manakala suatu pemerintahan politik mengalami kegagalan, maka rakyatlah yang mesti banyak beristighfar
“MANAKALA suatu pemerintahan politik dianggap mengalami kegagalan, maka rakyatlah yang mesti banyak beristighfar, sebab merekalah yang telah memilih melalui proses yang legal. Karena itu rakyat tak perlu mengeluarkan kata-kata kasar maupun menyerang kewibawaan orang-orang pilihannya.
“Manakala kita memilih seseorang, setelah berdoa kepada Allah, artinya kita meyakini bahwa pilihan kita itu adalah atas petunjuk-Nya, artinya sekali kita mengecam maupun menyerang kewibawaannya itu bermakna kita meragukan makna pengabulan doa kita sendiri, dan mengecam pilihan-Nya. Manakala seseorang memutuskan 'potong kompas' dalam menghadapi masalah yang semestinya orang-orang pilihan itu yang mengatasinya itu artinya ia telah meninggalkan sama sekali Tuhannya yang kepada-Nya ia berdoa tatkala akan mengacungkan tangannya pada saat pemilihan.
“Kita memang tengah menghadapi masa-masa ujian dan Rasulullah SAW bersabda bahwa jihad yang paling besar adalah berupaya mengatasi hawa nafsu. Bagi saya pribadi, jihad yang paling besar saat ini adalah berupaya memahami dan mengamalkan apa yang menjadi keputusan Jemaat pada saat hal itu mungkin bertentangan dengan kalkulasi yang saya buat maupun asas-asas logika yang saya susun. Bila seseorang beriman kepada Allah ia tidak akan mengambil jalan pintas; bila seseorang benar-benar beriman kepada Allah, ia akan berdoa kepada Allah agar Dia membimbing orang-orang pilihan itu sesuai dengan Hikmah-Nya.
“Ketika seseorang menghadap Rasulullah dan mengeluhkan kesulitan yang dialaminya akibat keimanannya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda yang maknanya, bersabarlah, di masa lalu ada orang-orang yang digergaji hidup-hidup dan disisir dengan sisir besi dalam keadaan hidup, ada pula yang kakinya diikatkan kepada dua ekor kuda yang berbeda lalu kuda itu dipacu sehingga orang itu meregang nyawa dalam keadaan tubuhnya tercabik, namun mereka tetap teguh memegang keyakinan mereka.
“Pembicaraan saat ini bukan hanya masalah terminologi melainkan masalah keimanan kita sendiri. Ujian itu adalah untuk kita dan kita yang harus menjalankannya. Jemaat tidak akan mengalami kerugian apabila ada yang memilih jalan seperti yang dilakukan Saudara-saudara kita dari golongan Lahore, maupun dari golongan Syiah yang memilih taqiyya dalam keadaan-keadaan tertentu. Tapi, bila ini diperbolehkan, tentu tak akan ada Bilal, dan para syuhada itu.
“Seorang utusan Allah berbicara dengan bahasa fitrat, bahasa kebenaran. Terima kasih, jzkmllh.ahsnl.jz..” ;-)
“Manakala kita memilih seseorang, setelah berdoa kepada Allah, artinya kita meyakini bahwa pilihan kita itu adalah atas petunjuk-Nya, artinya sekali kita mengecam maupun menyerang kewibawaannya itu bermakna kita meragukan makna pengabulan doa kita sendiri, dan mengecam pilihan-Nya. Manakala seseorang memutuskan 'potong kompas' dalam menghadapi masalah yang semestinya orang-orang pilihan itu yang mengatasinya itu artinya ia telah meninggalkan sama sekali Tuhannya yang kepada-Nya ia berdoa tatkala akan mengacungkan tangannya pada saat pemilihan.
“Kita memang tengah menghadapi masa-masa ujian dan Rasulullah SAW bersabda bahwa jihad yang paling besar adalah berupaya mengatasi hawa nafsu. Bagi saya pribadi, jihad yang paling besar saat ini adalah berupaya memahami dan mengamalkan apa yang menjadi keputusan Jemaat pada saat hal itu mungkin bertentangan dengan kalkulasi yang saya buat maupun asas-asas logika yang saya susun. Bila seseorang beriman kepada Allah ia tidak akan mengambil jalan pintas; bila seseorang benar-benar beriman kepada Allah, ia akan berdoa kepada Allah agar Dia membimbing orang-orang pilihan itu sesuai dengan Hikmah-Nya.
“Ketika seseorang menghadap Rasulullah dan mengeluhkan kesulitan yang dialaminya akibat keimanannya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda yang maknanya, bersabarlah, di masa lalu ada orang-orang yang digergaji hidup-hidup dan disisir dengan sisir besi dalam keadaan hidup, ada pula yang kakinya diikatkan kepada dua ekor kuda yang berbeda lalu kuda itu dipacu sehingga orang itu meregang nyawa dalam keadaan tubuhnya tercabik, namun mereka tetap teguh memegang keyakinan mereka.
“Pembicaraan saat ini bukan hanya masalah terminologi melainkan masalah keimanan kita sendiri. Ujian itu adalah untuk kita dan kita yang harus menjalankannya. Jemaat tidak akan mengalami kerugian apabila ada yang memilih jalan seperti yang dilakukan Saudara-saudara kita dari golongan Lahore, maupun dari golongan Syiah yang memilih taqiyya dalam keadaan-keadaan tertentu. Tapi, bila ini diperbolehkan, tentu tak akan ada Bilal, dan para syuhada itu.
“Seorang utusan Allah berbicara dengan bahasa fitrat, bahasa kebenaran. Terima kasih, jzkmllh.ahsnl.jz..” ;-)
--Mln A.M.A. Tou, Mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia bertugas sebagai Kepala Kantor & Staf PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia