Tragedi Pelarangan Bedah Buku

Metro View | Sabtu, 5 Mei 2012 17:31 WIB
Suryopratomo

SALAH satu ukuran keberhasilan Indonesia dalam membangun demokrasi yang
dipuji banyak negara adalah kebebasan berekspresi. Itulah yang salah satunya
disampaikan Perdana Menteri Inggris David Cameron saat berkunjung ke
Indonesia.

Dengan kebebasan berekspresi memang suasana dirasakan menjadi lebih
ingar-bingar. Namun keriuhan itu baik untuk memunculkan berbagai pendapat
dan pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat. Pada akhirnya ide-ide
itu akan memperkaya dan membawa kita ke dalam konsensus yang bermanfaat bagi
bangsa.

Kita tentu kaget ketika muncul hal-hal yang bertentangan dengan kebebasan
berekspresi. Apalagi pelarangan itu bukan didasarkan atas hal-hal yang
rasional, tetapi atas prasangka yang tidak masuk akal.

Acara yang diselenggarakan di Teater Salihara adalah bedah buku karya
perempuan penulis asal Kanada Irshad Manji. Komunitas Salihara ingin
mengetahui pemikiran yang mendasari Manji untuk menulis buku berjudul,
"Allah, Liberty, dan Love".

Tanpa mengetahui isi dari buku yang ditulis, Kapolsek Pasar Minggu, Kompol
Adry Desas Puryanto meminta acara dibatalkan karena ia mendapat informasi
bahwa acara diselenggarakan para waria. Ketika diketahui bahwa acaranya
adalah bedah buku, maka pelarangan didasarkan oleh pembicara yang orang
asing.

Yang lebih membuat kita prihatin adalah pelarangan didasarkan atas tekanan
kelompok masyarakat tertentu. Polisi bukan mencoba memberikan penjelasan
yang benar kepada kelompok masyarakat itu, tetapi justru ikut kepada tekanan
kelompok yang intoleran.

Cara intimidasi yang dilakukan polisi, termasuk kepada penulis buku, jelas
menimbulkan citra yang buruk. Padahal kalau memang dasar yang mereka
pergunakan adalah aturan hukum, soal perizinan, maka pelarangan akan lebih
elegan.

Namun kerusakan sudah terlanjur terjadi. Citra Indonesia sebagai negeri yang
sedang membangun demokrasi, dirusak oleh sikap aparat penegah hukum dan
kelompok masyarakat yang memaksakan kehendak. Cerita ini pasti akan cepat
menyebar ke seluruh dunia.

Untuk merusak citra memang cukup dilakukan dalam waktu yang sekejap. Padahal
untuk membangun persepsi bahwa kita negara yang mampu membangun demokrasi,
bahkan menunjukkan kepada dunia bahwa demokrasi tidak berseberangan dengan
Islam, membutuhkan waktu yang begitu panjang.

Sudah 14 tahun kita bersama-sama mencoba membangun sistem demokrasi. Dengan
susah payah kita mencoba memberi pemahaman mengenai nilai-nilai demokrasi
yang harus menjadi sikap dan perilaku kita. Secara bersamaan kita mencoba
menunjukkan kepada dunia bahwa kita di dalam jalur yang benar dalam
membangun demokrasi.

Dalam demokrasi yang harus menjadi dasar dari kita semua adalah kesetaraan.
Nilai kebenaran tidak didasarkan oleh suara terbanyak, apalagi suara yang
vokal. Kebenaran itu justru bisa datang dari mereka yang termarjinalkan.
Negara harus hadir untuk membela mereka yang termarjinalkan itu.

Aparat negara seperti polisi seharusnya membela kelompok yang tidak berdaya.
Bukan malah memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk menunjukkan
kekuatan, mengumbar kekerasan. Mereka dibiarkan untuk menyelesaikan
perbedaan dengan pemaksaan.

Kalau kita ingin berhasil membangun demokrasi, maka kita harus meninggalkan
cara kekerasan. Setiap perbedaan yang terjadi harus diselesaikan melalui
dialog. Ketika proses dialog tidak membawa hasil, maka jalur hukumlah yang
harus menjadi pegangan dalam penyelesaian persoalan.

Apa yang diperlihatkan di Teater Salihara berlawanan arah dengan upaya kita
membangun demokrasi. Kalau kita biarkan semua ini berlalu begitu saja, maka
kita tidak pernah akan bisa mencapai demokrasi seperti yang dicita-citakan.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua. Harus ada upaya yang
sungguh-sungguh dari kita untuk meninggalkan cara-cara kekerasan. Apalagi
kekerasan yang dilakukan aparat negara, yang seolah-olah menggunakan hukum,
padahal mereka sedang mempertontonkan cara-cara yang melawan hukum.

Langkah yang mereka lakukan untuk menyelamatkan kehidupan bukanlah bukan
seperti itu. Terapkanlah penegakan hukum sesuai aturan hukum yang memang
seharusnya mereka tegakkan.[]

--
http://www.metrotvnews.com/read/tajuk/2012/05/05/1126/Tragedi-Pelarangan-Bedah-Buku/tajuk

0 komentar:



السّلام عليكم و-ه [AsslmlKm w.w.]. Selamat datang di blog saya yang sederhana ini, dan terima kasih atas kunjungan, serta isian komentar-komentar maupun “Like This” Anda. جـــزاكم الله أحـــسن الجـــزآء [JzKml-Lh ahsnl-jz].[] ^_^

Jakarta, 1 Desember 2010

Rahmat Ali

Create Your Badge