional, barulah kita menjadi bangsa yang bijak.
Kurnia Says:
28 January 2008 at 5:13 pm.
Soeharto dn kroninya telah melakukan kebohongan publik yg luar biasa dalam kasus kejahatan ekonominya, saya sangat sedih dengan bangsa ini yg selalu mudah melupakan sejarah bangsanya, belum lagi kebohongan politiknya, ingat kasus supersemar itu adalah titik awal kudeta secara halus yg dilakukannya
INAMAS Says:
28 January 2008 at 8:48 pm.
JAS MERAH !!!
JANGAN SEKALI KALI MENINGGALKAN SEJARAH !!!
KARNA SUATU SAAT KAU PUN HANYA AKAN MENJADI SEJARAH ITU SENDIRI !!!
SELAGI HIDUP BUATLAH SEJARAH YG TIDAK AKAN DILUPAKAN SEPANJANG MASA
NOPLE Says:
28 January 2008 at 11:16 pm.
jelas soeharto dapat perlakuan dengan servise ala VIP
dulu emang soeharto baek hati memberikan “sedikit” hartanya untuk anthek2nya.
berhubung anthek2nya masih pada hidup ya paling balas jasa atas apa yang dilakukan soeharto dulu.
yang jadi persoalan ngapain soeharto memberi anthek2nya…kok ga yang lebih membutuhkan.
sawunggaling Says:
29 January 2008 at 9:16 am.
Lazimnya, keluarga yang ditinggal mati, akan menyampaikan sambutan kepada hadirin semua dan meminta kepada seluruh hadirin untuk memaafkan kesalahan almarhum dan juga akan menyampaikan BAHWA BILA ADA HUTANG/PIUTANG YG BELUM DIBAYAR, MAKA DOPERSILAKAN UNTUK MENYELESAIKANNYA DG KELUARGA YG DITINGGALKAN. Namun, saat mbok Tutut menyampaikan sambutan pada kematian bapaknya, suharto, hanya permintaan maaf saja yang keluar dari mulutnya, dan minta doa buat yg mati. Tak lazim, mungkin karena mbak Tutut takut kalau-kalau datang jutaan orang berjubel minta ganti rugi. Bung karno dan Suharto, Keduanya mantan presiden, namun yg satu wafat sebagai orang yg terzalimi, sedang satunya penuh gegap gempita, bahkan presiden pun perlu menangis segala. kalau dulu, rakyat yg menangis kehilangan mantan presidennya, jutaan rakyat mengiringi sepanjang jalan, sekarang pejabat-pejabat yg menangis. Beda memang. Mungkin karena jamannya memang beda??? Yg jelas, warisan Suharto yang tak terbantahkan adalah, warisan budaya korupsi berjamaah. Sedih… bangsaku makin terpuruk ….
ari Says:
29 January 2008 at 11:01 am.
Sebagai anak bangsa yang tidak pernah merasakan kepemimpinan Soekarno, tentu sangat sulit bagi saya untuk menceritakan tentang san Proklamator. Namun saya mendapat cerita tentang Pahlawan kemerdekaan itu dari orang tua saya, serta membaca tentang Soekerno dari berbagai sumber. Saya salah seorang anak bangsa yang sangat mengagumi kepemimpinan Soekarno, tegas, beribawa, bersahabat, dan bersahaja.
Memang seharusnya bangsa ini lebih introspeksi, mengap selama ini kita mengabaikan orang yang telah berjuang, sanggup mengorbankan apa saja demi bangsa ini, sehingga kita pada hari ini bisa menghirup udara kemerdekaan. Memang sangat disayangkan sejarah meninggalnya Bung Karno, memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan mininggalnya Soeharto. Secara akal sehat saja kita bisa memilah, bahwa seharusnya prosesi pemakaman Soekarno lebih baik dari Soeharto karena beliau adalah bapak kemerdekaan. Perawatan Soekarno seharusnya lebih baik dari Soeharto karena beliau adalah orang yang telah berjasa memberikan kita kemerdekaan. Mengapa bangsa kita menjadi bangsa yang tidak bisa berterim kasih.
wahyu sewelas Says:
29 January 2008 at 11:47 am.
Sejarah harus diluruskan!!!, bangsa ini gak akan pernah maju kalo gak belajar KEBENARAN, suharto naik jadi presiden karena didukung USA dengan CIA-nya, USA harus buka ‘CLASSIFIED FILE” mereka mengenai PERISTIWA 30 SEPTEMBER dan ngakuin conspiracy mereka dalam menjatuhkan PRESIDEN SUKARNO. USA berhutang sejarah kepada INDONESIA!!!!
Yrel Says:
29 January 2008 at 12:48 pm.
Artikel yang sangat menarik mas, sedih sekali bangsa ini yang bertindak tidak fair terhadap sang proklamator jadi pengen tau sejarah yang sebenarnya cerita lagi donk…
marhen Says:
29 January 2008 at 1:16 pm.
sudah tentu media TV mengelu2kan soeharto, krn stasiun tv sdh dikebiri oleh karena saham2 keluarga cendana tertanam disana, setelah soeharto mati, aku berharap catatan sejarah diluruskan, terutama di sekolah2, pencucian otak yang dilakukan soeharto selama puluhan tahun dengan memutar film bodoh G30SPKI mesti secepatnya diputar balik ceritanya. Lihat saja poto soeharto waktu muda sama persis dengan tomi, wajah nakal, wajah bandit. Lagian mana bisa petinggi bangsa ini mengadili soeharto, petingginya saja dibesarkan oleh soeharto, lihat gambar2 masa lalu soeharto saat pidato, perhatikan wajah2 para ajudan, mereka itu yang kemudian menjadi jendral dengan kenaikan pangkat secepat roket. Contoh: waktu pengunduran diri soeharto, dibelakangnya ada sutanto, sekarang dia sudah jendral, gile bener, gimana negara gak hancur???
Robby A. Sirait Says:
29 January 2008 at 2:13 pm.
Selamat jalan pak harto!!!! Semoga dosa-dosanya diampuniNya!!!… dan kalau engkau bertemu dengan Bung Karno dialam baka sana, samapaikan permohonan maafmu sedalam-dalamnya (tanpa malu-malu) atas perilakumu terhadap beliau dan sejarah bangasa ini.
Meskipun Bung Karno menjelang ajalnya penuh dengan penderitaan (dikucilkan, ditelantarkan dan dibunuh perlahan), beliau tetap menjalani dengan berlapang dada karena yang diinginkanya supaya keutuhan bangsanya tetap terjaga, beliau tetap menikmati hari-hari terakhirnya dengan ditemani secangkir kopi dan makanan tradisional setiap pagi hari. Berbeda dengan Pak Harto yang dihari-hari terakhirnya ditemani oleh banyak alat medis yang menggerogoti tubuhnya (sebenarnya sudah masuk fase rekayasa/manipulasi alat medis agar organnya tetap berfungsi).
Ilham Says:
29 January 2008 at 10:17 pm.
well, masih ada yg ingin meneruskan ‘building nation’-nya sukarno? sepertinya sudah terlambat separuh abad. Dan memang lebih (sangat) sulit membangun karakter bangsa daripada ‘hanya’ membangun fisik bangsa. Sayangnya pemikiran beliau saat itu (maupun sekarang) masih terlalu jauh untuk hanya sekedar dipahami oleh bangsa yang mau dibawa kemana saja pun mau, asal perut kenyang. Pertanyaannya, masihkah ada harapan? kalau jawabannya tidak, ya sudah, bangsa ini jual diri saja sekalian kalau memang sudah tidak ada lagi yang mau dijual untuk ‘mengenyangkan’ perut.
stey Says:
29 January 2008 at 10:40 pm.
saya bukan soekarnois..bukan pula pencaci soehartosaya cuma bingung dengan perlakuan berbeda yg diterima dua pemimpin itu..
brek Says:
30 January 2008 at 2:44 am.
Memaafkan suharto…… apa kesalahan dia?????. koruptor. penindas,diktator.pembunuh???pengadilan sampai hari ini belum mampu menunjukkan itu..atau hukum yang gemetaran bila mendengar nama suharto.
memaafkan tanpa pembuktian kesalaha secara hukum, sama saja artinya kita setuju bahwa negri ini tak perlu hukum.
marhen Says:
30 January 2008 at 12:40 pm.
mas Iman boleh nambah comment ya…nuwun
satu lagi untuk saudara2 setanah air yang sedikit mau peduli …
Perbedaan jelas antara soekarno dan soeharto adalah jika dulu soekarno mengajak bangsa kita untuk lepas dari penjajahan bangsa asing (barat), kalo soeharto justru membiarkan bangsa kita terus dijajah oleh bangsa asing (barat)… secara ekonomi, dan kalo mau lebih melek liat saja ekploitasi sumber daya alam kita diseluruh negeri ini oleh bangsa asing. Itu tandanya soeharto bukan pemimpin yang bertanggung jawab. Dia mengambil keuntungan untuk perutnya sendiri, sedangkan yang lain hanya propaganda agar dia didukung oleh rakyat.
Jelas ada wajah cina di mata soeharto tapi pada masa dia menjabat, seolah cina gak layak tampil dimuka publik, padahal dibalik itu semua dia dekat dgn pengusaha2 cina termasuk yang konon sodara tirinya. Bener2 muna!!!… kalo gitu masih jelas Gus Dur dong, setelah Gus Dur menjabat WNI keturunan di negeri ini (Cina) bisa ‘tampill’ … lihat saja banyak artis cina TV.
Tentu saja soeharto menggerakkan anak2nya untuk bisnis, bahkan investor asing mesti berhubungan dengan anak2nya jika akan investasi di indonesia, lawong soeharto cina —> rajanya otak bisnis di seluruh dunia.
Jelas betul beda betul soekarno dan seoharto, okelah kita gak ngerasin jaman soekarno, tapi toh sejarah mencatat.
yang penting dari itu semua … generasi muda melek, melek hukum, melek sejarah, bangkit!!!untuk mengambil hak kita semua …. yaitu harta keluarga cendana yang sebenarnya harta rakyat. Setidaknya untuk membayar hutang luar negeri. Gitu loh
iwamardi Says:
31 January 2008 at 2:34 am.
Diajukannya usul oleh golkar utk melantik (posthum) Soeharto sbg pahlawan Indonesia adalah bukan saja tak layak tapi malah memalukan !! Bagaimana Indonesia mempunyai pahlawan yg membunuh rakyatnya sendiri dan rakyat TimTim sebanyak 3 juta + 200.000 ?
Bagaimana Indonesia bisa punya pahlawan yg menurut PBB adalah maling negara yg terbesar didunia ? Malu awak jadi orang Indonesia !
Konklusinya adalah : yg mengangkatnya menjadi pahlawan pastilah orang2 yg semacam dia juga. Logis bukan ? Dan mereka (pengusul2 ini ) sedikit banyak duduk dipemerintahan kita.
Jadi macam pemerintah apa sebetulnya yg ada di Indonesia sekarang?
Bayangkan saja, Hitler diusulkan menjadi pahlawan Jerman, Pinochet jadi pahlawan Chili, Franco jadi pahlawan Spanyol ! Itu bisa kalau yg kuasa di Jerman orang2 neonazi. dst,dst.
Logis bukan ?
ika Says:
31 January 2008 at 7:23 am.
wew..belum baca postingan inih sebelumna,,thanks to funkshit yang udah merujukkanku kemari,,sedih baca postingan ini pak,jadi mau nangis sayah,, ;p
nona.manizz Says:
31 January 2008 at 3:21 pm.
BELUM BISA DI PASTIKAN KEBENRANYA ……….. SEBELUM BUKTI2 ITU TUNTAS
SEBAIKNYA PARA PERS MENCARI TAU TENTANG KEBENARANYA
KARENA SEJARAH YANG LAMA HARUS TERUNGKAP YANG SEBENAR2NYA
DAN PEMERINTAH HARUS MENGHAPUSKAN KESALAHAN YANG ADA LALU MEMPERBAIKI DENGAN BAGUS , WALAU BAGAI MANA PUN MEREKA TETAP BERJUANG MEREKA TIDAK MEMBUAT BANGSA DI PANDANG SEBELAH MATA …ITU YANG PERLU PEMERINTAH PELAJARI…..
DARAH YANG TERTUMPAH JUGA MEMBUHTIKAN KALAU MEREKA JUGA TIDAK MEU MELUKAI BADAN BANGSANYA SENDIRIKAN.!!!!!!!!!!!
Rusdi Mathari Says:
31 January 2008 at 4:57 pm.
Mas,
Maaf cuma sekadar tanya. Artikel ini tulisan Anda sendiri, atau tulisan WS Rendra? Kalau tulisan Anda saya minta izin mengutip seluruhnya di blog saya. Kalau tulisan WS Rendra, di mana saya bisa membaca tulisan aslinya? Sorry banget, hanya sekadar tanya.
tabik
rusdi mathari
--
*istgfr+tsbh+slwt+wßlm*
“Don’t hate one another and don’t be jealous of one another, and don’t boycott one another and be servants of God as brethren.” --Muhammad saw.
“Hatred doesn’t cease by hatred, but only by love; this is eternal rule.” --Budha a.s.
“Love your enemies!” --Jesus a.s.
“Love for All, Hatred for None!” --Mirza Nasir Ahmad r.h.
Comments