GEJOLAK Kondisi Dunia pada Zaman setelah-Kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
SARIPATI Khotbah Jumat Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba.
GEJOLAK Kondisi Dunia pada Zaman setelah-Kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
“...SETELAH Kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., baik di Barat atau Timur ataupun di negara-negara maju dan berkembang, semuanya dilanda berbagai musibah.”
KHOTBAH Jumat yang Hudhur (Hadhrat Khalifatul Masih V) atba. sampaikan dan disiarkan langsung Muslim Television Ahmadiyya (MTA) minggu lalu (23/11), membahas keadaan dunia sekarang baik di Barat maupun di Timur ataupun di negara-negara maju maupun negara berkembang, semuanya tengah dilanda berbagai musibah. Sebagian mengkhawatirkan banyaknya gangguan di dalam negeri. Sebagian lagi mengalami ketakutan yang sangat akan ancaman terorisme internasional yang ditimbulkan sikap politik ataupun yang mereka istilahkan berdasarkan agama. Padahal sesungguhnya, tak ada satu pun agama sejati yang mengajarkan teroris khususnya Islam. Sebab, di dalam Islam sangat diharamkan melakukan perbuatan makar. Namun, memang sangat disesalkan apabila ada pihak tertentu yang melakukan kekerasan atas nama agama.
Kemudian, banyak lagi negara yang tengah bergelut mengatasi berbagai bencana alam mereka. Pendek kata, setiap orang yang bersimpati kepada perikemanusiaan dan takut kepada Allah namun tidak berdaya, akan berkesimpulan, bahwa kini seolah tak ada lagi rasa tenteram hidup di dunia ini. Akan tetapi, pada situasi seperti sekarang ini, justru kaum Ahmadi-lah yang merasakan nikmat ketenteraman hati.
Hudhur bersabda, beliau banyak mendapat infomasi, baik dari dalam [Jemaat] maupun dari berbagai sumber lainnya, sebagian besar orang Ahmadi memprihatinkan situasi global maupun dalam negeri mereka saat ini. Sikap keprihatinan ini timbul sebagai dampak positif revolusi hakiki keimanan mereka berkat ajaran Sang Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Almasih Yang Dijanjikan atau Masih Mau'ud a.s.. Karena sesungguhnyalah, salah satu tujuan kedatangan beliau adalah untuk menguatkan iman manusia sekaligus menunjukkan keberadaan Tuhan. Sebaliknya, keadaan manusia yang mengalami berbagai kecemasan ini dikarenakan mereka hanya mengandalkan berbagai hal kepada material-duniawi. Hubungan mereka dengan Tuhan terputus.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa diri beliau diutus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakan mereka, dan juga untuk membatilkan kekerasan atas nama agama. Hudhur bersabda, dua hal utama perintah di dalam Alqur'an adalah berkaitan dengan cinta kepada tauhid Ilahi dan sikap simpati kepada sesama manusia.
Hudhur bersabda, kita beruntung sudah menerima kebenaran Imam Zaman yang diutus untuk memperbaiki dunia yang kini tengah dilanda sikap mementingkan diri sendiri. Dia menunjukkan jalan untuk menghindari diri dari keburukan tersebut. Maka tugas setiap orang Ahmadi-lah untuk menunjukkan tauhid-Ilahi, menunjukkan hubungan pribadi mereka dengan Allah swt., sekaligus bersimpati kepada sesama manusia. Hudhur bersabda, sudah sejak lebih dari seratus tahun yang lalu Jemaat ini sudah berkhidmat, memperlihatkan hal itu semua dengan sebaik-baiknya.
Kita harus senantiasa berusaha dan menjelaskan kepada dunia, latar belakang sebab-musabab timbulnya berbagai bencana alam maupun gangguan keamanan yang kini melanda sekeliling kita. Lakukanlah sesuai kemampuan yang ada. Melalui
Merujuk kepada badai taufan dan banjir di
Selanjutnya Hudhur menyinggung keadaan di negara
Masih segar dalam ingatan ketika 2 (dua) tahun lalu gempa bumi kuat mengguncang wilayah
Hudhur bersabda, pada tahun 1974 ketika pemerintah Pakistan menyatakan kaum Ahmadi sebagai non-Muslim mereka menuduh bahwa Rabwah dibangun untuk mendirikan pemerintahan sendiri. Tak sadarkah mereka kini: Adakah pemerintahan di Rabwah ? Ataukah contoh makar yang nyata di Sawat itu ? Kaum Ahmadi senantiasa menghormati hukum, bahkan meskipun tanah hak milik mereka dirampas pihak lain. Alih-alih melawannya dengan kekerasan, kaum Ahmadi menempuh jalur hukum. Akan tetapi, setelah berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun, Pengadilan Tinggi masih belum memberikan keputusan. Sementara itu, berbagai bangunan ilegal dibiarkan berdiri di atasnya. Ketika mereka diberi tahu masalah ini melanggar hukum dan pelecehan terhadap Pengadilan Tinggi, mereka menjawab, apa pedulimu. Ini tanggung jawab kami.
Hudhur bersabda, karena situasinya demikian, hal terburuk yang dapat terjadi adalah merajalelanya korupsi di setiap departemen di negara tersebut. Ini dikarenakan iman mereka sudah memudar, dan peringatan akan adanya Hari Pengadilan (Yaumid-Din) dianggap cerita belaka. Jika direnungkan, semua kekacauan, musibah dan gangguan yang tengah dialami negara tersebut dikarenakan mereka telah menolak Imam Zaman.
Hudhur bersabda, dalam situasi negara diberlakukan dalam keadaan darurat, Undang-undang dan Peraturan Negara dibatalkan. Namun, Undang-undang yang sangat buruk, yakni yang menyatakan kaum Ahmadi non-Muslim tetap dinyatakan berlaku. Hudhur bersabda, ketakutan mereka terhadap pihak yang dapat menyebarkan terror atas nama agama melebihi rasa takut mereka kepada Tuhan.
Hudhur menghimbau kita semua untuk mendoakan negara
Mereka tidak hanya memberlakukan berbagai Undang-undang yang aniaya, bahkan membiarkan kaum Ahmadi disyahidkan hanya dikarenakan mereka orang Islam-Ahmadiyah. Meskipun satu atau dua pengadilan telah digelar untuk kasus kriminal ini, namun selama Undang-undang tersebut masih diberlakukan, maka setiap pemerintahan yang berdiri, akan berpartisipasi dalam keaniayaan ini.
Hudhur bersabda, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Oleh karena itu, kita sampaikan kepada pemerintah
Hudhur bersabda, satu hal yang ingin beliau ingatkan kepada seluruh anak bangsa [
Hudhur bersabda, kami kaum Ahmadi demikian cintanya kepada negara
Hudhur kemudian mengomentari pernyataan seorang Anggota Parlemen Eropa, yang mengatakan agar jangan menghentikan bantuan untuk negara
Semoga Allah memberi karunia kepada negara ini. Bila pun ada beberapa pemimpin yang tidak berperasaan tidak dapat diperbaiki lagi, semoga Allah memberi negarawan yang baik, yang berkenan di hati; untuk itulah hendaknya setiap Ahmadi, khususnya Ahmadi Pakistani, baik yang tinggal di Pakistan maupun di luar negeri, agar mendokan hal ini.
Selanjutnya Hudhur menyinggung situasi di
Hudhur bersabda, kita menyaksikan kebenaran wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau'ud a.s.: "Aku akan sampaikan tablighmu ke seluruh pelosok dunia"; yang penggenapannya senantiasa lebih mulia dan bertambah-tambah lagi pada setiap harinya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan Jemaat. Yang perlu diprihatinkan adalah semoga Allah melindungi orang-orang Ahmadi dari segala keburukan. Hudhur bersabda, kaum Ahmadi di seluruh dunia harus senantiasa ingat, agar jangan main hakim sendiri. Akan tetapi juga jangan sampai lekang mengkhidmati manusia karena berbagai penentangan terhadap mereka. Dan tidak pula mengendurkan upaya pertablighan Dai Ilallah.
Hudhur bersabda, beberapa tahun yang lalu ketika gempa tsunami menyapu
Membacakan ayat 2 dan 154 Surah Al Baqarah, Hudhur bersabda, ayat-ayat ini memerintahkan kita agar kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati (tawadhu); karena berbagai penganiayaan ini hanya cobaan, yang memerlukan kesabaran dan istiqamah agar dapat terus merambah maju bergerak. Menghadapi berbagai cobaan ini kita tidak perlu meminta bantuan kekuatan duniawi, melainkan hanya kepada Allah Swt saja. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi keburukan. Pertolongan Ilahi segera datang dengan segala kebesarannya. Kemenangan nyata Jemaat ini adalah penggenapan kebenaran janji Ilahi, bahwa pada akhirnya Jemaat Ahmadiyah, Islam yang sejati inilah, yang akan unggul.
Membacakan ayat 48 Surah Ibrahim (14:48), Hudhur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya yakin, bahwa sesuai dengan janji Ilahi ini, pertolongan Allah senantiasa menyertai Jemaat yang dikasihi-Nya ini. Hudhur mendoakan, semoga para penentang kita tidak menjadi mangsa hukuman Allah Swt – sebagaimana dikemukakan oleh ayat ini – disebabkan oleh kedunguan mereka. Semoga mereka menyadari peringatan Ilahi ini.
Hudhur bersabda, boleh jadi mereka dapat menyusahkan kita untuk sementara waktu. Akan tetapi mereka sekali-kali tidak akan berhasil merampas ketenteraman hati dan ketenangan pikiran sebagai buah karunia keimanan kita. Kita senantiasa memohon bantuan Allah dan berdoa, "ihdinaa shiratal mustaqiim", tunjukilah kami jalan yang lurus. Tidak menunjukkan ketergesa-gesaan. Karena tugas kita-lah untuk memperlihatkan sikap sabar yang tinggi, sehingga kita menjadi pewaris berbagai karunia Allah Swt.
Setelah membacakan ikhtisar berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Hudhur mengakhiri Khutbah dengan doa, semoga Allah memudahkan setiap diri kita untuk tetap melangkah di jalan ketakwaan, dan senantiasa memahami missi Ahmadiyyah, Islam yang sejati, sesuai dengan ajaran dan harapan Hadhrat Masih Mau'ud a.s..o (Ahmadiyya.us/Alislam.org/Abunaweed.blogspot.com/Rahmatali.web.id/LB)
Comments