Fundamentalis yang Dogmatis dan Nihilis
Hmm, semakin kuat aja deh, tarik menarik di Indonesia antara Islam kekinian menurut konteks mainstream Wahabi dengan yang diwakili NU, Muhammadiyah dan Ahmadiyah. Apalagi setelah melihat beberapa comments pada postingan Kampung Sunnah.
Apapun, KINI, saya kutip dari FPN (saya Redaktur-nya lho!), jumlah kaum Muslinin Indonesia sebesar 89 persen, menurut BPS. Tetapi, dengan kualitas pemahaman yang rendah. Maka oleh suatu tekanan ekonomi, akan dengan mudah mendorong mereka ke arah aliran fundamentalis yang nihilis. Bersifat ad-fontes (kembali ke sumber), artinya selalu menengok ke belakang ke zaman Madinah-awal dengan penafsiran harfiah. Jelas suatu langkah berbahaya yang muskil.
Dunia tengah bergerak maju ke depan kepada rasionalitas baru untuk menciptakan realitas kehidupan yang lebih adil dan sejahtera, kita berjalan mundur ke belakang dengan imajinasi mitologis transenden masa lalu yang dogmatis dan nihilis. Sudah tentu, kita akan kalah selamanya. Sebagai bangsa, kita tidak ingin ideologi fundamentalis yang a-history, mendistorsi ideologi dan kesejarahan bangsa kita.
Tuhan bersifat intrinsik, bukan ekstrinsik. Tuhan bukan organisme yang terikat ruang dan waktu, melainkan al-Ghaib yang transenden yang tidak terikat ruang dan waktu. Betapapun transendensi adalah imajinasi keilahian yang sepenuhnya immaterial yang indikator terpentingnya adalah ruh. Barat mengartikan ruh dengan jiwa (soul). Saya kira ruh lebih dekat dengan pengertian intelijensia yang fungsi dan keberadaannya bersifat sentral. Secara kolektif intelijensi manusia adalah kemahakuasaan yang dahsyat.
Fakta keilahian yang intrinsik adalah intelijensia yang memberikan makna dan martabat tertinggi eksistensi manusia. Ini memberikan konsekwensi estetis yang transenden, artinya ketika kita berbuat kebajikan kepada manusia lain, sesungguhnya kita tengah berbakti kepada Tuhan yang ada dalam diri manusia itu. Inilah estetika keilahian yang membuat agama menjadi entitas kedamaian, bukan seperti yang dikembangkan sekarang dimana agama menjadi entitas penuh permusuhan dan kekerasan, arabisme, europianisme, yudaisme, a-sosial, anti budaya dan anti-kemanusiaan.
Bagaimana?
Comments